Minggu, 28 Agustus 2011

Land Life - cerbung eps. 9 part #1

     " I don’t know you but I want you all the more for that, words fall through me and always fool me and I can’t react and games that never amount to more than they’re meant will play themselves out take this sinking boat and point it home, we’ve still got time, raise your hopeful voice you have a choice, you’ve made it now ... "
  Lagu Falling Slowly mengalun-ngalun di kamar bernuansa cool itu. Ia menatap langit-langit kamarnya, dibenaknya wajah yang sedari tadi cemberut, bibir yang sedari tadi mengkerucut, membuatnya tersenyum. "Sadar ga sadar gwe mungkin mulai tertarik sama lo" gumamnya, lalu mulai mengikuti iringan music yang tengah di dengarnya. Sedangkan di tempat lain ...
  Ia tengah berdiri memandangi bintang yang berpendar-pendar di balkon kamarnya, bajunya telah ia ganti, namun jacket itu masih tetap ia kenakan, bibirnya tersenyum tipis "Gwe rasa gwe masih terlalu gengsi buat suka sama lo, tapi kita liat aja, apakah gwe masih tetep bakalan pertahanin gengsi gwe apa mungkin gwe bakalan jatuh cinta sama lo, haah dasar culun .." gumamnya "Tapi gwe engga akan pernah takut untuk jatuh cinta sama lo!" sambungnya seraya masuk ke dalam kamar.

***

     "Ka Jooooo!!" teriak Alen sambil berlari terbirit-birit mengejar Jo yang tengah masuk ke dalam mobil.
  Jo menoleh "Apa? Mau bareng?" tanyanya berentetan. Alen menjawab dengan anggukan sambil menaik turunkan halisnya "Oke, masuk" sambungnya. Alen segera bergegas memasuki mobil Jo "Jaket siapa tuh? Perasaan kenal deh" tanya Jo menelisik, ketika ia menyadari ada sesuatu yang berbeda yang terpasang dibadan Alen.
     "Eh anu ini anu itu ini ..." jawab Alen gelagapan, enggan memberi jawaban kalau ini Jaket milik Pio.
     "Anu ini itu, jawab yang bener Al" singgung Jo sambil tersenyum geli.
     "Yang orang, orang orang yang baik" akhirnya jawaban itulah yang muncul dari mulut Alen.
  Jo tersenyum tipis "Giospio Mozart kan?" tanya Jo dengan so cool *emang udah cool siih*.
  Alen terkesiap mendengarkannya "Kata siapa? Sotoy banget jadi orang!" elaknya.
     "Gausah bohong sama kaka, kaka kenal sama dia!" tukas Jo "Ada apa niih? Ehem ehem ..." sambungnya.
  Alen hanya diam, ia bergelut dengan hatinya tepatnya dengan perasaannya. "Kenapa diem? Aaaaahh ada sesuatuuu pastinya" goda Jo sambil tersenyum bahagia, sudah lama ia tidak bercanda seperti ini apalagi sampai membuat si cerewet Alen terdiam "Jaaaah wajahnya meraaah" sambungnya lagi.
  Alen menoleh ke arah Jo, bibirnya mengerucut, pengen banget gwe jawab tapi dalam hal ini gwe lebih milih diem, gumamnya dalam hati. "Masih diem juga nih tumben, biasanya juga meracau bagaikan burung kakatua yang hinggap di jendela nenek sudah tua giginya tinggal dua ... " ujar Jo.
     "Aduuh mas itu nyanyi apa mau komentar?" tanya Alen sambil tertawa terbahak-bahak.
     "Mancing kamu biar ngomong, ahaaaaa 2 - 0 " jawab Jo nakal.
  Alen membelalakan matanya "Apaan tuh 2 - 0? Udahlah ka stop jangan ngomongin yang kaya begituan, engga penting banget sih!" seru Alen ketus.
  Jo kembali tersenyum "Ada yang mau lari dari masalah nih" ledeknya, tak habis-habisnya ia membuat Alen kesal dan malu.
     "Pio bukan siapa-siapa Alen ka, just friend u know JUST FRIEND" ungkapnya dengan nada yang keras sembari didekatkan ditelinga Jo.
     "Weits biasa dong, terus kenapa kalau J-U-S-T-F-R-I-E-N-D koq jaketnya masih dipake? Pasti ada apa-apanya ini, iyakan? Ngaku aja Al" goda Jo.
  Alen kembali terdiam, ia langsung membuka jaket Jo dan ia dekap di dada "Jiah sekarang didekap di dadam ya ampuuun saking sayangnya sama pacar baru, cieeee" goda Jo lagi lagi dan lagi.
      "Demi apapun Alen engga ada apa-apa sama dia ka, udahdeh ka gausah usut-usut yang kaya begituan, bikin ngenes aja! Gimana coba kalau Alen beneran jadian sama dia? Kakak mau tanggung jawab? Kakak mau apa punya adik ipar seculun dia?" cerocos Alen kesal.
  Kini Jo hanya tersenyum, ia enggan untuk menjawab pertanyaan Alen yang satu ini, karna ada sesuatu yang tak diketahui Alen.

*** 

 
  Alen keluar dari mobil Jo dengan tampang sebal "Pagi-pagi gini udah di gendokin orang, kakak sendiri lagi, dasar jaket sialan!" gumam Alen sambil menjejalkan jaket milik Pio kedalam ransel abu-abunya. Ia berjalan gontai menuju kelas, ia melirik jam tangannya "Masih pagi, jam segini anak-anak belum pada dateng, yang pastinya udah dateng itu anak-anak kelas 12" gumamnya lagi. Ada satu kegiatan yang melintas dibenaknya, ia segera berlari menuju kelas dan menyimpan tas, lalu mengambil jaket Pio, iPod Touch nya dan berjalan menuju halaman belakang.
  Disana, di halaman belakang itu masih sepi, memang dari dulu sepi, engga sepi karna ada Pio sang penghuni ditambah Alen yang kena virus nongkrong di halaman belakang. "Haah, hantu bersuara jernih itu belum dateng" ujar Alen sambil memasang Headset iPod- nya, mulai mengalunlah lagunya Richard Marx - Right Here Waiting ditelinganya, lagu itu dikhususkan oleh Marx untuk istrinya tercinta yang tengah syuting film di Afsel. "Oceans apart day after day and I slowly go insane, I hear your voice on the line but it doesn't stop the pain, if I see you next to never how can we say forever ...wherever you go whatever you do, I will be right here waiting for you, whatever it takes or how my heart breaks, I will be right here waiting for you ..." mulut Alen berkomat-kamit, mengalunkan lirik demi lirik yang ia dengar, perlahan matanya mengatup, namun bibirnya belum berhenti melantunkan lirik demi lirik dan tanpa ia sadari, sang hantu pemilik suara jernih itu telah datang dan tersenyum ketika ia mendapati orang itu tengah terduduk bersandar di pohon sambil melantunkan sebuah lagu, dan selebihnya ia mendekap jaketnya.
  Pio tetap berdiri, ia enggan untuk memanjat pohon yang tengah di sandari oleh Alen, takut orang cantik itu terganggu. Akhirnya ia hanya berdiri, mendengarkan suara Alen yang lumayan, ia tau itu lagunya Richard Marx namun ia lupa lirik pertamanya, sehingga ia hanya mendengarkan sambil sesekali mengulum senyumnya. "Wherever you go whatever you do, I will be right here waiting for you, whatever it takes or how my heart breaks, I will be right here waiting for you ..." itulah lirik terakhir, Alen membuka kembali matanya dan ia terkesiap ketika ia mengetahui sosok hantu bersuara jernih itu telah berdiri di hadapannya. "Sejak kapan lo disini?" tanya Alen seraya melepaskan Headset- nya.
    "Sejak tadi gwe diem disini, gwe dengerin lo, emang kenapa?" jawab Pio sambil menaiki pohon yang sekarang boleh ia panjat karena tidak disandari makhluk cantik itu lagi.
    "Dasar monyet culun! Nih jaket lo, makasih atas pinjamannya!" seru Alen sambil melempar jaket hitam itu ke atas pohon dan berlalu meninggalkan Pio.
  Pio mengintip dibalik rerimbunan daun yang kini mulai lebat "Dasar cewe, maunya apasih?" tanya Pio, sebenarnya ia menggumam namun begitu terdengar ditelinga Alen, ia hanya tersenyum dan meneruskan langkahnya. Dalam lubuk hati Alen ingin sekali ia mengatakan pada teman-teman atau lebay nya DUNIA bahwa ia SENANG! Kenapa? Karena ternyata nyanyiannya didengarkan oleh Pio, namun ia masih terlalu egois untuk mengatakan itu semua.
    "Asiik nih ada yang engga kesiangan, pasti bareng sama Kak Jo yaa?" tanya Hermina sambil menarik rok Alen.
  Alen hanya menjawab dengan senyuman, ia masih terbawa suasana indah di halaman tadi "Sebenernya gwe kepingin lama-lama, tapi gwe malu, jual mahal doong" ujarnya dalam hati.
   "Heh, lo kenapa sih senyam senyum gitu? Kesamber setan apaan pagi-pagi begini?" tanya Hermina penasaran. Alen masih tetap menjawab dengan senyuman, akhirnya Hermina menyerah dan lebih memilih untuk menyampaikan 2 berita besar untuk hari ini "Al, ada 2 berita untuk hari ini, bad news and good news" sambung Hermina berhasil menyita perhatian Alen, tanpa basa babi busuk lagi dia langsung melanjutkan pembicaraannya "Bad news for today adalah si Asya sakit sis!"
    "Dia sakit apa? Apa gara-gara kemaren gwe sentak?" tanya Alen cemas dan khawatir.
  Hermina menggeleng "Dia kecapean doang, perlu istirahat selama 3 hari penuh, rencananya pulang sekolah ini gwe mau jenguk dia! Lo ikut kaga?" jawab Hermina cepat dan berhasil mendapat jawaban anggukan dari Alen "Terus Good News for today itu lo udah baca tentang informasi Olimpiade MIPA di mading belom?" tanya Hermina, Alen terlihat berfikir dan tanpa menunggu jawaban dari Alen ia langsung meracau "Yang ikutan Olimpiade MIPA tahun ini cuma kelas 10, kelas 11 dan 12 engga diperbolehkan, katanya sih buat pelatihan, entah pelatihan apa, gwe juga bingung, tapi gwe dapet kabar dari anak-anak sebelah, katanya kelas 12 kan mau konsentrasi UAN sama apatuh SNMPTN dulu apa UMPTN dulu ya? Gataulah gwe, pokoknya alesan kenapa kelas 12 gaboleh ikut gara-gara itu, sedangkan untuk kelas 11 katanya sih pada sibuk nyiapin party party gitulah yang diadain sebelum kelas 12 UAN, kan kalau acara selesai UAN tuh apasih Prom nah itu Prom!" cerocosnya.
  Alen mengangkat halisnya "Gangerti gwe sama kepsek sekarang, pelatihan apa coba buat anak kelas 10? Emang enteng apa Olimpiade kaya begituan? Ngegampangin banget siih!" komentar Alen sambil memasukan iPod kedalam ranselnya.
    "Eitss awas aja kalo lo kepilih! Ini masalahnya laen sis, lo tau? Ini lebih parah lagi, yang ikutan itutuh dicari nilai terbaik dari masing-masing kelas dan do u remember? Nilai lo paling gede terus dikelas ini! Siap-siap aja oke cantik!" seru Hermina dengan nada di manis - maniskan.
    "Tapikan gwe engga berminat ikut yang kaya begituan!" tukas Alen sambil mengeluarkan buku Matematika.
    "Gaberminat sih oke, tapi kalau dipaksa berminat? Mau gimana lagi coba, udahlah terima aja! Oia kan sekarang ada pelajarannya, siap-siap aja deh loo!!" seru Hermina bersemangat dan menghasilkan sungutan dari bibir Alen, ia hanya tertawa terkekeh-kekeh sambil duduk disebelah Alen.
  Gawat kalau gwe kepilih!, tukasnya dalam hati.

*to be continue
 

Selasa, 23 Agustus 2011

Land Life - cerbung eps.8 part #1

    "Braaakkk!!" suara bantingan buku di atas meja. Wajahnya merah padam. "Len, lo darimana aja? Untung aja Pa Gatot ga dateng!" ujar Hermina.
    "Heh Min, gwe lagi emosi nih emosi gwe!! Gwe sih gamasalah kalau sekarang Pa Gatot udah nongkrong di sono!" tanggap Alen kesal.
  Asya menurunkan kacamatanya "Terus lo kenapa dong? BT banget kayanya? Ini masih pagi loh Al!" komentar Asya.
  Alen menaruh kepalanya di meja dan detik kemudian mengangkatnya kembali "Gimana gwe kaga BT, tadikan gwe datang telat bareng lagi sama si culun itu! Padahal gwe udah usaha dengan penuh tenaga dan semangat ngebujuk satpam geblek itu biar bukain gerbang lah si culun malah balik badan dan ninggalin gwe!" terang Alen dengan perasaan kesal yang membara.
    "Culun?" tanya Hermina "Eh eh eh terus emang kenapa kalau si culun ninggalin lo?" lanjutnya.
    "Kalau dia ninggalin gwe ya gwe ga akan masuk kelas lah bego! Orang si satpamnya bilang kaya begini 'Noh onoh ada yang kesiangan langsung balik lagi, dia nyadar sama kesalahannya engga kaya kamu' dan bla bla bla, ya mau gimana lagi akhirnya gwe tarik aja tu orang!" jawab Alen masih dengan perasaan yang kesal.
     "Terus itu orang gimana? Dia ngomong sesuatu apa kek?" tanya Asya penasaran.
     "No! Kaga ngomong sama sekali! Akhirnya gwe doang yang nyerocos ngomong, hampir setengah jam gwe ngomong dan syukurnya dibuka tuh gerbang! Gwe udah seneng tuh bisa masuk dan tampang si culun biasa aja, dingin dan datar dan sialannya lagi waktu gwe sama dia lewat lorong depan itu, ketemu sama kepsek!" jawab Alen sambil melihat ke arah kedua sahabatnya, ketika ia melihat Asya akan segera melontarkan pertanyaannya ia langsung mengangkat tangan "Lo gausah tanya gwe bakalan ceritain, kepsek nyeramahin, lebih tepatnya marahin gwe sama si culun, dan sampailah pada babak terakhir, gwe dikasih hukuman ngebersihin lorong kelas 12 beserta kamar mandinya selama 3 hari setiap pulang sekolah dan istirahat sekarang gwe disuruh ke BP dan entahlah apa yang terjadi disono nanti, pasraaaaaah!!" lanjutnya.
  Hermina dan Asya menggelengkan kepalanya iba, "Jadi itu yang bikin lo BT?" tanya Hermina dan mendapat anggukan dari Alen "Tapi lo dihukum berduakan sama si culun - culun itu?" lanjutnya lagi dan kembali mendapat anggukan dari Alen.
     "Ngomong-ngomong si culun itu siapasih?" tanya Asya penasaran, berhasil mengeluarkan unek-uneknya yang sedari tadi ingin menanyakan tentang hal itu.
     "Pio! Giospio Mozart anak 11 IPA yang kemaren lo berdua tanyain!" jawab Alen ketus.
  Hermina dan Asya saling berpandangan dan "Yang waktu itu nyanyi bareng sama lo di halaman belakang?" tanya mereka serempak.
  Alen hanya mengangguk "Sialaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnn!!" teriaknya.
     "Waaah kesempatan dong Al buat PDKT" goda Asya sambil menyunggingkan senyuman manisnya.
     "GILA AJA LO! GWE DI HUKUM LO MALAH BILANG ITU KESEMPATAN BUAT PDKT HAH?!" sentak Alen, wajahnya kembali merah padam.
  Sontak seisi kelas menoleh ke arah Alen yang tengah menyentak Asya. "Sya, lo tuh harusnya mikir gwe tuh dikasih hukuman! Lo harusnya gausah nambahin kekeselan gwe dong! Lo kira itu bakalan jadi ajang buat gwe sama si Pio jadian apa?" cerocosnya.
     "Ya ampun Al maafin gwe, gwe tuh cuma mau bercanda" ujar Asya sambil menunduk.
     "Tapi lo harus liat dong, di situasi kaya gini lo bercanda? Ya jelas gwe sentak, apalagi bercandanya lo tuh bawa-bawa nama orang sinting dan bilang kalau itu kesempatan buat PDKT, ya jelas gwe kesel!" tukas Alen kesal.
     "Ia ia gwe salah Al, maafin gwe Al maafin gwe!" ujar Asya lagi.
     "Halaaah!" gertaknya sambil berdiri dan berjalan keluar kelas. Asya melihat perilaku Alen dan detik kemudian ia menitikan air matanya.
     "Mimin, gwe harus kaya gimana? Alen marah ama gwe!!" gumam Asya sambil memeluk Hermina.
     "Ga apa-apa sya, udah ga apa-apa, biarin si Alen nenangin dulu dirinya" tanggap Hermina.
  Alen berlari ke arah halaman belakang sambil menangis, ia berharap disitu engga ada Pio dan do'anya terkabul. Sosok Pio engga ada disana. "Maafin gwe sya, gwe kesel banget! Abis lo malah bercanda sih, maafin gwe sya maafin gwe!!" lirihnya.

***

     Tengg tenggg tenggg!! 
  Bel istirahat berbunyi dengan nyaring. Biasanya bel itu membuat bibir mungil Alen tersenyum, tapi sekarang engga, bibir itu mengerucut dan tanpa basa basi babi busuk ia langsung berjalan menuju kantor BP. Ketika ia masuk kedalam ruangan itu, ia melihat Pio tengah duduk santai, wajahnya lurus dan dingin tanpa beban dan tanpa dosa. Semua itu semakin membuat Alen kesal. 
     "Silahkan duduk Alena" suruh Bu Susan. 
  Alen duduk dengan perasaan deg degan yang luar biasa. "Giospio, Alena tadi bapa kepala sekolah telah menemui ibu dan kami telah merundingkan apa hukuman yang pantas untuk kalian!" seru Bu Susan tajam. 
  Baik Alen maupun Pio langsung terkejut dan saling berpandangan lalu detik kemudian menatap ke arah Bu Susan, menunggu kata yang akan diluncurkan selanjutnya "Hukuman tadi yang diberikan Kepala Sekolah ditarik dan di gantikan dengan Menyapu dan Mengepel Lab. IPA, Lab. Bahasa, Lab. Komputer dan menyapu halaman belakang!" ujarnya "Dikerjakan hari ini juga, semuanya dan besok akan ibu periksa apakah bersih atau tidak!" lanjutnya lagi. 
     "Maaf bu halamannya halaman belakang gedung sekolah yang jarang dipakai itukan?" tanya Pio. 
  Bu Susan menjawab dengan anggukan dan itu membuat bibir Pio mengembang. "Terimakasih bu, kami akan mengerjakannya dengan sebaik-baiknya dan sebersih-bersihnya" ujar Pio dengan senyumnya yang masih mengembang "Kami pamit dulu Bu, permisi" lanjutnya sambil menarik tangan Alen. 
     "Apa-apaansih, lepasin tangan gwe!" sentak Alen ketika telah keluar dari ruang BP "Heh lo tuh punya otak ga sih? Yang paling ngenes disini tuh gwe! Lo malah so imut so berbakti gitu, lo engga nyadara apa tadi pagi gwe yang banyak ngomong sedangkan lo? Lo cuma diem doangkan? Bibir gwe sampe keriting kaya gini cuma buat melas minta dibukain gerbang! Emang lo kira ngebersihin 3 Lab plus Halaman belakang itu mudah, gampang dan praktis? Cuma ngomong simsalabim aja? Engga! Itutuh butuh tenaga!!" lanjutnya. Nafasnya terengah-engah, menahan emosinya yang terus meluap-luap. 
  Pio hanya memandangi Alen dengan tatapan datar dan dingin, tidak ada sedikit pun tanda-tanda bahwa ia menyesal, kasihan atau apapun itu namanya. Ia tetap bergeming di tempatnya, menatap Alen lurus. 
     "Lo kenapasih? Cape gwe!" sentak Alen sembari mendorong tubuh Pio dan berlari menuju kelasnya. 
     "Gwe diem karna gwe suka lo kalau lagi marah Al" gumam Pio sambil berlalu menuju kelasnya.
  Sementara itu Alen pulang ke kelasnya dengan wajah yang benar-benar kusut bagai benang yang sangat sangat sangat kusut *eeh* "Untung lo orang, kalau bukan udah gwe gorok pala lo! Ga punya perasaan banget sih jadi orang, gabisa diandelin, dasar culun! Dasar culun!!" Alen mendumal.
    "Ngomel mulu deh, beneran cepet tua Al" ujar seseorang disebelahnya.
  Alen menoleh dan mendapati sang kakak tercinta telah berjalan beriringan dengannya "Ka Jo" lirihnya.
    "Hemm, ada masalah apalagi?" tanya Jo sambil menarik adiknya duduk didekat kantin.
    "Masalah kesiangan! Sejak engga bareng sama kakak Alen sering kesiangan tau!" jawab Alen dengan nada sedikit marah.
    "Loh loh kenapa nyalahin kakak? Salah siapa kamu sendiri bangunnya suka telat!" sanggah Jo sambil mengeluarkan permen karet dari sakunya.
  Alen membelalakan matanya "Kata siapa suka telat hah? Kata siapa? Kata siapa? Orang setiap kakak pergi naik mobil Alen suka ngeliatin dari kaca kamar koq!" tukas Alen sebal tidak terima dengan perkataan kakaknya.
     "So, what's your problem?" tanya Jo acuh.
     "Masalahku di biiissss kotaaa!!" jawab Alen setengah teriak.
  Jo mengangkat satu halisnya "Ada apa dengan bis kota?" tanya Jo.
     "Lamaaaaaaaa bangeeeeeet kaa datengnyaaa!! Apalagi yang lewat ke sekolah ini Je A Er A En Ge JARANG!!" jawab Alen "Udah ah!" sambungnya sambil berlalu meninggalkan Jo yang masih asyik mengunyah permen karetnya.
     "Dasar adik yang aneh, eh yang aneh aku apa dia ya? Hah sudahlah tak penting" gumamnya.

*** 

  Bel pulang telah berbunyi 10 menit yang lalu, Alen masih terduduk manis dikelas, mengetuk-ngetukkan jari-jarinya ke meja dan "Braaaakkkk!! Awas aja kalau lo belum dateng di Lab, gwe bantai!" serunya kesal sambil berjalan meninggalkan kelasnya. Ia berjalan menuju Lab. IPA dan menemui sosok culun itu tengah menyapu ruangan "Nah gitu dong, yang rajin ya Giospio!" serunya tajam.
     "Lo beresin Lab. Bahasa udah itu lo tungguin gwe di halaman belakang!" seru Pio tanpa menoleh ke arah Alen.
     "Lo tuh malah nyuruh-nyuruh gwe!" gerutu Alen sambil menendang pintu.
  Pio menoleh "Udah untung lo kebagian Lab. Bahasa, gwe? Lab. IPA sama Lab. Komputer, gwe engga sejahat apa yang lo kira, gwe juga punya perasaan, gwe tau lo cewe, gwe tau dan sadar banget kalau lo yang tadi pagi udah nyelamatin gwe!" sentak Pio "Dan gwe mohon lo keluar dan cepet beresin Lab. Bahasa, biar lo sama gwe cepet balik!" sambungnya.
  Dengan wajah yang cemberut dan bibir yang mengkerucut, Alen segera mengangkat kakinya untuk berjalan menuju Lab. Komputer "Iiih, nyebelin juga tu orang, udah tadi sikapnya dingin, sekarang malah marah-marah gajelas! Tapi ternyata si Pio bisa juga ya marah, ya berarti dia normal dong, berarti dia manusia asli bukan palsu, hah iasih udah syukur dikasih Lab. Bahasa doang, untungnya juga ruangannya engga segede Lab. IPA sama Lab. Komputer, baik juga tuh orang tapi nyebelin!" dumalnya.
     "I don't know you, but I want you, all the more for that, words fall through me and always fool me and I can't react  and games that never amount to more than they’re meant, will play themselves out ..." mulut Pio mulai melantunkan lirik demi lirik lagu Falling Slowly- nya Kris Allen. Ia menyenandungkan lagu itu sembari membersihkan ruangan-ruangan yang menjadi tugasnya, menurutnya bekerja sambil bernyanyi engga akan kerasa capenya karena dikerjakan sesuka hati. Sedangkan di Lab. Bahasa ... "Ya ampun, kena baju kan air nya, iih jorok aah .." gerutu Alen sambil mengepel ruangan.
  
***

     "Mana lagi Pio, ini udah mau jam 7 malem juga, masa belum beres sih?" gumam Alen sembari melihat jam di tangannya. Handphone nya berdering, ia segera merogoh sakunya dan melihat siapa penelepon itu "Ia ka?" tanyanya. 
     "Kamu lagi dimana?" tanya Jo diseberang sana. 
     "Masih disekolah, masih ngejalanin hukuman, nanti kalau udah beres Alen minta jemput koq sama kakak, tenang aja, kakak engga akan kehilangan job ngejemput koq!" jawab Alen nyerocos. 
    "Halah, yasudah tuan putri kalau sudah selesai cepat-cepat telfon, baik-baik disana yaa, daaah!" tanggap Jo dan Piiip ..., mati. 
  Alen menghela nafas panjang, angin malam memainkan rambut indahnya, "Aduuh, gwe ga bawa jaket lagi! Mana baju masih basah gara-gara tadi, Pio lama banget aah!!" serunya mulai kesal. Ia berjalan menuju pohon dan bersandar disana. Saking capenya ia sampai tertidur. Pio datang tepat saat Alen baru tertidur. 
     "Al, Alena .." panggilnya lembut. 
  Lambat-lambat mata Alen terbuka dan mendapati sosok orang yang di tunggu-tunggunya telah datang, sontak matanya langsung membelalak lebar "Lo darimana aja sih? Lama banget!" 
     "Sorry gwe baru beres, ayo cabut!" ajaknya sambil menarik tangan Alena. 
     "Duh duh duh, pelan-pelan gwe cape" tukas Alen sambil melepaskan tangan Pio. 
     "Sorry .." lirihnya. Akhirnya mereka berjalan saling beriringan, penampilan Pio masih rapih dengan bajunya yang dikancing semua, sedangkan Alen udah engga karuan, wajahnya terlihat cape dan ia mendekapkan tangannya di dada "Lo kedinginan Al?" tanya Pio. 
     "Ia, terus lo mau ngapain? Mau nyalain api hah?!" jawabnya ketus. 
  Pio membuka resleting tas Polo- nya "Niih pake jaket gwe!" seru Pio sambil menyodorkan jaketnya. 
  Alen menoleh, melihat wajah Pio, wajahnya masih tetap dingin dan lurus, Alen mengambil dengan malu-malu dan ia mencium aroma jaket itu "Wangi, baru di cuci" gumam Pio. 
     "Terus kenapa tadi pagi engga lo pake?" tanya Alen. 
     "Udahlah gapenting nanya yang kaya gitu, pake aja, daripada lo dingin" jawab Pio "Lo pasti dijemput sama kakak lo kan? Gwe duluan, sampai ketemu besok! Oia jangan lupa berdo'a biar besok Bu Susan ga periksa hasil kerjaan kita! Duluan Al, hati-hati .. " sambungnya sambil berlari menuju jalan raya. 
     "PIOOOOO!!! MAKASIHHH!!" teriak Alen spontan, namun sayangnya Pio tidak membalikan badannya "Huuh kaga balik badan lagi, dasar!!" lanjutnya. 


*to be continue