Lagu Falling Slowly mengalun-ngalun di kamar bernuansa cool itu. Ia menatap langit-langit kamarnya, dibenaknya wajah yang sedari tadi cemberut, bibir yang sedari tadi mengkerucut, membuatnya tersenyum. "Sadar ga sadar gwe mungkin mulai tertarik sama lo" gumamnya, lalu mulai mengikuti iringan music yang tengah di dengarnya. Sedangkan di tempat lain ...
Ia tengah berdiri memandangi bintang yang berpendar-pendar di balkon kamarnya, bajunya telah ia ganti, namun jacket itu masih tetap ia kenakan, bibirnya tersenyum tipis "Gwe rasa gwe masih terlalu gengsi buat suka sama lo, tapi kita liat aja, apakah gwe masih tetep bakalan pertahanin gengsi gwe apa mungkin gwe bakalan jatuh cinta sama lo, haah dasar culun .." gumamnya "Tapi gwe engga akan pernah takut untuk jatuh cinta sama lo!" sambungnya seraya masuk ke dalam kamar.
***
"Ka Jooooo!!" teriak Alen sambil berlari terbirit-birit mengejar Jo yang tengah masuk ke dalam mobil.
Jo menoleh "Apa? Mau bareng?" tanyanya berentetan. Alen menjawab dengan anggukan sambil menaik turunkan halisnya "Oke, masuk" sambungnya. Alen segera bergegas memasuki mobil Jo "Jaket siapa tuh? Perasaan kenal deh" tanya Jo menelisik, ketika ia menyadari ada sesuatu yang berbeda yang terpasang dibadan Alen.
"Eh anu ini anu itu ini ..." jawab Alen gelagapan, enggan memberi jawaban kalau ini Jaket milik Pio.
"Anu ini itu, jawab yang bener Al" singgung Jo sambil tersenyum geli.
"Yang orang, orang orang yang baik" akhirnya jawaban itulah yang muncul dari mulut Alen.
Jo tersenyum tipis "Giospio Mozart kan?" tanya Jo dengan so cool *emang udah cool siih*.
Alen terkesiap mendengarkannya "Kata siapa? Sotoy banget jadi orang!" elaknya.
"Gausah bohong sama kaka, kaka kenal sama dia!" tukas Jo "Ada apa niih? Ehem ehem ..." sambungnya.
Alen hanya diam, ia bergelut dengan hatinya tepatnya dengan perasaannya. "Kenapa diem? Aaaaahh ada sesuatuuu pastinya" goda Jo sambil tersenyum bahagia, sudah lama ia tidak bercanda seperti ini apalagi sampai membuat si cerewet Alen terdiam "Jaaaah wajahnya meraaah" sambungnya lagi.
Alen menoleh ke arah Jo, bibirnya mengerucut, pengen banget gwe jawab tapi dalam hal ini gwe lebih milih diem, gumamnya dalam hati. "Masih diem juga nih tumben, biasanya juga meracau bagaikan burung kakatua yang hinggap di jendela nenek sudah tua giginya tinggal dua ... " ujar Jo.
"Aduuh mas itu nyanyi apa mau komentar?" tanya Alen sambil tertawa terbahak-bahak.
"Mancing kamu biar ngomong, ahaaaaa 2 - 0 " jawab Jo nakal.
Alen membelalakan matanya "Apaan tuh 2 - 0? Udahlah ka stop jangan ngomongin yang kaya begituan, engga penting banget sih!" seru Alen ketus.
Jo kembali tersenyum "Ada yang mau lari dari masalah nih" ledeknya, tak habis-habisnya ia membuat Alen kesal dan malu.
"Pio bukan siapa-siapa Alen ka, just friend u know JUST FRIEND" ungkapnya dengan nada yang keras sembari didekatkan ditelinga Jo.
"Weits biasa dong, terus kenapa kalau J-U-S-T-F-R-I-E-N-D koq jaketnya masih dipake? Pasti ada apa-apanya ini, iyakan? Ngaku aja Al" goda Jo.
Alen kembali terdiam, ia langsung membuka jaket Jo dan ia dekap di dada "Jiah sekarang didekap di dadam ya ampuuun saking sayangnya sama pacar baru, cieeee" goda Jo lagi lagi dan lagi.
"Demi apapun Alen engga ada apa-apa sama dia ka, udahdeh ka gausah usut-usut yang kaya begituan, bikin ngenes aja! Gimana coba kalau Alen beneran jadian sama dia? Kakak mau tanggung jawab? Kakak mau apa punya adik ipar seculun dia?" cerocos Alen kesal.
Kini Jo hanya tersenyum, ia enggan untuk menjawab pertanyaan Alen yang satu ini, karna ada sesuatu yang tak diketahui Alen.
Alen keluar dari mobil Jo dengan tampang sebal "Pagi-pagi gini udah di gendokin orang, kakak sendiri lagi, dasar jaket sialan!" gumam Alen sambil menjejalkan jaket milik Pio kedalam ransel abu-abunya. Ia berjalan gontai menuju kelas, ia melirik jam tangannya "Masih pagi, jam segini anak-anak belum pada dateng, yang pastinya udah dateng itu anak-anak kelas 12" gumamnya lagi. Ada satu kegiatan yang melintas dibenaknya, ia segera berlari menuju kelas dan menyimpan tas, lalu mengambil jaket Pio, iPod Touch nya dan berjalan menuju halaman belakang.
Disana, di halaman belakang itu masih sepi, memang dari dulu sepi, engga sepi karna ada Pio sang penghuni ditambah Alen yang kena virus nongkrong di halaman belakang. "Haah, hantu bersuara jernih itu belum dateng" ujar Alen sambil memasang Headset iPod- nya, mulai mengalunlah lagunya Richard Marx - Right Here Waiting ditelinganya, lagu itu dikhususkan oleh Marx untuk istrinya tercinta yang tengah syuting film di Afsel. "Oceans apart day after day and I slowly go insane, I hear your voice on the line but it doesn't stop the pain, if I see you next to never how can we say forever ...wherever you go whatever you do, I will be right here waiting for you, whatever it takes or how my heart breaks, I will be right here waiting for you ..." mulut Alen berkomat-kamit, mengalunkan lirik demi lirik yang ia dengar, perlahan matanya mengatup, namun bibirnya belum berhenti melantunkan lirik demi lirik dan tanpa ia sadari, sang hantu pemilik suara jernih itu telah datang dan tersenyum ketika ia mendapati orang itu tengah terduduk bersandar di pohon sambil melantunkan sebuah lagu, dan selebihnya ia mendekap jaketnya.
Pio tetap berdiri, ia enggan untuk memanjat pohon yang tengah di sandari oleh Alen, takut orang cantik itu terganggu. Akhirnya ia hanya berdiri, mendengarkan suara Alen yang lumayan, ia tau itu lagunya Richard Marx namun ia lupa lirik pertamanya, sehingga ia hanya mendengarkan sambil sesekali mengulum senyumnya. "Wherever you go whatever you do, I will be right here waiting for you, whatever it takes or how my heart breaks, I will be right here waiting for you ..." itulah lirik terakhir, Alen membuka kembali matanya dan ia terkesiap ketika ia mengetahui sosok hantu bersuara jernih itu telah berdiri di hadapannya. "Sejak kapan lo disini?" tanya Alen seraya melepaskan Headset- nya.
"Sejak tadi gwe diem disini, gwe dengerin lo, emang kenapa?" jawab Pio sambil menaiki pohon yang sekarang boleh ia panjat karena tidak disandari makhluk cantik itu lagi.
"Dasar monyet culun! Nih jaket lo, makasih atas pinjamannya!" seru Alen sambil melempar jaket hitam itu ke atas pohon dan berlalu meninggalkan Pio.
Pio mengintip dibalik rerimbunan daun yang kini mulai lebat "Dasar cewe, maunya apasih?" tanya Pio, sebenarnya ia menggumam namun begitu terdengar ditelinga Alen, ia hanya tersenyum dan meneruskan langkahnya. Dalam lubuk hati Alen ingin sekali ia mengatakan pada teman-teman atau lebay nya DUNIA bahwa ia SENANG! Kenapa? Karena ternyata nyanyiannya didengarkan oleh Pio, namun ia masih terlalu egois untuk mengatakan itu semua.
"Asiik nih ada yang engga kesiangan, pasti bareng sama Kak Jo yaa?" tanya Hermina sambil menarik rok Alen.
Alen hanya menjawab dengan senyuman, ia masih terbawa suasana indah di halaman tadi "Sebenernya gwe kepingin lama-lama, tapi gwe malu, jual mahal doong" ujarnya dalam hati.
"Heh, lo kenapa sih senyam senyum gitu? Kesamber setan apaan pagi-pagi begini?" tanya Hermina penasaran. Alen masih tetap menjawab dengan senyuman, akhirnya Hermina menyerah dan lebih memilih untuk menyampaikan 2 berita besar untuk hari ini "Al, ada 2 berita untuk hari ini, bad news and good news" sambung Hermina berhasil menyita perhatian Alen, tanpa basa babi busuk lagi dia langsung melanjutkan pembicaraannya "Bad news for today adalah si Asya sakit sis!"
"Dia sakit apa? Apa gara-gara kemaren gwe sentak?" tanya Alen cemas dan khawatir.
Hermina menggeleng "Dia kecapean doang, perlu istirahat selama 3 hari penuh, rencananya pulang sekolah ini gwe mau jenguk dia! Lo ikut kaga?" jawab Hermina cepat dan berhasil mendapat jawaban anggukan dari Alen "Terus Good News for today itu lo udah baca tentang informasi Olimpiade MIPA di mading belom?" tanya Hermina, Alen terlihat berfikir dan tanpa menunggu jawaban dari Alen ia langsung meracau "Yang ikutan Olimpiade MIPA tahun ini cuma kelas 10, kelas 11 dan 12 engga diperbolehkan, katanya sih buat pelatihan, entah pelatihan apa, gwe juga bingung, tapi gwe dapet kabar dari anak-anak sebelah, katanya kelas 12 kan mau konsentrasi UAN sama apatuh SNMPTN dulu apa UMPTN dulu ya? Gataulah gwe, pokoknya alesan kenapa kelas 12 gaboleh ikut gara-gara itu, sedangkan untuk kelas 11 katanya sih pada sibuk nyiapin party party gitulah yang diadain sebelum kelas 12 UAN, kan kalau acara selesai UAN tuh apasih Prom nah itu Prom!" cerocosnya.
Alen mengangkat halisnya "Gangerti gwe sama kepsek sekarang, pelatihan apa coba buat anak kelas 10? Emang enteng apa Olimpiade kaya begituan? Ngegampangin banget siih!" komentar Alen sambil memasukan iPod kedalam ranselnya.
"Eitss awas aja kalo lo kepilih! Ini masalahnya laen sis, lo tau? Ini lebih parah lagi, yang ikutan itutuh dicari nilai terbaik dari masing-masing kelas dan do u remember? Nilai lo paling gede terus dikelas ini! Siap-siap aja oke cantik!" seru Hermina dengan nada di manis - maniskan.
"Tapikan gwe engga berminat ikut yang kaya begituan!" tukas Alen sambil mengeluarkan buku Matematika.
"Gaberminat sih oke, tapi kalau dipaksa berminat? Mau gimana lagi coba, udahlah terima aja! Oia kan sekarang ada pelajarannya, siap-siap aja deh loo!!" seru Hermina bersemangat dan menghasilkan sungutan dari bibir Alen, ia hanya tertawa terkekeh-kekeh sambil duduk disebelah Alen.
Gawat kalau gwe kepilih!, tukasnya dalam hati.
*to be continue
Jo menoleh "Apa? Mau bareng?" tanyanya berentetan. Alen menjawab dengan anggukan sambil menaik turunkan halisnya "Oke, masuk" sambungnya. Alen segera bergegas memasuki mobil Jo "Jaket siapa tuh? Perasaan kenal deh" tanya Jo menelisik, ketika ia menyadari ada sesuatu yang berbeda yang terpasang dibadan Alen.
"Eh anu ini anu itu ini ..." jawab Alen gelagapan, enggan memberi jawaban kalau ini Jaket milik Pio.
"Anu ini itu, jawab yang bener Al" singgung Jo sambil tersenyum geli.
"Yang orang, orang orang yang baik" akhirnya jawaban itulah yang muncul dari mulut Alen.
Jo tersenyum tipis "Giospio Mozart kan?" tanya Jo dengan so cool *emang udah cool siih*.
Alen terkesiap mendengarkannya "Kata siapa? Sotoy banget jadi orang!" elaknya.
"Gausah bohong sama kaka, kaka kenal sama dia!" tukas Jo "Ada apa niih? Ehem ehem ..." sambungnya.
Alen hanya diam, ia bergelut dengan hatinya tepatnya dengan perasaannya. "Kenapa diem? Aaaaahh ada sesuatuuu pastinya" goda Jo sambil tersenyum bahagia, sudah lama ia tidak bercanda seperti ini apalagi sampai membuat si cerewet Alen terdiam "Jaaaah wajahnya meraaah" sambungnya lagi.
Alen menoleh ke arah Jo, bibirnya mengerucut, pengen banget gwe jawab tapi dalam hal ini gwe lebih milih diem, gumamnya dalam hati. "Masih diem juga nih tumben, biasanya juga meracau bagaikan burung kakatua yang hinggap di jendela nenek sudah tua giginya tinggal dua ... " ujar Jo.
"Aduuh mas itu nyanyi apa mau komentar?" tanya Alen sambil tertawa terbahak-bahak.
"Mancing kamu biar ngomong, ahaaaaa 2 - 0 " jawab Jo nakal.
Alen membelalakan matanya "Apaan tuh 2 - 0? Udahlah ka stop jangan ngomongin yang kaya begituan, engga penting banget sih!" seru Alen ketus.
Jo kembali tersenyum "Ada yang mau lari dari masalah nih" ledeknya, tak habis-habisnya ia membuat Alen kesal dan malu.
"Pio bukan siapa-siapa Alen ka, just friend u know JUST FRIEND" ungkapnya dengan nada yang keras sembari didekatkan ditelinga Jo.
"Weits biasa dong, terus kenapa kalau J-U-S-T-F-R-I-E-N-D koq jaketnya masih dipake? Pasti ada apa-apanya ini, iyakan? Ngaku aja Al" goda Jo.
Alen kembali terdiam, ia langsung membuka jaket Jo dan ia dekap di dada "Jiah sekarang didekap di dadam ya ampuuun saking sayangnya sama pacar baru, cieeee" goda Jo lagi lagi dan lagi.
"Demi apapun Alen engga ada apa-apa sama dia ka, udahdeh ka gausah usut-usut yang kaya begituan, bikin ngenes aja! Gimana coba kalau Alen beneran jadian sama dia? Kakak mau tanggung jawab? Kakak mau apa punya adik ipar seculun dia?" cerocos Alen kesal.
Kini Jo hanya tersenyum, ia enggan untuk menjawab pertanyaan Alen yang satu ini, karna ada sesuatu yang tak diketahui Alen.
***
Disana, di halaman belakang itu masih sepi, memang dari dulu sepi, engga sepi karna ada Pio sang penghuni ditambah Alen yang kena virus nongkrong di halaman belakang. "Haah, hantu bersuara jernih itu belum dateng" ujar Alen sambil memasang Headset iPod- nya, mulai mengalunlah lagunya Richard Marx - Right Here Waiting ditelinganya, lagu itu dikhususkan oleh Marx untuk istrinya tercinta yang tengah syuting film di Afsel. "Oceans apart day after day and I slowly go insane, I hear your voice on the line but it doesn't stop the pain, if I see you next to never how can we say forever ...wherever you go whatever you do, I will be right here waiting for you, whatever it takes or how my heart breaks, I will be right here waiting for you ..." mulut Alen berkomat-kamit, mengalunkan lirik demi lirik yang ia dengar, perlahan matanya mengatup, namun bibirnya belum berhenti melantunkan lirik demi lirik dan tanpa ia sadari, sang hantu pemilik suara jernih itu telah datang dan tersenyum ketika ia mendapati orang itu tengah terduduk bersandar di pohon sambil melantunkan sebuah lagu, dan selebihnya ia mendekap jaketnya.
Pio tetap berdiri, ia enggan untuk memanjat pohon yang tengah di sandari oleh Alen, takut orang cantik itu terganggu. Akhirnya ia hanya berdiri, mendengarkan suara Alen yang lumayan, ia tau itu lagunya Richard Marx namun ia lupa lirik pertamanya, sehingga ia hanya mendengarkan sambil sesekali mengulum senyumnya. "Wherever you go whatever you do, I will be right here waiting for you, whatever it takes or how my heart breaks, I will be right here waiting for you ..." itulah lirik terakhir, Alen membuka kembali matanya dan ia terkesiap ketika ia mengetahui sosok hantu bersuara jernih itu telah berdiri di hadapannya. "Sejak kapan lo disini?" tanya Alen seraya melepaskan Headset- nya.
"Sejak tadi gwe diem disini, gwe dengerin lo, emang kenapa?" jawab Pio sambil menaiki pohon yang sekarang boleh ia panjat karena tidak disandari makhluk cantik itu lagi.
"Dasar monyet culun! Nih jaket lo, makasih atas pinjamannya!" seru Alen sambil melempar jaket hitam itu ke atas pohon dan berlalu meninggalkan Pio.
Pio mengintip dibalik rerimbunan daun yang kini mulai lebat "Dasar cewe, maunya apasih?" tanya Pio, sebenarnya ia menggumam namun begitu terdengar ditelinga Alen, ia hanya tersenyum dan meneruskan langkahnya. Dalam lubuk hati Alen ingin sekali ia mengatakan pada teman-teman atau lebay nya DUNIA bahwa ia SENANG! Kenapa? Karena ternyata nyanyiannya didengarkan oleh Pio, namun ia masih terlalu egois untuk mengatakan itu semua.
"Asiik nih ada yang engga kesiangan, pasti bareng sama Kak Jo yaa?" tanya Hermina sambil menarik rok Alen.
Alen hanya menjawab dengan senyuman, ia masih terbawa suasana indah di halaman tadi "Sebenernya gwe kepingin lama-lama, tapi gwe malu, jual mahal doong" ujarnya dalam hati.
"Heh, lo kenapa sih senyam senyum gitu? Kesamber setan apaan pagi-pagi begini?" tanya Hermina penasaran. Alen masih tetap menjawab dengan senyuman, akhirnya Hermina menyerah dan lebih memilih untuk menyampaikan 2 berita besar untuk hari ini "Al, ada 2 berita untuk hari ini, bad news and good news" sambung Hermina berhasil menyita perhatian Alen, tanpa basa babi busuk lagi dia langsung melanjutkan pembicaraannya "Bad news for today adalah si Asya sakit sis!"
"Dia sakit apa? Apa gara-gara kemaren gwe sentak?" tanya Alen cemas dan khawatir.
Hermina menggeleng "Dia kecapean doang, perlu istirahat selama 3 hari penuh, rencananya pulang sekolah ini gwe mau jenguk dia! Lo ikut kaga?" jawab Hermina cepat dan berhasil mendapat jawaban anggukan dari Alen "Terus Good News for today itu lo udah baca tentang informasi Olimpiade MIPA di mading belom?" tanya Hermina, Alen terlihat berfikir dan tanpa menunggu jawaban dari Alen ia langsung meracau "Yang ikutan Olimpiade MIPA tahun ini cuma kelas 10, kelas 11 dan 12 engga diperbolehkan, katanya sih buat pelatihan, entah pelatihan apa, gwe juga bingung, tapi gwe dapet kabar dari anak-anak sebelah, katanya kelas 12 kan mau konsentrasi UAN sama apatuh SNMPTN dulu apa UMPTN dulu ya? Gataulah gwe, pokoknya alesan kenapa kelas 12 gaboleh ikut gara-gara itu, sedangkan untuk kelas 11 katanya sih pada sibuk nyiapin party party gitulah yang diadain sebelum kelas 12 UAN, kan kalau acara selesai UAN tuh apasih Prom nah itu Prom!" cerocosnya.
Alen mengangkat halisnya "Gangerti gwe sama kepsek sekarang, pelatihan apa coba buat anak kelas 10? Emang enteng apa Olimpiade kaya begituan? Ngegampangin banget siih!" komentar Alen sambil memasukan iPod kedalam ranselnya.
"Eitss awas aja kalo lo kepilih! Ini masalahnya laen sis, lo tau? Ini lebih parah lagi, yang ikutan itutuh dicari nilai terbaik dari masing-masing kelas dan do u remember? Nilai lo paling gede terus dikelas ini! Siap-siap aja oke cantik!" seru Hermina dengan nada di manis - maniskan.
"Tapikan gwe engga berminat ikut yang kaya begituan!" tukas Alen sambil mengeluarkan buku Matematika.
"Gaberminat sih oke, tapi kalau dipaksa berminat? Mau gimana lagi coba, udahlah terima aja! Oia kan sekarang ada pelajarannya, siap-siap aja deh loo!!" seru Hermina bersemangat dan menghasilkan sungutan dari bibir Alen, ia hanya tertawa terkekeh-kekeh sambil duduk disebelah Alen.
Gawat kalau gwe kepilih!, tukasnya dalam hati.
*to be continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar