Kamis, 21 April 2011

Land Life - cerbung eps.4 part #1

unexpected meeting ... 

    "when you look me in the eyes, and tell me that you love me, everything's alright, when you're right here by my side, when you look me in the eyes, i catch a glimpse of heaven, i find my paradise, when you look me in the eyes ..."
  Alunan lirik lagu When You Look Me In The Eyes menarik perhatian Alen yang tengah melewati halaman belakang yang hijau. Selama beberapa menit ia terus mempertajam pendengarannya, mendengarkan dari mana asal suara itu. Tepat ketika ia berdiri di bawah pohon, suara itu terdengar begitu jelas, merdu juga, ujarnya dalam hati, ia menengadahkan wajahnya menatap ke atas dan alangkah terkejutnya ia mendapati seorang lelaki tengah tertidur di atas pohon sambil menyenandungkan lagu itu.
    "when you look me in the eyes .. ooh ..." selesai, lelaki itu membuka matanya yang sedari tadi terpejam.
    "Hei! Lo siapa??" tanya Alen sembari berteriak.
  Lelaki itu menoleh dan membenarkan posisinya menjadi duduk bergantung "Hai, gwe Pio, lo siapa?"
  Ganteng sih, cuman rambutnya di belah tengah, pake kacamata pula, kancing bajunya dikancingin semua, iih culun banget sih, gumam Alen dalam hati "Gwe Alena!" serunya.
    "Ooh .." gumamnya dan kembali membaringkan tubuhnya "Ngapain lo disini?"
    "Suka-suka gwe dong, inikan bukan tempat lo! Lagian lo juga ngapain tiduran disitu? Kaya orang utan tau engga sih!" seru Alen sambil duduk dibawah pohon itu, dengan kepala tetap menengadah ke atas.
    "Suka-suka gwe juga .."
    "Eh tadi suara lo bagus tuuh, nyanyiin lagi dong lagu Jonas nya!" pinta Alen tanpa basa basi babi busuk.
  Mata Pio kembali terbuka dan menoleh kembali ke arah Alen yang tengah terduduk manis sambil tersenyum "Nyanyi bareng aja" tanggap Pio kembali memejamkan matanya.
  Alen tersenyum "Ok!" serunya bersemangat "If the heart is always searching, can you ever find a home? I've been looking for that someone, I'll never make it on my own, dreams can't take the place of loving you, theres gotta be a million reasons why it's true ..."
  Pio membuka mulutnya, siap menyenandungkan lagu itu "when you look me in the eyes, and tell me that you love me, everything's alright, when you're right here by my side, when you look me in the eyes, i catch a glimpse of heaven, i find my paradise, when you look me in the eyes ..."
  Mereka berdua mulai bersenandung ria "How long will I be waiting, to be with you again, gonna tell you that I love you, in the best way that i can, i can't take a day without you here, you're the light that makes my darkness disappear ..."
  Terus dan terus menyenandungkan lagu itu, membuat mereka lupa waktu, membuat mereka lupa siapa mereka. Istirahat ke 3 itu begitu menyenangkan untuk Alen, walaupun ia baru pertama kalinya bertemu dengan orang seperti Pio, namun ia merasa excited and enjoy with him.
    "When you look me in the eyes ... oooh .." akhirnya alunan lagu itu berhenti.
    "Yeeee!! Hebaat!!" sorak Alen gembira sambil bertepuk tangan, serasa ia telah bernyanyi bersama Jonas Brothers "Suara lo bagus deh!" lanjutnya lagi "Oia, lo kelas berapa?" tanyanya, mulai terbuka dengan Pio.
    "11 IPA" jawabnya singkat.
  Alen manggut-manggut walau hatinya sedikit dongkol, "Kapan-kapan kita nyanyi bareng lagi ya, gwe mau ke kelas" ujarnya "Sampe ketemu dilain waktu .." sambungnya dan pergi meninggalkan Pio yang masih menutup matanya.
*** 

    "Asyaaa!! Mimiiin!!" teriaknya seraya menghampiri kedua orang itu dengan wajah yang riang "Kalian berdua tau engga sama anak yang namanya Pio? Anak kelas 11 IPA!!" serunya bersemangat. 
  Kedua orang yang ditanya itu saling berpandangan, menanyakan secara tersirat siapa yang dimaksud Alen "Siapa Al? Pio? Baru denger sekarang deh!" seru Asya sambil membenarkan posisi kacamatanya. 
    "Ia Al, Pio? P-I-O kan? Hahaha, gwe kaga tau, tanya aja sama guru-guru, ada yang tau mungkin" komentar Hermina "Emang siapasih? Gebetan baru?" tanyanya. 
  Alen meringis ketika mendengar kata GEBETAN, wajah culun gitu gebetan gwe? engga mungkin deh!, serunya dalam hati "Bukan bukan!!" serunya gusar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. 
    "Teruuuussss??" tanya Asya dan Hermina berbarengan. 
    "Tadi gwe nemuin dia di halaman belakang, terus dia lagi nyanyi-nyanyi lagu Jonas Brothers sembari tiduran di atas pohon, ya akhirnya kita kenalan dan nyanyi bareng deh, suaranya bagus looh, merduuu!!" jawab Alen ceria sambil mengingat kejadian tadi "Dia sama gwe nyanyi lagu yang When You Look Me In The Eyes, keren banget, serasa gwe nyanyi sama Jonas Brothers asli!!" sambungnya lagi. 
    "Mimpi kali lu ah! Halaman belakang kan jarang ada orang, jangan-jangan yang nyanyi sama lo tuh hantu lagi!" tukas Hermina kembali mencomot snack yang dipegang Asya. 
    "Ia Al, halaman itu kan jarang dilewatin orang-orang!" Asya menyetujui "Hei, hei, hei jangan diabisin!" lanjutnya ketika melihat Hermina mencomot kembali snacknya. 
    "Engga engga! He's real, dia itu nyata tau!! Emang sih culun tapi dia nyata koq, bukan halusinasi gwe dan bukan hantu!" kilah Alen sambil mengerutkan dahinya, tidak setuju dengan apa yang dikatakan kedua sahabatnya. 
    "Terserah lo deh!" sahut Hermina seraya memberikan bungkus snack kosong ke tangan Asya. 
    "Jangan-jangan lo bener-bener suka lagi sama dia, when you look me in the eyes, pandangan pertama, haha ..." tanggap Asya dan memasukkan tangannya kedalam bungkus snack kosong itu "MIMIN!! Snack gwe!!" teriaknya dan detik kemudian menimpuk Hermina dengan buku yang ada didepannya. 
  Alen menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Asya dan Hermina. Enggalah, engga mungkin banget gwe suka sama orang itu, si PIO, haha .. kalau gwe sampe suka sama dia itu kalau mata gwe udah buta kali yaa, masa gwe mau sih sama orang culun itu?!, serunya dalam hati. "Gwe cabut duluan ya, mau ke kelas ka Jo!" 
    "Mau ke Jo atau mau ketemu ama sang mantan???" tanya Kesya, tiba-tiba muncul dibelakang Hermina dan Asya, mengejutkan Alen dan sesaat kemudian tatapan mereka beradu. Alen melontarkan tatapan sangar dan tajam, sedangkan Kesya memasang tatapan merendahkan. 
     "Heh nensi jangan so tau deh jadi orang!! Dan terserah gwe dong kalau seandainya gwe mau ketemu sama SANG MANTAN gwe juga! Engga ada urusannya sama lo!" tukas Alen dengan nada tajam dan dingin. 
  Kesya tersenyum meremehkan dan berjalan kehadapan Alen "Oyeah?!" tanyanya sambil mendorong bahu Alen "Gwe rasa ini jadi urusan gwe, lo tau? Gera itu UDAH JADI PACAR GWE DAN ITU ARTINYA LO JANGAN PERNAH DEKETIN DIA LAGI!!" sembur Kesya didepan wajah Alen. 
    "Oh gitu ya? Lo jadian sama orang yang keserang penyakit MUNTABER itu?! Selamat deh, gwe turut berduka cita atas jadiannya lo dengan Gera, soalnya apa ya? Setipelah lo sama dia, lagian gwe yang putusin Gera koq, engga ada penyesalan sedikitpun dihati gwe dan gwe tau sendiri koq kalau lo ngerebut si Gera dari gwe! Keren banget ya usaha lo, gwe kasih nilai 100 deh!" tanggap Alen dingin dan tersenyum kecut "Emmh, kayanya lo nya aja yang nyangka aneh-aneh deh, orang gwe mau ketemu sama ka Jo, bukan sama si muntaber itu, so lo gausah bentak-bentak gwe kaya gini ya, gwe engga ada urusan sama lo, so bisa minggir dari jalan gwe?!" 
 Kesya menatap tak percaya, mulutnya ternganga mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Alen, bener-bener menusuk di hati dan ngebuat dongkol segede Mount Everest. "Heh, lo diajarin sopan santun engga sih sama orang tua lo? Ooh ibu lo engga ngajarin ya? Apa jangan-jangan lo dari anak yang broken home? Anak angkat mungkin? Atau mungkin anak haram? Hahahaa, pantes aja kaya gini!! BAD!" 
 Alen menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya, matanya memerah, menahan perih yang mengiris di dada, ia menghampiri Kesya dengan nafas memburu dan plak! Satu tamparan mendarat di pipi Kesya "Seenaknya ya lo ngomong kaya begitu?! Lo engga liat diri lo kaya gimana? Liat dulu dong diri lo sendiri! Emang diri lo UDAH BENER? Justru seharusnya gwe yang nanya gitu sama lo, lo anak siapa sih? Jadi kakak kelas koq engga pernah bisa nyontoin yang bener? Dan satu hal yang harus lo tau! GWE BUKAN ANAK BROKEN HOME, GWE BUKAN ANAK HARAM!!" sentak Alen dengan wajah yang memerah, amarahnya memuncak ketika melihat Gera tengah berdiri dibelakang Kesya "Muntaber! Urusin tuh pacar baru lo yang omongannya engga bisa dijaga! Omongan kaleng rombeng, omongan tong kosong, omongan orang yang engga punya hati, omongan orang yang engga seharusnya ada disekolah ini, omongan orang YANG ENGGA BERPENDIDIKAN!! Urusin tuh pacar lo!!" sentaknya lagi, nafasnya masih terengah-engah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, ketika ia hendak berlari meninggalkan orang-orang yang berkerumun tengah menonton pertunjukan indah tadi, Jo datang dengan wajah tegas dan dingin, menatap tajam ke arah Kesya. Alen langsung berlari menghampiri Jo dengan air mata yang terus meluncur dan mendarat di pipinya.
     "Lo engga berhak bilang kaya gitu ke adik gwe! Kalau lo bilang kaya gitu, berarti sama aja lo ngehina gwe! Lo engga tau apa? IBU GWE UDAH MENINGGAL DAN ITU SEMUA BIKIN ADIK GWE SAKIT HATI, SAMPE DETIK INI PUN DIA MASIH SAKIT HATI!! Omongan lo emang engga bisa dijaga! Udah sepantasnya lo dapet tamparan dari adik gwe, hati anak mana yang engga sakit di teriakin kaya gitu didepan banyak orang? FIKIR DULU KALAU MAU NGOMONG!!" sentak Jo, menambah kerumunan yang menonton pertunjukan indah itu "Sekali lagi lo nyakitin adik gwe lo bakalan tau akibatnya! Dan jangan sekalipun lo nyangka adik gwe mau nyamperin cecunguk dibelakang lo itu! Kalau lo emang mau si Gera ambil aja! Adik gwe engga pantes buat dia! Makan sama lo!" lanjutnya lagi sambil membawa pergi Alen meninggalkan tempat itu. 
  Alen masih menangis tersedu-sedu, matanya benar-benar sembab dan merah. Ia masih memeluk Jo dengan erat, hatinya bagai ditikam oleh beribu kampak besar. Berkelebatlah memori menyedihkan itu, memori dimana Alen menemukan jasad ibunya yang telah kaku, yang berwajah dingin, bisu dan memejamkan mata untuk selamanya. "Terus tumpahin kesedihan kamu, kakak setia nemenin kamu sampai kapanpun, kakak masih disini, masih ada disamping kamu ..."
*** 

 Ibu, engkaulah hidup dan matiku, engkaulah belahan jiwaku, engkaulah penenang hatiku, engkaulah penyejuk jiwaku, engkaulah penerang hari-hariku. "Bu, Alen masih disini, ibu pasti udah bahagia ya di surga? Bu, Alen kangen sama ibu, Alen bener-bener pengen ketemu sama ibu walau hanya dalam mimpi bu" gumamnya sambil menatap photo ibunya yang tengah tersenyum bahagia. 
    "Ibu lebih bahagia kalau kamu engga nangis sayang .." tanggap Jo sambil duduk disebelah Alen "Disana ibu berharap kamu bahagia walau tanpanya, ibu akan menangis jika melihat anaknya terus terpuruk seperti ini" sambungnya seraya menatap wajah Alen. 
  Alen tersenyum kecut dan mendekap photo itu "I know, tapi semua ini begitu sulit ka, susah untuk dilupakan, selalu saja menjadi memori terperih dihati Alen!" seru Alen, buliran air mata mulai meluncur di pipinya "Seseorang yang benar-benar disayangi kenapa harus diambil duluan? Kenapa engga yang lain aja? Jangan ibu! Kenapa engga ambil si Kesya aja?!" 
    "Stssstt .. Engga boleh begitu, gimanapun ini udah takdir Al, kematian akan datang pada setiap orang, entah kapan datangnya, selalu menjadi misteri, kematian engga bisa di undur-undur atau di percepat, kalau waktunya udah datang maka orang itu akan mati, sama seperti ibu, siapa juga yang mau kehilangan ibu? Engga ada kan? Itulah cobaan sayang, Tuhan telah mencoba kita, bukannya kamu sendiri tau kamu, kakak, ayah dan yang lainnya akan mati? So engga usah terpuruk kaya gini Al, 6 bulan sudah ibu meninggalkan kita, apakah kamu akan tetap seperti ini? Selalu menangis ketika mendengar kata IBU?!" 
  Alen menundukan kepalanya "Tapi ka ..." 
  Jo tidak membiarkan Alen menyelesaikan perkataannya "Sulit? Itukan? Cobalah dengan perlahan sayang, perlahan saja, maka kita akan terbiasa! Kakak yakin kamu bisa, kamu engga perlu berusaha sekuat tenaga melupakan semua kenangan tentang ibu, toh semua itu akan tetap ada di hati kamu, akan bersemayam di hati kamu, intinya kamu harus belajar menerima semua ini dan menguatkan diri kamu seperti ketika ibu masih ada disini ..." gumamnya "Percayalah kamu bisa Al, kakak percaya sama kamu, bener-bener percaya ..." sambungnya seraya memeluk Alen. 

*to be continue 

1 komentar: