Minggu, 28 Agustus 2011

Land Life - cerbung eps. 9 part #1

     " I don’t know you but I want you all the more for that, words fall through me and always fool me and I can’t react and games that never amount to more than they’re meant will play themselves out take this sinking boat and point it home, we’ve still got time, raise your hopeful voice you have a choice, you’ve made it now ... "
  Lagu Falling Slowly mengalun-ngalun di kamar bernuansa cool itu. Ia menatap langit-langit kamarnya, dibenaknya wajah yang sedari tadi cemberut, bibir yang sedari tadi mengkerucut, membuatnya tersenyum. "Sadar ga sadar gwe mungkin mulai tertarik sama lo" gumamnya, lalu mulai mengikuti iringan music yang tengah di dengarnya. Sedangkan di tempat lain ...
  Ia tengah berdiri memandangi bintang yang berpendar-pendar di balkon kamarnya, bajunya telah ia ganti, namun jacket itu masih tetap ia kenakan, bibirnya tersenyum tipis "Gwe rasa gwe masih terlalu gengsi buat suka sama lo, tapi kita liat aja, apakah gwe masih tetep bakalan pertahanin gengsi gwe apa mungkin gwe bakalan jatuh cinta sama lo, haah dasar culun .." gumamnya "Tapi gwe engga akan pernah takut untuk jatuh cinta sama lo!" sambungnya seraya masuk ke dalam kamar.

***

     "Ka Jooooo!!" teriak Alen sambil berlari terbirit-birit mengejar Jo yang tengah masuk ke dalam mobil.
  Jo menoleh "Apa? Mau bareng?" tanyanya berentetan. Alen menjawab dengan anggukan sambil menaik turunkan halisnya "Oke, masuk" sambungnya. Alen segera bergegas memasuki mobil Jo "Jaket siapa tuh? Perasaan kenal deh" tanya Jo menelisik, ketika ia menyadari ada sesuatu yang berbeda yang terpasang dibadan Alen.
     "Eh anu ini anu itu ini ..." jawab Alen gelagapan, enggan memberi jawaban kalau ini Jaket milik Pio.
     "Anu ini itu, jawab yang bener Al" singgung Jo sambil tersenyum geli.
     "Yang orang, orang orang yang baik" akhirnya jawaban itulah yang muncul dari mulut Alen.
  Jo tersenyum tipis "Giospio Mozart kan?" tanya Jo dengan so cool *emang udah cool siih*.
  Alen terkesiap mendengarkannya "Kata siapa? Sotoy banget jadi orang!" elaknya.
     "Gausah bohong sama kaka, kaka kenal sama dia!" tukas Jo "Ada apa niih? Ehem ehem ..." sambungnya.
  Alen hanya diam, ia bergelut dengan hatinya tepatnya dengan perasaannya. "Kenapa diem? Aaaaahh ada sesuatuuu pastinya" goda Jo sambil tersenyum bahagia, sudah lama ia tidak bercanda seperti ini apalagi sampai membuat si cerewet Alen terdiam "Jaaaah wajahnya meraaah" sambungnya lagi.
  Alen menoleh ke arah Jo, bibirnya mengerucut, pengen banget gwe jawab tapi dalam hal ini gwe lebih milih diem, gumamnya dalam hati. "Masih diem juga nih tumben, biasanya juga meracau bagaikan burung kakatua yang hinggap di jendela nenek sudah tua giginya tinggal dua ... " ujar Jo.
     "Aduuh mas itu nyanyi apa mau komentar?" tanya Alen sambil tertawa terbahak-bahak.
     "Mancing kamu biar ngomong, ahaaaaa 2 - 0 " jawab Jo nakal.
  Alen membelalakan matanya "Apaan tuh 2 - 0? Udahlah ka stop jangan ngomongin yang kaya begituan, engga penting banget sih!" seru Alen ketus.
  Jo kembali tersenyum "Ada yang mau lari dari masalah nih" ledeknya, tak habis-habisnya ia membuat Alen kesal dan malu.
     "Pio bukan siapa-siapa Alen ka, just friend u know JUST FRIEND" ungkapnya dengan nada yang keras sembari didekatkan ditelinga Jo.
     "Weits biasa dong, terus kenapa kalau J-U-S-T-F-R-I-E-N-D koq jaketnya masih dipake? Pasti ada apa-apanya ini, iyakan? Ngaku aja Al" goda Jo.
  Alen kembali terdiam, ia langsung membuka jaket Jo dan ia dekap di dada "Jiah sekarang didekap di dadam ya ampuuun saking sayangnya sama pacar baru, cieeee" goda Jo lagi lagi dan lagi.
      "Demi apapun Alen engga ada apa-apa sama dia ka, udahdeh ka gausah usut-usut yang kaya begituan, bikin ngenes aja! Gimana coba kalau Alen beneran jadian sama dia? Kakak mau tanggung jawab? Kakak mau apa punya adik ipar seculun dia?" cerocos Alen kesal.
  Kini Jo hanya tersenyum, ia enggan untuk menjawab pertanyaan Alen yang satu ini, karna ada sesuatu yang tak diketahui Alen.

*** 

 
  Alen keluar dari mobil Jo dengan tampang sebal "Pagi-pagi gini udah di gendokin orang, kakak sendiri lagi, dasar jaket sialan!" gumam Alen sambil menjejalkan jaket milik Pio kedalam ransel abu-abunya. Ia berjalan gontai menuju kelas, ia melirik jam tangannya "Masih pagi, jam segini anak-anak belum pada dateng, yang pastinya udah dateng itu anak-anak kelas 12" gumamnya lagi. Ada satu kegiatan yang melintas dibenaknya, ia segera berlari menuju kelas dan menyimpan tas, lalu mengambil jaket Pio, iPod Touch nya dan berjalan menuju halaman belakang.
  Disana, di halaman belakang itu masih sepi, memang dari dulu sepi, engga sepi karna ada Pio sang penghuni ditambah Alen yang kena virus nongkrong di halaman belakang. "Haah, hantu bersuara jernih itu belum dateng" ujar Alen sambil memasang Headset iPod- nya, mulai mengalunlah lagunya Richard Marx - Right Here Waiting ditelinganya, lagu itu dikhususkan oleh Marx untuk istrinya tercinta yang tengah syuting film di Afsel. "Oceans apart day after day and I slowly go insane, I hear your voice on the line but it doesn't stop the pain, if I see you next to never how can we say forever ...wherever you go whatever you do, I will be right here waiting for you, whatever it takes or how my heart breaks, I will be right here waiting for you ..." mulut Alen berkomat-kamit, mengalunkan lirik demi lirik yang ia dengar, perlahan matanya mengatup, namun bibirnya belum berhenti melantunkan lirik demi lirik dan tanpa ia sadari, sang hantu pemilik suara jernih itu telah datang dan tersenyum ketika ia mendapati orang itu tengah terduduk bersandar di pohon sambil melantunkan sebuah lagu, dan selebihnya ia mendekap jaketnya.
  Pio tetap berdiri, ia enggan untuk memanjat pohon yang tengah di sandari oleh Alen, takut orang cantik itu terganggu. Akhirnya ia hanya berdiri, mendengarkan suara Alen yang lumayan, ia tau itu lagunya Richard Marx namun ia lupa lirik pertamanya, sehingga ia hanya mendengarkan sambil sesekali mengulum senyumnya. "Wherever you go whatever you do, I will be right here waiting for you, whatever it takes or how my heart breaks, I will be right here waiting for you ..." itulah lirik terakhir, Alen membuka kembali matanya dan ia terkesiap ketika ia mengetahui sosok hantu bersuara jernih itu telah berdiri di hadapannya. "Sejak kapan lo disini?" tanya Alen seraya melepaskan Headset- nya.
    "Sejak tadi gwe diem disini, gwe dengerin lo, emang kenapa?" jawab Pio sambil menaiki pohon yang sekarang boleh ia panjat karena tidak disandari makhluk cantik itu lagi.
    "Dasar monyet culun! Nih jaket lo, makasih atas pinjamannya!" seru Alen sambil melempar jaket hitam itu ke atas pohon dan berlalu meninggalkan Pio.
  Pio mengintip dibalik rerimbunan daun yang kini mulai lebat "Dasar cewe, maunya apasih?" tanya Pio, sebenarnya ia menggumam namun begitu terdengar ditelinga Alen, ia hanya tersenyum dan meneruskan langkahnya. Dalam lubuk hati Alen ingin sekali ia mengatakan pada teman-teman atau lebay nya DUNIA bahwa ia SENANG! Kenapa? Karena ternyata nyanyiannya didengarkan oleh Pio, namun ia masih terlalu egois untuk mengatakan itu semua.
    "Asiik nih ada yang engga kesiangan, pasti bareng sama Kak Jo yaa?" tanya Hermina sambil menarik rok Alen.
  Alen hanya menjawab dengan senyuman, ia masih terbawa suasana indah di halaman tadi "Sebenernya gwe kepingin lama-lama, tapi gwe malu, jual mahal doong" ujarnya dalam hati.
   "Heh, lo kenapa sih senyam senyum gitu? Kesamber setan apaan pagi-pagi begini?" tanya Hermina penasaran. Alen masih tetap menjawab dengan senyuman, akhirnya Hermina menyerah dan lebih memilih untuk menyampaikan 2 berita besar untuk hari ini "Al, ada 2 berita untuk hari ini, bad news and good news" sambung Hermina berhasil menyita perhatian Alen, tanpa basa babi busuk lagi dia langsung melanjutkan pembicaraannya "Bad news for today adalah si Asya sakit sis!"
    "Dia sakit apa? Apa gara-gara kemaren gwe sentak?" tanya Alen cemas dan khawatir.
  Hermina menggeleng "Dia kecapean doang, perlu istirahat selama 3 hari penuh, rencananya pulang sekolah ini gwe mau jenguk dia! Lo ikut kaga?" jawab Hermina cepat dan berhasil mendapat jawaban anggukan dari Alen "Terus Good News for today itu lo udah baca tentang informasi Olimpiade MIPA di mading belom?" tanya Hermina, Alen terlihat berfikir dan tanpa menunggu jawaban dari Alen ia langsung meracau "Yang ikutan Olimpiade MIPA tahun ini cuma kelas 10, kelas 11 dan 12 engga diperbolehkan, katanya sih buat pelatihan, entah pelatihan apa, gwe juga bingung, tapi gwe dapet kabar dari anak-anak sebelah, katanya kelas 12 kan mau konsentrasi UAN sama apatuh SNMPTN dulu apa UMPTN dulu ya? Gataulah gwe, pokoknya alesan kenapa kelas 12 gaboleh ikut gara-gara itu, sedangkan untuk kelas 11 katanya sih pada sibuk nyiapin party party gitulah yang diadain sebelum kelas 12 UAN, kan kalau acara selesai UAN tuh apasih Prom nah itu Prom!" cerocosnya.
  Alen mengangkat halisnya "Gangerti gwe sama kepsek sekarang, pelatihan apa coba buat anak kelas 10? Emang enteng apa Olimpiade kaya begituan? Ngegampangin banget siih!" komentar Alen sambil memasukan iPod kedalam ranselnya.
    "Eitss awas aja kalo lo kepilih! Ini masalahnya laen sis, lo tau? Ini lebih parah lagi, yang ikutan itutuh dicari nilai terbaik dari masing-masing kelas dan do u remember? Nilai lo paling gede terus dikelas ini! Siap-siap aja oke cantik!" seru Hermina dengan nada di manis - maniskan.
    "Tapikan gwe engga berminat ikut yang kaya begituan!" tukas Alen sambil mengeluarkan buku Matematika.
    "Gaberminat sih oke, tapi kalau dipaksa berminat? Mau gimana lagi coba, udahlah terima aja! Oia kan sekarang ada pelajarannya, siap-siap aja deh loo!!" seru Hermina bersemangat dan menghasilkan sungutan dari bibir Alen, ia hanya tertawa terkekeh-kekeh sambil duduk disebelah Alen.
  Gawat kalau gwe kepilih!, tukasnya dalam hati.

*to be continue
 

Selasa, 23 Agustus 2011

Land Life - cerbung eps.8 part #1

    "Braaakkk!!" suara bantingan buku di atas meja. Wajahnya merah padam. "Len, lo darimana aja? Untung aja Pa Gatot ga dateng!" ujar Hermina.
    "Heh Min, gwe lagi emosi nih emosi gwe!! Gwe sih gamasalah kalau sekarang Pa Gatot udah nongkrong di sono!" tanggap Alen kesal.
  Asya menurunkan kacamatanya "Terus lo kenapa dong? BT banget kayanya? Ini masih pagi loh Al!" komentar Asya.
  Alen menaruh kepalanya di meja dan detik kemudian mengangkatnya kembali "Gimana gwe kaga BT, tadikan gwe datang telat bareng lagi sama si culun itu! Padahal gwe udah usaha dengan penuh tenaga dan semangat ngebujuk satpam geblek itu biar bukain gerbang lah si culun malah balik badan dan ninggalin gwe!" terang Alen dengan perasaan kesal yang membara.
    "Culun?" tanya Hermina "Eh eh eh terus emang kenapa kalau si culun ninggalin lo?" lanjutnya.
    "Kalau dia ninggalin gwe ya gwe ga akan masuk kelas lah bego! Orang si satpamnya bilang kaya begini 'Noh onoh ada yang kesiangan langsung balik lagi, dia nyadar sama kesalahannya engga kaya kamu' dan bla bla bla, ya mau gimana lagi akhirnya gwe tarik aja tu orang!" jawab Alen masih dengan perasaan yang kesal.
     "Terus itu orang gimana? Dia ngomong sesuatu apa kek?" tanya Asya penasaran.
     "No! Kaga ngomong sama sekali! Akhirnya gwe doang yang nyerocos ngomong, hampir setengah jam gwe ngomong dan syukurnya dibuka tuh gerbang! Gwe udah seneng tuh bisa masuk dan tampang si culun biasa aja, dingin dan datar dan sialannya lagi waktu gwe sama dia lewat lorong depan itu, ketemu sama kepsek!" jawab Alen sambil melihat ke arah kedua sahabatnya, ketika ia melihat Asya akan segera melontarkan pertanyaannya ia langsung mengangkat tangan "Lo gausah tanya gwe bakalan ceritain, kepsek nyeramahin, lebih tepatnya marahin gwe sama si culun, dan sampailah pada babak terakhir, gwe dikasih hukuman ngebersihin lorong kelas 12 beserta kamar mandinya selama 3 hari setiap pulang sekolah dan istirahat sekarang gwe disuruh ke BP dan entahlah apa yang terjadi disono nanti, pasraaaaaah!!" lanjutnya.
  Hermina dan Asya menggelengkan kepalanya iba, "Jadi itu yang bikin lo BT?" tanya Hermina dan mendapat anggukan dari Alen "Tapi lo dihukum berduakan sama si culun - culun itu?" lanjutnya lagi dan kembali mendapat anggukan dari Alen.
     "Ngomong-ngomong si culun itu siapasih?" tanya Asya penasaran, berhasil mengeluarkan unek-uneknya yang sedari tadi ingin menanyakan tentang hal itu.
     "Pio! Giospio Mozart anak 11 IPA yang kemaren lo berdua tanyain!" jawab Alen ketus.
  Hermina dan Asya saling berpandangan dan "Yang waktu itu nyanyi bareng sama lo di halaman belakang?" tanya mereka serempak.
  Alen hanya mengangguk "Sialaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnn!!" teriaknya.
     "Waaah kesempatan dong Al buat PDKT" goda Asya sambil menyunggingkan senyuman manisnya.
     "GILA AJA LO! GWE DI HUKUM LO MALAH BILANG ITU KESEMPATAN BUAT PDKT HAH?!" sentak Alen, wajahnya kembali merah padam.
  Sontak seisi kelas menoleh ke arah Alen yang tengah menyentak Asya. "Sya, lo tuh harusnya mikir gwe tuh dikasih hukuman! Lo harusnya gausah nambahin kekeselan gwe dong! Lo kira itu bakalan jadi ajang buat gwe sama si Pio jadian apa?" cerocosnya.
     "Ya ampun Al maafin gwe, gwe tuh cuma mau bercanda" ujar Asya sambil menunduk.
     "Tapi lo harus liat dong, di situasi kaya gini lo bercanda? Ya jelas gwe sentak, apalagi bercandanya lo tuh bawa-bawa nama orang sinting dan bilang kalau itu kesempatan buat PDKT, ya jelas gwe kesel!" tukas Alen kesal.
     "Ia ia gwe salah Al, maafin gwe Al maafin gwe!" ujar Asya lagi.
     "Halaaah!" gertaknya sambil berdiri dan berjalan keluar kelas. Asya melihat perilaku Alen dan detik kemudian ia menitikan air matanya.
     "Mimin, gwe harus kaya gimana? Alen marah ama gwe!!" gumam Asya sambil memeluk Hermina.
     "Ga apa-apa sya, udah ga apa-apa, biarin si Alen nenangin dulu dirinya" tanggap Hermina.
  Alen berlari ke arah halaman belakang sambil menangis, ia berharap disitu engga ada Pio dan do'anya terkabul. Sosok Pio engga ada disana. "Maafin gwe sya, gwe kesel banget! Abis lo malah bercanda sih, maafin gwe sya maafin gwe!!" lirihnya.

***

     Tengg tenggg tenggg!! 
  Bel istirahat berbunyi dengan nyaring. Biasanya bel itu membuat bibir mungil Alen tersenyum, tapi sekarang engga, bibir itu mengerucut dan tanpa basa basi babi busuk ia langsung berjalan menuju kantor BP. Ketika ia masuk kedalam ruangan itu, ia melihat Pio tengah duduk santai, wajahnya lurus dan dingin tanpa beban dan tanpa dosa. Semua itu semakin membuat Alen kesal. 
     "Silahkan duduk Alena" suruh Bu Susan. 
  Alen duduk dengan perasaan deg degan yang luar biasa. "Giospio, Alena tadi bapa kepala sekolah telah menemui ibu dan kami telah merundingkan apa hukuman yang pantas untuk kalian!" seru Bu Susan tajam. 
  Baik Alen maupun Pio langsung terkejut dan saling berpandangan lalu detik kemudian menatap ke arah Bu Susan, menunggu kata yang akan diluncurkan selanjutnya "Hukuman tadi yang diberikan Kepala Sekolah ditarik dan di gantikan dengan Menyapu dan Mengepel Lab. IPA, Lab. Bahasa, Lab. Komputer dan menyapu halaman belakang!" ujarnya "Dikerjakan hari ini juga, semuanya dan besok akan ibu periksa apakah bersih atau tidak!" lanjutnya lagi. 
     "Maaf bu halamannya halaman belakang gedung sekolah yang jarang dipakai itukan?" tanya Pio. 
  Bu Susan menjawab dengan anggukan dan itu membuat bibir Pio mengembang. "Terimakasih bu, kami akan mengerjakannya dengan sebaik-baiknya dan sebersih-bersihnya" ujar Pio dengan senyumnya yang masih mengembang "Kami pamit dulu Bu, permisi" lanjutnya sambil menarik tangan Alen. 
     "Apa-apaansih, lepasin tangan gwe!" sentak Alen ketika telah keluar dari ruang BP "Heh lo tuh punya otak ga sih? Yang paling ngenes disini tuh gwe! Lo malah so imut so berbakti gitu, lo engga nyadara apa tadi pagi gwe yang banyak ngomong sedangkan lo? Lo cuma diem doangkan? Bibir gwe sampe keriting kaya gini cuma buat melas minta dibukain gerbang! Emang lo kira ngebersihin 3 Lab plus Halaman belakang itu mudah, gampang dan praktis? Cuma ngomong simsalabim aja? Engga! Itutuh butuh tenaga!!" lanjutnya. Nafasnya terengah-engah, menahan emosinya yang terus meluap-luap. 
  Pio hanya memandangi Alen dengan tatapan datar dan dingin, tidak ada sedikit pun tanda-tanda bahwa ia menyesal, kasihan atau apapun itu namanya. Ia tetap bergeming di tempatnya, menatap Alen lurus. 
     "Lo kenapasih? Cape gwe!" sentak Alen sembari mendorong tubuh Pio dan berlari menuju kelasnya. 
     "Gwe diem karna gwe suka lo kalau lagi marah Al" gumam Pio sambil berlalu menuju kelasnya.
  Sementara itu Alen pulang ke kelasnya dengan wajah yang benar-benar kusut bagai benang yang sangat sangat sangat kusut *eeh* "Untung lo orang, kalau bukan udah gwe gorok pala lo! Ga punya perasaan banget sih jadi orang, gabisa diandelin, dasar culun! Dasar culun!!" Alen mendumal.
    "Ngomel mulu deh, beneran cepet tua Al" ujar seseorang disebelahnya.
  Alen menoleh dan mendapati sang kakak tercinta telah berjalan beriringan dengannya "Ka Jo" lirihnya.
    "Hemm, ada masalah apalagi?" tanya Jo sambil menarik adiknya duduk didekat kantin.
    "Masalah kesiangan! Sejak engga bareng sama kakak Alen sering kesiangan tau!" jawab Alen dengan nada sedikit marah.
    "Loh loh kenapa nyalahin kakak? Salah siapa kamu sendiri bangunnya suka telat!" sanggah Jo sambil mengeluarkan permen karet dari sakunya.
  Alen membelalakan matanya "Kata siapa suka telat hah? Kata siapa? Kata siapa? Orang setiap kakak pergi naik mobil Alen suka ngeliatin dari kaca kamar koq!" tukas Alen sebal tidak terima dengan perkataan kakaknya.
     "So, what's your problem?" tanya Jo acuh.
     "Masalahku di biiissss kotaaa!!" jawab Alen setengah teriak.
  Jo mengangkat satu halisnya "Ada apa dengan bis kota?" tanya Jo.
     "Lamaaaaaaaa bangeeeeeet kaa datengnyaaa!! Apalagi yang lewat ke sekolah ini Je A Er A En Ge JARANG!!" jawab Alen "Udah ah!" sambungnya sambil berlalu meninggalkan Jo yang masih asyik mengunyah permen karetnya.
     "Dasar adik yang aneh, eh yang aneh aku apa dia ya? Hah sudahlah tak penting" gumamnya.

*** 

  Bel pulang telah berbunyi 10 menit yang lalu, Alen masih terduduk manis dikelas, mengetuk-ngetukkan jari-jarinya ke meja dan "Braaaakkkk!! Awas aja kalau lo belum dateng di Lab, gwe bantai!" serunya kesal sambil berjalan meninggalkan kelasnya. Ia berjalan menuju Lab. IPA dan menemui sosok culun itu tengah menyapu ruangan "Nah gitu dong, yang rajin ya Giospio!" serunya tajam.
     "Lo beresin Lab. Bahasa udah itu lo tungguin gwe di halaman belakang!" seru Pio tanpa menoleh ke arah Alen.
     "Lo tuh malah nyuruh-nyuruh gwe!" gerutu Alen sambil menendang pintu.
  Pio menoleh "Udah untung lo kebagian Lab. Bahasa, gwe? Lab. IPA sama Lab. Komputer, gwe engga sejahat apa yang lo kira, gwe juga punya perasaan, gwe tau lo cewe, gwe tau dan sadar banget kalau lo yang tadi pagi udah nyelamatin gwe!" sentak Pio "Dan gwe mohon lo keluar dan cepet beresin Lab. Bahasa, biar lo sama gwe cepet balik!" sambungnya.
  Dengan wajah yang cemberut dan bibir yang mengkerucut, Alen segera mengangkat kakinya untuk berjalan menuju Lab. Komputer "Iiih, nyebelin juga tu orang, udah tadi sikapnya dingin, sekarang malah marah-marah gajelas! Tapi ternyata si Pio bisa juga ya marah, ya berarti dia normal dong, berarti dia manusia asli bukan palsu, hah iasih udah syukur dikasih Lab. Bahasa doang, untungnya juga ruangannya engga segede Lab. IPA sama Lab. Komputer, baik juga tuh orang tapi nyebelin!" dumalnya.
     "I don't know you, but I want you, all the more for that, words fall through me and always fool me and I can't react  and games that never amount to more than they’re meant, will play themselves out ..." mulut Pio mulai melantunkan lirik demi lirik lagu Falling Slowly- nya Kris Allen. Ia menyenandungkan lagu itu sembari membersihkan ruangan-ruangan yang menjadi tugasnya, menurutnya bekerja sambil bernyanyi engga akan kerasa capenya karena dikerjakan sesuka hati. Sedangkan di Lab. Bahasa ... "Ya ampun, kena baju kan air nya, iih jorok aah .." gerutu Alen sambil mengepel ruangan.
  
***

     "Mana lagi Pio, ini udah mau jam 7 malem juga, masa belum beres sih?" gumam Alen sembari melihat jam di tangannya. Handphone nya berdering, ia segera merogoh sakunya dan melihat siapa penelepon itu "Ia ka?" tanyanya. 
     "Kamu lagi dimana?" tanya Jo diseberang sana. 
     "Masih disekolah, masih ngejalanin hukuman, nanti kalau udah beres Alen minta jemput koq sama kakak, tenang aja, kakak engga akan kehilangan job ngejemput koq!" jawab Alen nyerocos. 
    "Halah, yasudah tuan putri kalau sudah selesai cepat-cepat telfon, baik-baik disana yaa, daaah!" tanggap Jo dan Piiip ..., mati. 
  Alen menghela nafas panjang, angin malam memainkan rambut indahnya, "Aduuh, gwe ga bawa jaket lagi! Mana baju masih basah gara-gara tadi, Pio lama banget aah!!" serunya mulai kesal. Ia berjalan menuju pohon dan bersandar disana. Saking capenya ia sampai tertidur. Pio datang tepat saat Alen baru tertidur. 
     "Al, Alena .." panggilnya lembut. 
  Lambat-lambat mata Alen terbuka dan mendapati sosok orang yang di tunggu-tunggunya telah datang, sontak matanya langsung membelalak lebar "Lo darimana aja sih? Lama banget!" 
     "Sorry gwe baru beres, ayo cabut!" ajaknya sambil menarik tangan Alena. 
     "Duh duh duh, pelan-pelan gwe cape" tukas Alen sambil melepaskan tangan Pio. 
     "Sorry .." lirihnya. Akhirnya mereka berjalan saling beriringan, penampilan Pio masih rapih dengan bajunya yang dikancing semua, sedangkan Alen udah engga karuan, wajahnya terlihat cape dan ia mendekapkan tangannya di dada "Lo kedinginan Al?" tanya Pio. 
     "Ia, terus lo mau ngapain? Mau nyalain api hah?!" jawabnya ketus. 
  Pio membuka resleting tas Polo- nya "Niih pake jaket gwe!" seru Pio sambil menyodorkan jaketnya. 
  Alen menoleh, melihat wajah Pio, wajahnya masih tetap dingin dan lurus, Alen mengambil dengan malu-malu dan ia mencium aroma jaket itu "Wangi, baru di cuci" gumam Pio. 
     "Terus kenapa tadi pagi engga lo pake?" tanya Alen. 
     "Udahlah gapenting nanya yang kaya gitu, pake aja, daripada lo dingin" jawab Pio "Lo pasti dijemput sama kakak lo kan? Gwe duluan, sampai ketemu besok! Oia jangan lupa berdo'a biar besok Bu Susan ga periksa hasil kerjaan kita! Duluan Al, hati-hati .. " sambungnya sambil berlari menuju jalan raya. 
     "PIOOOOO!!! MAKASIHHH!!" teriak Alen spontan, namun sayangnya Pio tidak membalikan badannya "Huuh kaga balik badan lagi, dasar!!" lanjutnya. 


*to be continue




Jumat, 29 April 2011

Land Life - cerbung eps.7 part #1

  Setelah insiden ke tololannya Alen, akhirnya mereka; Alen, Asya dan Hermina menjelajah dari satu toko ke toko lain dan sampai disuatu moment dimana mereka kehabisan tenaga dan memutuskan untuk beristirahat.
    "Heh kalian, koq tadi manggil gwe Lady Al sih? Emangnya gwe putri apa? Emang gwe mirip ama Lady Diana ya?" cerocos Alen, membuka pembicaraan sambil menyeruput Ice Cappuccino nya.
    "Engga sih, emang engga boleh ya Al?" tanya Hermina menanggapi ocehan Alen.
  Alen menggerak-gerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan, di akhiri dengan gerakan mengangkat bahu "Ya berasa engga pantes dan aneh! Eh gwe ke toilet dulu ya, kebelet niih, oia jagain tuh belanjaan gwe, kalau engga gwe mutilasi!" jawabnya sambil berdiri, dan bersiap pergi ke toilet dan bruggg!! "Heh kalau jalan liat-liat doo .. Lo? Ngapain lo disini?"
  "Gwe? Gatau gwe juga. Sorry gwe lagi buru-buru, mau ke toilet nih!" jawab seorang lelaki yang menabrak Alen beberapa detik yang lalu.
   "Heh tunggu! Bareng aja ama gwe!" serunya, dan detik kemudian sadar dengan apa yang ia lontarkan "Eh maksud gwe, lo ke toilet cowo gwe ke toilet cewe!" ralatnya "Oia, nyanyi lagi dong!" pintanya sambil menahan hasrat ingin kencingnya.
   "Hah? Emang lo suka sama suara gwe?" tanyanya.
   "Yahaa!! Eh nanti deh hari senin nyanyi bareng lagi dong sama gwe, nanti senin gwe ke tempat keramat lo lagi, tapi nanti gwe pengen nyanyi lagunya Daniel Bedingfield yang If Your Not The One! Lo hapal engga liriknya? Kalau engga mendingan lo apalin dulu geh! Udah dulu ye gwe kebelet niih, katanya lo buru-buru tapi jalannya nyantei amat! Udah gwe duluan, daaah Pioooo!!" jawab Alen panjang lebar seraya berlari menuju toilet wanita.
  Pio menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis, mulutnya mulai membuka "If you're not the one then why does my soul feel glad today? If you're not the one then why does my hand fit yours this way? If you are not mine then why does your heart return my call? If you are not mine would I have the strength to stand at all?" ia mulai asyik menyenandungkan lirik lagu itu sambil masuk ke dalam toilet pria.
  Setelah selesai membuang air kecil yang sedari tadi ditahannya, Alen berjalan menuju wastafel, menekuni tiap lekukan wajahnya, kemudian ia pijit keningnya dan disusul dengan siraman air, Ya Tuhan jangan yah jangan dong, masa gwe harus suka sama dia sih? Diakan culun!, serunya dalam hati dan berjalan keluar toilet.

***
    "I never know what the future brings, but I know you're here with me now, we'll make it through and I hope you are the one I share my life with ..." 
    "Al lagunya jangan yang ini melulu, bosen tau dengernya, dari sejak pertama masuk mobil lagu ini aja yang terus lo puter!" komentar Hermina gusar. 
  Alen mengangkat bahunya dan melanjutkan kembali lirik lagu itu "I don't wanna run away but I can't take it, I don't understand, if I'm not made for you then why does my heart tell me that I am? Is there any way that I can stay in your arms? ..."
    "Ih dasar ni anak satu, bandel amat sih jadi orang, mau gwe jadiin kelepon? Jangan deng kasian, nanti kak Jo marah sama gwe! Eh, tadi cowo culun itu siapa Al?" tanya Hermina dan berhasil menyita perhatian Alen yang tengah asyik menyenandungkan lirik lagu. Alen mendelik dan langsung terdiam "Heh gwe nanya nih, malah diem!"
    "Ia Al, yang tadi siapasih?" tanya Asya, ikut-ikutan membombardir dengan pertanyaan serupa. 
  Alen menghela nafas panjang, mengganti lagu If Your Not The One dengan lagu Stand By Me - Shinee "Dia? Lo berdua udah tau kali, dia tuh Ce O We O = COWO! Intinya dia manusia yang tumbuh dan berkembang" jawab Alen "Stand by me nal parabwajwo, ajik sarangeul morujima, stand bye me nal jikyobwajwo, ajik sarange sotul jiman" lanjutnya, bukan jawaban melainkan lantunan lirik lagu. 
    "Kalau MANUSIA BERKELAMIN COWO gwe sama si Asya udah tau! Yang gwe maksud DIA ITU SIAPANYA LO!" sembur Hermina mulai gereget dengan respon yang diberikan Alen. 
    "Just Friend, Not My Boyfriend!" seru Alen dan kembali menggumamkan lirik lagu Stand By Me lagi. 
  Asya dan Hermina saling berpandangan "Yakin lo cuma temenan doang?" selidik Asya mulai memicingkan matanya, menurunkan kacamatanya sampai hidung. 
  Alen mengangguk mantap "Emang kenapa sih?" tanyanya heran. 
    "Aneh Al, soalnya tadi pas gwe liat lo ditabrak sama dia, lo engga marah-marah sama dia, biasanyakan lo suka marah-marah sampe nyedot perhatian orang-orang, tapi tadi, malah lo kejar, terus jalan bareng dan yang lebih anehnya lagi lo ngobrol sama dia, dan yang kebanyakan ngomong itu lo bukan dia!" seru Asya, mengingat kelakuan Alen yang tidak seperti biasanya. 
    "Apaan sih? Lo engga ada kerjaan bangetlah merhatiin gwe! Udahdeh, kan gwe udah bilang dia itu CUMA TEMEN GWE!!" sembur Alen, mulai kesal dengan ocehan Asya. 
  Mulut Asya hampir saja terbuka, hampir saja mengeluarkan pertanyaan lagi, namun Alen keburu sadar "Jangan nanya lagi, mau gwe turunin disini?!" 

*** 
  Setelah selesai mengantarkan kedua sahabatnya dan setelah sampai di pelataran rumah, ia langsung berlari kedalam rumah sembari menjingjing berbagai macam paper bag dari berbagai toko. Wajahnya kusut, semrawut "Haaah, cape! Kak Jo udah balik belum ya?"
    "Udah non belanjanya? Mobil saya engga ada yang lecetkan?" tanya Jo, selalu saja datang tiba-tiba *apakah dia JIN?* 
  Alen memamerkan deretan gigi rapihnya "Udah, tuh liat banyakkan? Tenang aja bos, engga ada yang lecet, muluuuuusss!!" jawabnya "Gimana date nya sama ka Zahra? Lancaar?" tanyanya seraya membuka cardigan merahnya. 
  Jo tersenyum penuh makna "Sinideh!" suruh Jo sambil menarik tangan Alen. 
    "Apaansih? Cape nih cape!" tukas Alen. 
    "Zahra ada disini, dia lagi ngelukis tuh di atas, kamu samperin gih, sapa atau gimana gitu!" seru Jo sambil mendorong bahu Alen. 
    "Ogah, Alen cape, udah sana ama kakak aja temeninnya! Alen mau ke kamar aja, udah cape ka udah cape ini, kalau mau ngajakin ngobrol besok aja gitu yaaa!!" gumam Alen, membalikan tubuhnya, meraih big red bag dan paper bag nya "Satu lagi, jangan ganggu Alen ya, mau MEDITASI!" sambungnya. 
    "Apaan Meditasi? Hah, yaudalah terserah deh!" seru Jo cuek dan berjalan menghampiri Zahra yang tengah duduk dengan manis, memegang panel dan kuas, tersenyum tipis seraya menggoreskan berbagai macam warna di atas kanvas "Gimana sayang udah jadi gambarnya?" tanya Jo sambil duduk disebelah Zahra. 
    "Belum, akukan engga bisa, bukannya kamu yang bisa Jo?" 
  Jo tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Zahra, tanpa basa basi babi busuk lagi dia langsung meraih tangan Zahra yang masih memegang kuas "Melukis itu harus pake perasaan Ra, pelan tapi pasti .." ujar Jo, mulai menggoreskan garis-garis kasar diatas kanvas, entah akan melukis apa. 
  Zahra tersenyum, ia merasakan ketulusan hati Jo untuk mencintainya, Jo apa bener kamu menerima aku apa adanya bukan ada apanya? Aku takut kehilangan kamu, gumamnya dalam hati. 
    "Nah gini, Ra ngertikan caranya?" tanya Jo setelah ia menerangkan cara melukis dengan perasaan kepada Zahra. 
  Zahra tergagap dan tersenyum tipis "Ngerti ngerti, tapi masih perlu waktu buat bikin yang bagus kaya kamu!" jawab Zahra asal, mencoba menyembunyikan perasaannya, namun tetap saja sia-sia. 
    "Kamu lagi mikirin apa? Cerita sama aku kalau ada masalah, engga usah malu Ra" ujar Jo, melepaskan genggamannya dan saat itupula Jo mendapatkan jawaban gelengan dari Zahra "Don't lie to me, don't hide anything from me, talk to me Ra" ujarnya lagi, kini kedua tangannya memegang wajah Zahra. 
  Zahra memegang kedua tangan Jo "Aku masih ragu apa kamu bener-bener menerima aku apa adanya Jo?" tanya Zahra ragu sambil menatap mata Jo lurus. 
  Jo tersenyum "Kamu perlu bukti apalagi Ra? Apakah semua ini belum cukup? Aku menerima kamu apa adanya, trust me please, aku engga akan nyakitin kamu Ra, kalau bisa dan kalau kamu mau aku mau hubungan kita serius, biar sampe ke jenjang pernikahan!" jawab Jo panjang lebar. 
  Zahra tertawa kecil dan mencubit hidung Jo "Nikah aja, lulus SMA aja belum tentu" ujarnya seraya mencoel cat minyak yang ada di panel dan mengoleskannya ke pipi Jo "Makin ganteng deh kalau dioles pake ini" sambungnya lagi, berlari menghindar dari Jo yang tengah membersihkan pipinya. 
    "Zahraaaa, jail ya, I'm coming!!" serunya seraya mengejar Zahra yang telah berlari menjauh dari dirinya. Akhirnya mereka saling kejar mengejar, bagaikan Shahrul Khan dan Kajol Devgan di film india. 
  Alen melihat kejadian itu, ia tersenyum bahagia, kak Jo seneng banget ya jadian sama kak Zahra, lah gwe? Masih menjomblo, dasar GERA sialan!!, umpatnya dalam hati. 

Kamis, 28 April 2011

Land Life - cerbung eps.6 part #1

  Kepala boneka Mickey Mouse telah menunjukan pukul 09.10, ia telah siap dengan black T-shirt yang dipadu padankan dengan cardigan dan jeans warna merah. Ceileh wajah gwe koq tumben cantik ya?, tanyanya dalam hati, masih berdiri didepan cermin, memandangi pantulan dirinya yang memang udah dari dulunya cantik, hanya saja Alen tidak pernah menyadari hal itu.
    "Cie, mau kemana de? Udah kinclong pagi-pagi gini!" tanya Jo sambil menelengkan kepalanya di pintu kamar Alen "Jangan bilang mau pergi kencan!" sambungnya lagi.
  Alen mendelik dan memanyunkan bibirnya "Bukanlah, mau KENCAN sama siapa? Sama kebo?" tukas Alen seraya merapihkan rambutnya "Alen mau jalan-jalan sama si Mimin sama si Asya!" lanjutnya.
    "Naek apaan? Motor? Gile aja, nyari ribut ama polisi nih ceritanya?" tanya Jo lagi, kini ia telah duduk di ranjang Alen.
  Alen membelalakan matanya "Alen juga mikir kali ka, gila aja naik motor bertiga!" jawabnya "Lagian Alen mau bawa mobil, itu mobil yang Ferrari nganggur kan? Sayang kalau cuma dijadiin pajangan doang!" sambungnya lagi.
    "Apaan? Waduh Al, jangan ngaco deh, nanti ayah marah! Kamu belum punya SIM juga!" komentar Jo sambil menatap Alen tajam "Gimana kalau ada apa-apa? Kamu belum lancar tau!" sambungnya lagi.
    "Aku udah lancar ka, engga usah khawatir! Kalau kakak engga mau aku bawa mobil merah itu, sini kunci mobil kaka, aku pake yang kaka aja!" tukas Alen, membalas tatapan tajam Jo.
    "Engga bisa, kaka juga mau ngajak jalan-jalan Zahra!" seru Jo bersemangat "Yaudah bawa ajalah sono, kalau ada apa-apa jangan salahin kakak ya!"
  Alen hanya mengangguk dan mengambil big red bag nya dan menyandangkannya di bahu "Berangkat dulu, semoga jalan-jalannya indah with your princess!" serunya seraya berjalan menuju garasi mobil.

*** 

    "Gwe udah di depan nih, lo jalan ke gardu depan dong!" seru Alen ketika telfon telah diangkat oleh Asya "Sekalian juga beliin gwe permen kopi ya, gwe tunggu looh!" sambungnya lagi. 
    "Yes Lady Ale" jawab Asya "Yaudah duduk manis ye disitu, bentar lagi gwe kesitu" 
  Setelah telfon dari Asya terputus ia segera menyambung telfon kepada Hermina. Detik kemudian terdengar nada tunggu yang menurut Alen tidak patut untuk dijadikan nada tunggu dan ... "Halo Min, lo udah mandi kan? Gwe lagi nunggu si Asya nih, bentar lagi gwe otw kesitu! Awas lo jangan bilang kalo lo belum mandi, gwe cincang lo!" cerocos Alen ketika telfon telah diangkat oleh Hermina. 
    "Yes Lady Ale" jawab Hermina, sama dengan jawaban yang diberikan Asya "Gwe udah mandi dari tadi juga tinggal nungguin lo! Oia, lo jemput gwe sampe rumah ya, gwe males jalan!" sambungnya lagi. 
    "Hah? Apaan? Gamau ah, lo aja yang jalan kedepan, harus sama dong kaya si Asya! Udah pokoknya pas nanti gwe udah dateng ke depan perumahan lo, lo udah harus standby disana, biar cepet!" tukas Alen, menolak untuk menjemput kedalam perumahan. Gwe sih pengen ngejemput sampe depan rumah, masalahnya gwe takut mobil gwe lecet, kalau lecet gwe dicincang ama ayah! Mati daaah!, serunnya dalam hati. 
  Belum sempat ia mematikan telfonnya, Asya terlihat celingak sana celinguk sini mencari sosok Alen (catatan: dia engga tau kalau Alen bawa mobil Ferrari) "Min udah dulu ye, si Asya nyariin gwe, pokoknya lo harus udah standby, titik engga pake koma!" seru Alen sambil menutup telfon dan keluar dari mobil merah itu. 
    "Woii! Celingak-celinguk aja lo, emang engga keliatan apa gwe didalem mobil?" tanya Alen sambil mengagetkan Asya. 
    "Sableng! Untung aja jantung gwe engga copot! Apaan? Gwe engga tau lo pake mobil yang mana! Makanya gwe celingukan!" 
    "Ooh, tuh gwe bawa mobil itu! Ayo cepetan, kasian si Mimin udah nungguin!" serunya seraya menarik tangan Asya menuju mobil Ferrari yang indah itu. 
  Asya memasang tampang takjub dan tak percaya "This your Car Lady?" tanya Asya sambil mengatupkan bibirnya. 
  Alen tersenyum sambil mengangguk "Punya ayah gwe sih, tapi katanya bwt gwe, udahlah ayo masuk, tapi hati-hati ya jangan sampe ada yang lecet, soalnya kalau lecet gwe yang bakalan di cincang ama ayah gwe!" jawab Alen. 
    "Ok, ok! Hari ini adalah hari terindah gwe, baru kali ini gwe naik mobil Ferrari, kereeeen!!" seru Asya seraya membuka pintu mobil "Ntar Al, ini mobilkan cuma 2 jok, si Mimin disimpen dimana?" tanya Asya ketika menyadari sesuatu yang janggal di mobil itu. 
  Alen mengatupkan bibirnya, kaget "Oia gwe lupaaa!! Gimana dong???" Alen bertanya dengan gusar, bingung "Aduuh gimana dooong?? Masa gwe harus nganterin lo dulu terus ngejemput si Mimin? Masih mending jalanan lenggang, lah ini? MACET!!" 
    "Lo nya sendiri BEGO! Masa lo engga nyadar mobil ini cuma muat 2 jok?" 
    "Ia ia gwe lupa! Yaudah gwe balik dulu kerumah, gwe mau bawa mobil kak Jo aja, lo tungguin disini!" seru Alen dengan gerakan tangan kesana-sini, bingung. 
  Satu jitakan mendarat di dahi Alen "Bodoh! Gwe ikutlah, masa gwe ditinggalin disini? Otak lo udah pindah tempat ya? Kalau lo ninggalin gwe disini, itu berarti lo harus balik lagi kesini! Makin lama bego!!" seru Asya gemas "Udah cepet jalan!" suruhnya. 
  Akhirnya dengan cekatan dan juga ekstra hati-hati, Alen mengendarai mobil Ferari itu. Kenapa gwe sampe engga nyadar kalau mobil ini cuma muat 2 jok doang? Apa gwe nya yang katro atau gwe yang terlalu bersemangat jalan-jalan??, tanyanya dalam hati. 

***

    "Kak Joooo!!!!" teriak Alen ketika ia memasuki rumahnya. 
  Si mpunya namanya pun menelengkan kepalanya dilantai atas, ia hanya memakai sehelai handuk yang dililitkan dipinggangnya "Apaansih? Teriak-teriak emang ini hutan?" tanya Jo. 
  Alen langsung berlari menghampiri kakaknya "Auw porno!" serunya, berlaga menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya "Engga jadi naik mobil Ferrari ah, pengen naik mobil ka Jo aja!" sambungnya lagi.
    "Kenapa emang? Kan keren tuh bawa mobil Ferrari" cibirnya, menanggapi kata-kata Alen. 
    "What? Kereeen? Hah? Jok nya cuma 2 bung! Aku butuh 3! Si mimin mau disimpen dimana kale kalau cuma 2 jok" tukas Alen "Kuncinya dikamar kan?" tanyanya seraya berlari masuk kedalam kamar Jo, yang Inalillahi acak-acakkan banget. 
    "Heh heh heh, mau apaan? Heh itu mobil mau dipake sama kakak heh! ALENA!!" serunya seraya mengejar Alen yang telah berhasil mengambil kunci mobil BMW Gran Turismo miliknya.
   Alen meleletkan lidahnya "Awas anduknya kebuka, nanti anu nya keliatan! HAHAHAHA ... Udah naik mobil 2 jok itu aja, Alen pinjem mobilnya yoo!!" seru Alen sambil berlari dengan lincah, masuk mobil, menyalakan mesin dan keluar dari pelataran rumahnya.
  Ctreek ..  N'Sync - That's When I'll Stop Loving You .. lagu itu mengalun-ngalun, membuat Alen menggumamkan lirik-lirik lagu itu, tapi tiba-tiba Hp nya bunyi, ia merogoh saku celananya dan sejurus kemudian mengangkat telfon itu "Sorry bu, gwe balik dulu ke rumah, mobil tadi cuma 2 jok!" seru Alen.
    "Hadeh, gwe udah kepanasan gini bodoh! Yaudah cepetan kesini, lo sama si Asya kan?" tanya Hermina dengan nada yang super kesal.
    "Ia, gwe sama si As.. " jawabnya ragu ketika melihat jok disebelahnya kosong "Si Asya KETINGGALAN DI RUMAH GWE!!!" sambungnya sambil berteriak "Min, anak orang min gwe tinggalin di rumah gwe! Udah ya mimin sayang tungguin gwe, bentar lagi aja! Anak orang, dosa kalau gwe kaga balik lagi!"
    "Haaah, my face udah item ALEN!! Buru ah, panas nih!!"
  Alen enggan membalas kata-kata Hermina, ia langsung mematikan Hp nya dan langsung memutar balik, kembali menuju rumahnya. Aaaah beneran deh otak gwe kenapasih? Temporary Hang kah? BELOON kah?, umpatnya dalam hati.

*to be continue







Kamis, 21 April 2011

Land Life - cerbung eps.5 part #1

  Hari demi hari terus ia lewati, dan selalu ia tanamkan kata-kata yang meluncur dari mulut Jo. Gwe harus kuat, kalau kaya begini terus ibu bakalan sedih! Be Fight Al, yakinnya dalam hati. Pagi yang indah, pagi dimana ia akan BANGKIT dari keterpurukannya, akan BANGKIT dari belenggu kesedihan yang mengganggunya. Seperti biasa, ia menemukan dua orang laki-laki tengah duduk mengelilingi meja makan, melahap sarapan masing-masing. "Pagi ayah, kak Jo .." sapanya dengan riang seraya duduk dipinggir ayahnya.
    "Pagi juga adikku yang cantik" sahut Jo membalas sapaan adiknya sambil tersenyum lebar. Namun sayang, seorang lagi tidak membalas sapaan dari anaknya. Alen menatap Jo dengan perasaan menyesal, namun Jo segera menggelengkan kepalanya, seakan bilang Abaikan!
  Breakfast pagi itu tidak berjalan dengan mulus, masih ada kerikil bertaburan disana-sini. Sikap ayah benar-benar membuat Alen selalu merasa kehilangan sosok ayahnya yang dulu, ayahnya yang hangat ketika almarhumah ibunya masih ada. Ya Tuhan, kembalikan sosok ayah yang dulu, jangan sampai aku membencinya, lirihnya dalam hati. Untung saja breakfast pagi itu setangkup roti isi (eh bukannya tiap hari juga itu?) jadi Alen bisa memakannya di mobil Jo "Kak berangkat sekarang yu, Alen mau persiapan praktikum IPA nih, gurunya ileng!" seru Alen seraya berdiri dari tempat duduknya "Yah, Alen berangkat ya!" lanjutnya lagi sambil menyalami ayahnya dan segera bergegas pergi meninggalkan meja makan menuju mobil Jaguar Sport yang terparkir elegant di halaman rumah dan detik kemudian ia masuk kedalam mobil dengan gusar.
    "Baru juga tadi senyumnya dipasang, sekarang udah suntuk lagi! Kata kaka juga A-B-A-I-K-A-N!" seru Jo sambil menyalakan mobil "Udadeh, mendingan sekarang kamu anggap kejadian tadi engga pernah terjadi dan engga akan terjadi lagi, gimana?" tanyanya, meminta persetujuan dari adiknya.
  Alen mendelik dan memicingkan kedua matanya "Oke! Yang tadi itu anggap aja angin lalu! MITOS!!" jawabnya bersemangat "Mungkin ayah lagi sariawan, makanya engga ngejawab! Positive Thinking Al!!" sambungnya lagi.
     "Naah gitu dong, baru kakak demen nih kalau kaya gini, itu baru yang namanya Alena Ghaisani, adik kesayangannya Jovan Ghaisan!" seru Jo tak kalah semangat "Tetep kaya gitu ya sayang! Ibu tersenyum!" lanjutnya sambil menyubit pipi Alen gemas. Alen tersenyum penuh arti dan mendekapkan tangannya di dada. Bu, Alen sekarang bakalan mulai belajar menerima semua ini!!

***

    "Cie wajahnya cerah gitulah, dapet durian runtuh bu?" tanya Hermina ketika Alen datang dengan wajah yang ceria, semenjak turun dari mobil kakaknya, senyum lebar itu terus menghias dibibirnya, menunjukan lesung pipi yang indah. 
    "Bukan bukan, gwe lagi mulai hari gwe dengan senyuman!" jawab Alen riang "Oia Min, besok hari Sabtu kan?  Anterin gwe jalan-jalan yoo! Asya juga ikut! Gwe yang bawa mobil deh!" lanjutnya. 
   Asya dan Hermina saling berpandangan "Emang lo udah punya SIM?" tanya Asya "Kalau engga jangan deh Al, nanti kalau ditangkep polisi gimana? Mendingan naik bus atau apakek daripada naik mobil sama lo engga bawa SIM!" sambungnya. 
     "Kata Pak Polisi engga boleh Al, melanggar aturan itu!" tanggap Hermina. 
     "Calm ajalah, calm kalau sama gwe tuh, gausah ribet, yang penting lo berdua gausah ribut! Gimana?" tanyanya, berharap kedua sahabatnya itu menyetujui. 
     "ENGGA!!" seru mereka berdua serempak "Emang lo bisa naik mobil apa?" tanya Hermina ragu. 
     "Ya bisa dong Min, kalau engga bisa ngapain gwe ngajak lo berdua? Udahlah soal SIM gampang, ntar juga lo tau sendiri, yang penting sekarang lo ikut aja! Engga akan gwe bawa kabur koq, gwe mau belanja nih!" jawab Alen panjang lebar. 
     "Engga, Iya? Engga, Iya? Engga, Iya? Engga, Iya? Iya deeh kalau lo mau tanggung jawab kalau ada apa-apa!" seru Asya tersenyum lebar "Asal traktir deh, haha ..." 
  Alen dan Hermina menggelengkan kepalanya dan detik kemudian mereka mulai bercanda ria, ngobrolin ini dan itu, nge GOS di pagi hari. Alen sangat berharap hari ini dan hari-hari selanjunya akan menjadi hari yang indah, hari tanpa air mata, hari dimana ia akan menjadi orang yang riang dan ceria. Gwe harap begitu ...

*** 

  Istirahat pertama, Alen sempat bertemu dengan Jo di kantin, mereka berdua hanya mengobrol sebentar dan Jo memutuskan untuk pergi. Istirahat itu Jo akan bertemu dengan seseorang, eem ... Someone Special tepatnya. Alen memang belum dikasih tau tentang ini, namun Jo berjanji akan mengenalkannya langsung. 
    "Udah lama nunggu?" tanya Jo, ketika ia mendapati perempuan itu tengah berdiri di atap gedung sekolah.
  Perempuan itu menoleh dan tersenyum "Engga koq, sini!" jawabnya seraya menyuruh Jo ikut berdiri disampingnya memandangi pemandangan indah dari atas atap sekolah "Untung hari ini engga terlalu panas" sambungnya. 
    "Iya, kamu koq ngajak ketemu disini sih? Kenapa engga di kantin aja? Atau mungkin di taman?" tanya Jo sambil memberikan es krim ke perempuan itu.  
  Ia tersenyum "Disini enak Jo, anginnya semilir, jarang loh ada orang yang datang kesini, lagian aku engga mau orang-orang tau kalau aku ini pacar kamu!" jawab perempuan itu seraya menjilat es krim nya. 
    "Lho? Why?" tanyanya lagi, merasa aneh dengan jawaban kekasihnya itu. 
    "Engga koq, aku belum siapa aja Jo, kamu tau kan aku cuma seorang perempuan biasa, engga populer disekolah ini dan aneh dong kalau orang tau aku sama kamu pacaran, perbedaannya jauh Jo, kamu populer banget di sekolah!" jawabnya sambil tersenyum tipis. 
  Jo menggelengkan kepalanya dan memegang bahu kekasihnya, memalingkan wajahnya agar menatap ke arahnya "Dengerin Zahra, aku mencintai dan menerima kamu apa adanya, bukan ada apanya!" serunya "Abaikan orang-orang diluar sana, terserah mereka mau apapun itu, yang penting aku nerima kamu apa adanya, aku engga peduli sama mereka! Lagian kurangnya kamu apa? Kamu punya cinta buat aku pun itu udah cukup, aku engga menuntut lebih Ra!" sambungnya seraya menarik tangan Zahra "Kamu pacar aku, siapapun yang ganggu kamu akan berhadapan dengan aku!" 
  Zahra mengenggam erat tangan Jo dan tersenyum "Thanks Jo" ujarnya. 
  Jo kembali tersenyum dan merangkul Zahra "Kamu engga usah takut lagi ya, engga usah malu!" serunya "So, maukan aku kenalin sama temen-temen aku?" sambungnya dan mendapat jawaban anggukan dari Zahra.

 *** 

    "Alena!!!" teriak Asya ketika mendapati Alen tengah tertawa-tawa dengan Hermina "Lo udah tau? Lo udah tau kakak lo punya pacar?" tanya Asya memburu napasnya yang terengah-engah. 
  Mata Alen membelalak lebar "APA??" tanyanya dengan suara yang benar-benar tinggi. 
  Asya mengangguk-angguk "Tadikan gwe ngasih buku ke ka Raisa, nah disitulah gwe ngedenger anak-anak kelas 12 gencar kalau kaka lo udah punya pacar!" seru Asya "Kalau lo masih engga percaya, lo bisa tanya sama kakak lo sendiri! Tadi kalau engga salah gwe liat dia lagi berdiri didepan kelas 12.1 IPA" sambungnya lagi. 
  Tanpa basa basi babi busuk, Alen langsung berjalan ke arah kelas 12.1 IPA. Marah sih engga, cuman engga percaya aja dengan apa yang dikatakan Asya. Alen sedikit berlalri, takut kalau Jo udah engga ada di tempat, aduuuh koq ka Jo tega banget sih adiknya engga dikasih tau??, rengeknya dalam hati. 
    "Nyariin Jo ya?" tanya seseorang yang tidak dikenali oleh Alen. Ia hanya menjawabnya dengan anggukan kepala "Tuh disana, lagi duduk bareng pacarnya!" 
  Alen langsung berlari menuju tempat yang ditunjukan oleh orang tadi dan benar saja, ia melihat Jo dengan seorang perempuan tengah tertawa-tawa riang "Kak Jo?" panggil Alen lirih. Ketika itu juga Jo menoleh ke arah Alen dan tersenyum. 
    "Sini, duduk disini, disebelah kak Zahra" jawabnya seraya memberikan ruang untuk Alen. Zahra tersenyum menyambut kedatangan Alen "Kamu pasti tau dari Asya?" tanyanya dan mendapat jawaban anggukan dari Alen "Maaf ya sayang, niatnya sih kakak mau ngasih tau kamu nanti pulang sekolah, tapi udah keburu sama orang lain. Yaudah kenalin, ini pacar kakak, Zahra!" 
  Alen menatap Zahra dengan perasaan tak percaya, cantik juga, kenapa bisa cantik? Perasaan gwe baru liat ni orang, gumamnya dalam hati "Alena Ghaisani" ujarnya sambil menjulurkan tangannya ke arah Zahra.
    "Zahra Damia" sambutnya seraya tersenyum manis, memamerkan deretan gigi nya yang rapih. 
    "Nah kalian udah saling kenal, gimana kalau nanti pulang bareng? Biar bisa ngobrol bareng?" tanya Jo sambill merangkul Alen "Maukan Al?" 
  Alen masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, sehingga ia hanya bisa mengangguk dan berkata "Boleh" namun detik kemudian segera mengatupkan bibirnya, tak percaya dengan apa yang meluncur dari mulutnya. Daripada gwe diem disini, lebih baik gwe cabut "Ka Jo, Ka Zahra gwe, eh aku mau ke kelas dulu ya, permisi" ujarnya sambil berdiri dan langsung berlari. 
    "Kamu yakin adik kamu bisa nerima aku?" tanya Zahra dengan nada sedih. 
  Jo menggenggam tangan Zahra "Bisa, dia bisa nerima kamu apa adanya, percayalah ..." 

*** 

    "Kenapa kakak engga ngasih tau aku dari dulu? Kenapa ka? Aku kira kakak sama dia baru jadian, ternyata udah 1 minggu lamanya! Tega ya engga ngasih tau adiknya!" seru Alen ketika Zahra telah turun dari mobil Jo "Dapet darimana? Koq cantik sih? Perasaan jarang keliatan!" 
  Jo tersenyum dan mencubit pipi Alen dengan gemas "Sorry, kakak sih mau cari waktu yang tepat sayangku. Yaiyalah dia itu barang antik tau! Baru liat kan? Dia orangnya engga suka aneh-aneh kaya Kesya, Ajrina, Zevira dan cewe-cewe centil lainnya, kamu mau kan nerima dia jadi pacar kakak?" 
  Alena melongo mendengar pertanyaan kakaknya "Harusnya nanya kaya gitutuh sewaktu belum jadian, ini nanyanya seudah jadian, gimana ceritanya? Engga nyambung banget deh!" jawabnya "Nih ya ka, Alen sih gimana kaka, toh yang menjalani hubungan itukan kaka kan bukan Alen? Lagian ka Zahra itu keliatannya baik deh dan sederhana, baik buat kaka, dia juga cantik, jadi kalau misalnya nanti hubungannya berlanjut bisa memperbaiki keturunan tuh!" sambungnya lagi. 
  Jo mengacak-ngacak rambut Alen "Dasar! Jadi kamu mau bisa nerima dia nih?" tanyanya lagi, ingin memastikan dengan jawaban yang diberikan Alen. 
    "IYA KAKAK!" serunya sambil mencubit tangan Jo "Cerewet banget sih!" 
    "Oke oke, thanks ya adikku sayang, emm ngemeng-ngemeng kamu udah nemuin penggantinya Gera?" tanya Jo lagi. 
    "Belum, calm ajalah, masih banyak cowo diluar sana, masih banyak yang ngantri buat jadi pacarnya Alen, so calm aja ka! Hahaha ... " jawab Alen cengengesan. 
  Jo ikut tertawa mendengar jawaban Alen, inilah yang aku rindukan dari Alen, senyum cerianya, ocehan PD nya, terus buat Alen seperti ini Tuhan, aku begitu menyayanginya ...
  

Land Life - cerbung eps.4 part #1

unexpected meeting ... 

    "when you look me in the eyes, and tell me that you love me, everything's alright, when you're right here by my side, when you look me in the eyes, i catch a glimpse of heaven, i find my paradise, when you look me in the eyes ..."
  Alunan lirik lagu When You Look Me In The Eyes menarik perhatian Alen yang tengah melewati halaman belakang yang hijau. Selama beberapa menit ia terus mempertajam pendengarannya, mendengarkan dari mana asal suara itu. Tepat ketika ia berdiri di bawah pohon, suara itu terdengar begitu jelas, merdu juga, ujarnya dalam hati, ia menengadahkan wajahnya menatap ke atas dan alangkah terkejutnya ia mendapati seorang lelaki tengah tertidur di atas pohon sambil menyenandungkan lagu itu.
    "when you look me in the eyes .. ooh ..." selesai, lelaki itu membuka matanya yang sedari tadi terpejam.
    "Hei! Lo siapa??" tanya Alen sembari berteriak.
  Lelaki itu menoleh dan membenarkan posisinya menjadi duduk bergantung "Hai, gwe Pio, lo siapa?"
  Ganteng sih, cuman rambutnya di belah tengah, pake kacamata pula, kancing bajunya dikancingin semua, iih culun banget sih, gumam Alen dalam hati "Gwe Alena!" serunya.
    "Ooh .." gumamnya dan kembali membaringkan tubuhnya "Ngapain lo disini?"
    "Suka-suka gwe dong, inikan bukan tempat lo! Lagian lo juga ngapain tiduran disitu? Kaya orang utan tau engga sih!" seru Alen sambil duduk dibawah pohon itu, dengan kepala tetap menengadah ke atas.
    "Suka-suka gwe juga .."
    "Eh tadi suara lo bagus tuuh, nyanyiin lagi dong lagu Jonas nya!" pinta Alen tanpa basa basi babi busuk.
  Mata Pio kembali terbuka dan menoleh kembali ke arah Alen yang tengah terduduk manis sambil tersenyum "Nyanyi bareng aja" tanggap Pio kembali memejamkan matanya.
  Alen tersenyum "Ok!" serunya bersemangat "If the heart is always searching, can you ever find a home? I've been looking for that someone, I'll never make it on my own, dreams can't take the place of loving you, theres gotta be a million reasons why it's true ..."
  Pio membuka mulutnya, siap menyenandungkan lagu itu "when you look me in the eyes, and tell me that you love me, everything's alright, when you're right here by my side, when you look me in the eyes, i catch a glimpse of heaven, i find my paradise, when you look me in the eyes ..."
  Mereka berdua mulai bersenandung ria "How long will I be waiting, to be with you again, gonna tell you that I love you, in the best way that i can, i can't take a day without you here, you're the light that makes my darkness disappear ..."
  Terus dan terus menyenandungkan lagu itu, membuat mereka lupa waktu, membuat mereka lupa siapa mereka. Istirahat ke 3 itu begitu menyenangkan untuk Alen, walaupun ia baru pertama kalinya bertemu dengan orang seperti Pio, namun ia merasa excited and enjoy with him.
    "When you look me in the eyes ... oooh .." akhirnya alunan lagu itu berhenti.
    "Yeeee!! Hebaat!!" sorak Alen gembira sambil bertepuk tangan, serasa ia telah bernyanyi bersama Jonas Brothers "Suara lo bagus deh!" lanjutnya lagi "Oia, lo kelas berapa?" tanyanya, mulai terbuka dengan Pio.
    "11 IPA" jawabnya singkat.
  Alen manggut-manggut walau hatinya sedikit dongkol, "Kapan-kapan kita nyanyi bareng lagi ya, gwe mau ke kelas" ujarnya "Sampe ketemu dilain waktu .." sambungnya dan pergi meninggalkan Pio yang masih menutup matanya.
*** 

    "Asyaaa!! Mimiiin!!" teriaknya seraya menghampiri kedua orang itu dengan wajah yang riang "Kalian berdua tau engga sama anak yang namanya Pio? Anak kelas 11 IPA!!" serunya bersemangat. 
  Kedua orang yang ditanya itu saling berpandangan, menanyakan secara tersirat siapa yang dimaksud Alen "Siapa Al? Pio? Baru denger sekarang deh!" seru Asya sambil membenarkan posisi kacamatanya. 
    "Ia Al, Pio? P-I-O kan? Hahaha, gwe kaga tau, tanya aja sama guru-guru, ada yang tau mungkin" komentar Hermina "Emang siapasih? Gebetan baru?" tanyanya. 
  Alen meringis ketika mendengar kata GEBETAN, wajah culun gitu gebetan gwe? engga mungkin deh!, serunya dalam hati "Bukan bukan!!" serunya gusar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. 
    "Teruuuussss??" tanya Asya dan Hermina berbarengan. 
    "Tadi gwe nemuin dia di halaman belakang, terus dia lagi nyanyi-nyanyi lagu Jonas Brothers sembari tiduran di atas pohon, ya akhirnya kita kenalan dan nyanyi bareng deh, suaranya bagus looh, merduuu!!" jawab Alen ceria sambil mengingat kejadian tadi "Dia sama gwe nyanyi lagu yang When You Look Me In The Eyes, keren banget, serasa gwe nyanyi sama Jonas Brothers asli!!" sambungnya lagi. 
    "Mimpi kali lu ah! Halaman belakang kan jarang ada orang, jangan-jangan yang nyanyi sama lo tuh hantu lagi!" tukas Hermina kembali mencomot snack yang dipegang Asya. 
    "Ia Al, halaman itu kan jarang dilewatin orang-orang!" Asya menyetujui "Hei, hei, hei jangan diabisin!" lanjutnya ketika melihat Hermina mencomot kembali snacknya. 
    "Engga engga! He's real, dia itu nyata tau!! Emang sih culun tapi dia nyata koq, bukan halusinasi gwe dan bukan hantu!" kilah Alen sambil mengerutkan dahinya, tidak setuju dengan apa yang dikatakan kedua sahabatnya. 
    "Terserah lo deh!" sahut Hermina seraya memberikan bungkus snack kosong ke tangan Asya. 
    "Jangan-jangan lo bener-bener suka lagi sama dia, when you look me in the eyes, pandangan pertama, haha ..." tanggap Asya dan memasukkan tangannya kedalam bungkus snack kosong itu "MIMIN!! Snack gwe!!" teriaknya dan detik kemudian menimpuk Hermina dengan buku yang ada didepannya. 
  Alen menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Asya dan Hermina. Enggalah, engga mungkin banget gwe suka sama orang itu, si PIO, haha .. kalau gwe sampe suka sama dia itu kalau mata gwe udah buta kali yaa, masa gwe mau sih sama orang culun itu?!, serunya dalam hati. "Gwe cabut duluan ya, mau ke kelas ka Jo!" 
    "Mau ke Jo atau mau ketemu ama sang mantan???" tanya Kesya, tiba-tiba muncul dibelakang Hermina dan Asya, mengejutkan Alen dan sesaat kemudian tatapan mereka beradu. Alen melontarkan tatapan sangar dan tajam, sedangkan Kesya memasang tatapan merendahkan. 
     "Heh nensi jangan so tau deh jadi orang!! Dan terserah gwe dong kalau seandainya gwe mau ketemu sama SANG MANTAN gwe juga! Engga ada urusannya sama lo!" tukas Alen dengan nada tajam dan dingin. 
  Kesya tersenyum meremehkan dan berjalan kehadapan Alen "Oyeah?!" tanyanya sambil mendorong bahu Alen "Gwe rasa ini jadi urusan gwe, lo tau? Gera itu UDAH JADI PACAR GWE DAN ITU ARTINYA LO JANGAN PERNAH DEKETIN DIA LAGI!!" sembur Kesya didepan wajah Alen. 
    "Oh gitu ya? Lo jadian sama orang yang keserang penyakit MUNTABER itu?! Selamat deh, gwe turut berduka cita atas jadiannya lo dengan Gera, soalnya apa ya? Setipelah lo sama dia, lagian gwe yang putusin Gera koq, engga ada penyesalan sedikitpun dihati gwe dan gwe tau sendiri koq kalau lo ngerebut si Gera dari gwe! Keren banget ya usaha lo, gwe kasih nilai 100 deh!" tanggap Alen dingin dan tersenyum kecut "Emmh, kayanya lo nya aja yang nyangka aneh-aneh deh, orang gwe mau ketemu sama ka Jo, bukan sama si muntaber itu, so lo gausah bentak-bentak gwe kaya gini ya, gwe engga ada urusan sama lo, so bisa minggir dari jalan gwe?!" 
 Kesya menatap tak percaya, mulutnya ternganga mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Alen, bener-bener menusuk di hati dan ngebuat dongkol segede Mount Everest. "Heh, lo diajarin sopan santun engga sih sama orang tua lo? Ooh ibu lo engga ngajarin ya? Apa jangan-jangan lo dari anak yang broken home? Anak angkat mungkin? Atau mungkin anak haram? Hahahaa, pantes aja kaya gini!! BAD!" 
 Alen menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya, matanya memerah, menahan perih yang mengiris di dada, ia menghampiri Kesya dengan nafas memburu dan plak! Satu tamparan mendarat di pipi Kesya "Seenaknya ya lo ngomong kaya begitu?! Lo engga liat diri lo kaya gimana? Liat dulu dong diri lo sendiri! Emang diri lo UDAH BENER? Justru seharusnya gwe yang nanya gitu sama lo, lo anak siapa sih? Jadi kakak kelas koq engga pernah bisa nyontoin yang bener? Dan satu hal yang harus lo tau! GWE BUKAN ANAK BROKEN HOME, GWE BUKAN ANAK HARAM!!" sentak Alen dengan wajah yang memerah, amarahnya memuncak ketika melihat Gera tengah berdiri dibelakang Kesya "Muntaber! Urusin tuh pacar baru lo yang omongannya engga bisa dijaga! Omongan kaleng rombeng, omongan tong kosong, omongan orang yang engga punya hati, omongan orang yang engga seharusnya ada disekolah ini, omongan orang YANG ENGGA BERPENDIDIKAN!! Urusin tuh pacar lo!!" sentaknya lagi, nafasnya masih terengah-engah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, ketika ia hendak berlari meninggalkan orang-orang yang berkerumun tengah menonton pertunjukan indah tadi, Jo datang dengan wajah tegas dan dingin, menatap tajam ke arah Kesya. Alen langsung berlari menghampiri Jo dengan air mata yang terus meluncur dan mendarat di pipinya.
     "Lo engga berhak bilang kaya gitu ke adik gwe! Kalau lo bilang kaya gitu, berarti sama aja lo ngehina gwe! Lo engga tau apa? IBU GWE UDAH MENINGGAL DAN ITU SEMUA BIKIN ADIK GWE SAKIT HATI, SAMPE DETIK INI PUN DIA MASIH SAKIT HATI!! Omongan lo emang engga bisa dijaga! Udah sepantasnya lo dapet tamparan dari adik gwe, hati anak mana yang engga sakit di teriakin kaya gitu didepan banyak orang? FIKIR DULU KALAU MAU NGOMONG!!" sentak Jo, menambah kerumunan yang menonton pertunjukan indah itu "Sekali lagi lo nyakitin adik gwe lo bakalan tau akibatnya! Dan jangan sekalipun lo nyangka adik gwe mau nyamperin cecunguk dibelakang lo itu! Kalau lo emang mau si Gera ambil aja! Adik gwe engga pantes buat dia! Makan sama lo!" lanjutnya lagi sambil membawa pergi Alen meninggalkan tempat itu. 
  Alen masih menangis tersedu-sedu, matanya benar-benar sembab dan merah. Ia masih memeluk Jo dengan erat, hatinya bagai ditikam oleh beribu kampak besar. Berkelebatlah memori menyedihkan itu, memori dimana Alen menemukan jasad ibunya yang telah kaku, yang berwajah dingin, bisu dan memejamkan mata untuk selamanya. "Terus tumpahin kesedihan kamu, kakak setia nemenin kamu sampai kapanpun, kakak masih disini, masih ada disamping kamu ..."
*** 

 Ibu, engkaulah hidup dan matiku, engkaulah belahan jiwaku, engkaulah penenang hatiku, engkaulah penyejuk jiwaku, engkaulah penerang hari-hariku. "Bu, Alen masih disini, ibu pasti udah bahagia ya di surga? Bu, Alen kangen sama ibu, Alen bener-bener pengen ketemu sama ibu walau hanya dalam mimpi bu" gumamnya sambil menatap photo ibunya yang tengah tersenyum bahagia. 
    "Ibu lebih bahagia kalau kamu engga nangis sayang .." tanggap Jo sambil duduk disebelah Alen "Disana ibu berharap kamu bahagia walau tanpanya, ibu akan menangis jika melihat anaknya terus terpuruk seperti ini" sambungnya seraya menatap wajah Alen. 
  Alen tersenyum kecut dan mendekap photo itu "I know, tapi semua ini begitu sulit ka, susah untuk dilupakan, selalu saja menjadi memori terperih dihati Alen!" seru Alen, buliran air mata mulai meluncur di pipinya "Seseorang yang benar-benar disayangi kenapa harus diambil duluan? Kenapa engga yang lain aja? Jangan ibu! Kenapa engga ambil si Kesya aja?!" 
    "Stssstt .. Engga boleh begitu, gimanapun ini udah takdir Al, kematian akan datang pada setiap orang, entah kapan datangnya, selalu menjadi misteri, kematian engga bisa di undur-undur atau di percepat, kalau waktunya udah datang maka orang itu akan mati, sama seperti ibu, siapa juga yang mau kehilangan ibu? Engga ada kan? Itulah cobaan sayang, Tuhan telah mencoba kita, bukannya kamu sendiri tau kamu, kakak, ayah dan yang lainnya akan mati? So engga usah terpuruk kaya gini Al, 6 bulan sudah ibu meninggalkan kita, apakah kamu akan tetap seperti ini? Selalu menangis ketika mendengar kata IBU?!" 
  Alen menundukan kepalanya "Tapi ka ..." 
  Jo tidak membiarkan Alen menyelesaikan perkataannya "Sulit? Itukan? Cobalah dengan perlahan sayang, perlahan saja, maka kita akan terbiasa! Kakak yakin kamu bisa, kamu engga perlu berusaha sekuat tenaga melupakan semua kenangan tentang ibu, toh semua itu akan tetap ada di hati kamu, akan bersemayam di hati kamu, intinya kamu harus belajar menerima semua ini dan menguatkan diri kamu seperti ketika ibu masih ada disini ..." gumamnya "Percayalah kamu bisa Al, kakak percaya sama kamu, bener-bener percaya ..." sambungnya seraya memeluk Alen. 

*to be continue 

Selasa, 19 April 2011

Land Life - cerbung eps.3 part #1

  Hari pertama putus dengan Gera ...

  Istirahat kedua, Alen menjingnjing sebuah novel Sherlock Holmes karya Conan Doyle, bukan untuk dibaca, melainkan hanya untuk jadi pegangan di tangannya. Ketika ia berjalan melintasi taman kelas 11. Dia menemukan sosok itu, dia tengah terduduk dibawah rerindangan pohon, bersedekap dan wajahnya keruh. Koq dia ada disitu? Tumben engga bareng sama temen-temennya?, gumam Alen dalam hati. Detik kemudian, perasaan gundah itu kembali menyelimutinya, antara salah atau tidak. Keputusan gwe engga salah koq, hiburnya dalam hati dan ia berniat untuk pergi meninggalkan taman itu, namun tetap saja hatinya masih meringis, ok fine, ya gwe samperin deh tuh anak!. Ia melangkahkan kaki dengan ragu, sesaat kemudian langkahnya terdahului oleh Kesya, ia hanya memandang dengan perasaan sakit hati yang sangat dalam, biarin ajalah emang dia siapa gwe?, tanyanya dalam hati. Ia melihat Kesya duduk disebelah Gera dengan mulut yang berkomat-kamit sambil menggerak-gerakkan tangan kesana kemari, namun Gera hanya mendelik dan kembali memadang tanah dengan wajah keruh.


  Hari kedua putus dengan Gera

  "Al, tadi kak Jo nyariin, katanya pulang engga bisa bareng, anak kelas 12 ada tambahan pelajaran!" seru Asya ketika dia mendapati sahabatnya tengah berdiri didepan majalah dinding. "Baca apaansih? Serius amat!" lanjutnya lagi sambil membetulkan letak kacamatanya.
  "Baca aja sendiri! Gwe mau ke kakak gwe dulu" ujar Alen hendak meninggalkan Asya "Oia, gwe mau minta tolong bawain buku gwe dikelas 10.1, itu juga kalau lo mau kekelas! Thanks before and after Sya!" serunya lagi dan kini berjalan meninggalkan Asya yang sedang geleng-geleng kepala aneh.
  Ia berjalan dengan wajah yang dibuat se calm mungkin. Kelas Jo dengan Gera itu bersebelahan, makanya engga salah kalau wajah Alen dibuat calm. Benar saja, ia menemukan sosok itu tengah terduduk di depan kelasnya, wajahnya masih seperti kemarin, keruh dan merengut, abaikan abaikan abaikan!!, serunya dalam hati. Ia melangkah pasti kedepan pintu kelas 12.4 IPA "Ada ka Jo?" tanyanya tanpa basa basi babi busuk.
  Seorang cowok berkacamata, berambut ala Mr. Bean menoleh "Jo tuh si Alen" serunya sambil tersenyum, Alen membalasnya dengan senyuman tipis. Detik kemudian, Jo menghampiri.
  "Udah tau kan dari Asya, kakak ada tambahan pelajaran jadi engga bisa pulang bareng!" seru Jo sambil menggerakan tangan kesana kemari "Kalau mau nungguin sih engga apa-apa, sekali-"
  "Oh oke!" seru Alen acuh dan meninggalkan Jo yang masih terbengong-bengong. Sudut matanya menangkap bayangan Gera yang masih terduduk, namun kini Kesya menemaninya, masih sama seperti kemarin, namun beda tempat. Kenapa sih harus ada nenek sihir itu lagi? Apa keputusan aku ini salah?, tanyanya dalam hati dan berlalu dengan wajah yang kusut.

  Hari ketiga

  Pulang sekolah ini, ada jadwal latihan ballet di sekolahnya, sebenernya Alen terpaksa bawa ekstra kulikuler ini, soalnya udah di daftarin Jo, dan terpaksa ia menurut. Ketika ia hendak mengganti seragamnya dengan baju latihan, ia kembali melihat sosok itu, sosok bermuka keruh tengah duduk di dekat Teacher Room. Kenapa wajahnya masih seperti itu? Salahkah aku?, tanyanya dalam hati, hah sudahlah lupakan!.

  Hari-haripun terus berlanjut dan wajah Gera masih saja seperti itu. Hampir 1 minggu lamanya Alen selalu melihatnya tanpa sengaja dan selalu saja perasaan itu mengusik dirinya. Sampai suatu saat, Alen bertekad untuk meminta maaf dan memberi kesempatan kedua untuk Gera. Hari itu, Alen mendapati Gera tengah duduk di taman, namun tanpa Kesya, ia tersenyum masam dan segera menghampiri Gera.
    "Gera, lo kenapa sih? Koq muka lo keruh banget? Ok, gwe kesini mau minta maaf sama lo, mungkin gara-gara gwe lo jadi begini! Ya gwe tau lo emang salah, tapi perasaan gwe tuh sakit banget waktu lo dipeluk sama si Kesya dan lo engga nolak semua itu!" cerocos Alen sambil duduk di sebelah Gera.
    "Aduuh, ke GRan banget sih lo jadi orang, heh gwe tuh kaya begini bukan karena lo tau! Gwe lagi sakit, gwe muntaber! Makanya jadi begini, lagian gwe udah bisa nerima koq semua ini, emang lo egois dan sensitif, dan gwe juga sadar kalau gwe salah, so pergi dari sini, udah 1 minggu kemaren gwe terus dimarahin sama si Kesya, sekarang lo nerka yang aneh-aneh!" serunya masih tetap memandang tanah didepannya.
    "Anjret! Penyakit lo engga elit banget sih! Oh jadi gara-gara itu, oh oke, gwe kirasih karna gwe! Yaudah gwe bakalan pergi, lagian gwe cuma nanya doang! Huh dasar!" seru Alen menahan malu, ia segera berbalik meninggalkan Gera. Kalau tau gitu, gwe engga usah ngomong kaya tadi! Gwe engga nyesel sekarang! Ini keputusan terbaik gwe!! 
  Akhirnya Alen mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia berjalan gontai ke arah kelas dan duduk dengan gusar "Bodo bodo bodo, lo bodo ALENA lo bodooo!!" serunya, menarik perhatian temen-temen sekelas.
  "Hah? Bodo? Lo beneran pengen bodo Al? Rank 1 koq pengen disebut bodo?" tanya Asti sambil duduk didekat Alen.
  "Bukan bodo itu maksud gwe! Aaah udahlaah!! Gwe pinter gwe pinter!!" serunya lagi.
  "Lo udah gila Al?" celetuk seseorang yang juga masih teman sekelasnya.
  Alen mendelik "Kalau lo fikir gwe kaya begitu, udah seharusnya gwe tonjok bibir lo!" tukas Alen sangar.
  Tiba-tiba Hermina datang dan duduk disamping Alen "Heh! Kenape sih lo marah-marah? Kaga ada kerjaan!" serunya "Oia, tadi gwe liat si Gera muntah ditaman, iih jijay deh, tapi aneh ya banyak yang nolongin!"
  Alen membelalakan matanya, raut wajahnya berubah menjadi senang "Beneran lo Min? Beneran dia muntah?" tanyanya sambil mengguncang-guncangkan tubuh Hermina.
    "Ia ia, kenapa sih lo? Seneng banget kayanya!"
  Alen tertawa riang, berjingkrak-jingkrakan bagai orang yang tadinya lagi melamun, terus bos nya datang ngasih tau kalau gajihnya naik "Yap! Gwe seneng bangeeeeeet!! Rasain lo, huuh dasar si muntaber!!" serunya bersemangat, berapi-api.
  Teman-temannya hanya memandang aneh, kenapa ya si Alen? Kenapa ya? Udah gila? Gila beneran?. Alen tertawa riang, membayangkan bagaimana ekspresi wajah Gera ketika muntah, mungkin lebih keruh daripada tadi. Akhirnya ia memutuskan untuk mengganti panggilan Gera menjadi si Munta !!

*** 

    "De, kaka lanjut kuliah dimana ya?" tanya Jo sambil memainkan boneka sapi milik adik kesayangannya. Alen masih berkutat dengan MacBook nya "Heh! Ditanya jawab dong!" serunya sambil mencubit lengan Alen. 
  Alen memanyunkan bibirnya dan langsung menghadap ke arah Jo "Kuliah ya? Heemm ..." gumamnya sambil mengelus-elus dagunya, layaknya seorang pembisnis yang sedang melihat setoran anak buahnya "Kaka itu cocoknya kuliah ke tukang loak aja, keren loooh"
    "Heh! Sialan, madesu dong!" serunya sambil mengacak-ngacak rambut Alen "Rencananya sih kaka pengen kuliah di Oxford, ayah ngidzinin ga ya?" 
    "HAH? Jauh amat kaaaaa, ayah sih dijamin ngidzinin, tapi Alen engga ngidzinin!!" seru Alen kembali berkutat dengan MacBook nya "Jauh tau ka antara Indonesia - London itu, jauh sih kalau jalan kaki, tapi kalau naik kapal sih deket, tapi tetep aja Alen engga mau ditinggalin kaka, Alen engga mau tinggal berdua sama ayah, abis ayah galak sih ..." lanjutnya. 
  Jo tersenyum geli mendengar kata-kata adiknya "Emang ia Al Indonesia - London itu jauh kalau jalan kaki, emang ayah galak apanya? Perasaan ayah baik deh" tanggap Jo sambil duduk disamping adiknya "Kita kan bisa saling kasih tau kabar lewat e-mail, kalau engga ya kaka telfon kamu, kalau engga kita kan bisa VC di YM, tekhnologi udah canggih adikku sayang" sambungnya. 
  Alen menghentikan kegiatannya dan memandang Jo penuh makna "Engga mau, Alen tetep pengen kaka disini ..." lirihnya sambil memeluk Jo, air mata menggenang di pelupuk matanya "Ayah galak dan dingin sama Alen, Alen engga mau tinggal berdua sama ayah, Alen pengen kaka tetep disini, Alen engga mau pisah sama kaka ..." pelukannya semakin erat "Kaka tau kan gimana sedihnya Alen kalau kaka engga ada di sisi Alen? Emang sih kaka terkadang nyebelin, tapi kebanyakannya kaka baik sama Alen, kaka tega!!" serunya, kini tangisnya benar-benar pecah. 
  Memang, semenjak kematian ibunya, Alen lebih dekat dengan Jo dibandingkan dengan ayahnya, sehingga ia akan merasa kehilangan jika Jo pergi ke London "Al, dengerin kaka ..." ujarnya sambil memeluk Alen lebih erat "Kamu engga usah nangis kaya gini, toh itukan cuma kemauan kaka, lagian lulus SMA aja belum tentu, kamu engga usah sedih dulu doong, kaka masih disini ..." sambungnya, ia melepaskan pelukannya dan memegang wajah Alen dengan kedua telapak tangannya "Selama kaka di sisi kamu, selama kaka masih ada di hati kamu, kamu engga usah sedih, kaka bakalan selalu ada buat kamu, trust me dear" lanjutnya sambil mengusap air mata Alen dan mengecup keningnya "Kaka tetep di hati kamu dan kamu tetep di hati kaka, sampai kapanpun Al ..."   
  Alen kembali memeluk Jo dengan erat, ia enggan melepaskan pelukannya, ia enggan ditinggalkan Jo, ia enggan untuk memulai hidup baru tanpa kakaknya. Buliran air mata terus berjatuhan, mendarat di pipinya, dan membuat T-shirt Jo basah. Gwe tau suatu saat nanti kak Jo pasti bakalan ninggalin gwe, tapi gwe engga mau semua itu terjadi, gwe tetep pengen ada dia disisi gwe, sampai kapanpun gwe bakalan sayang sama dia, dia kakak terbaik di dunia ini, walau terkadang nyebelin, gwe tetep sayang sama dia, sampai kapanpun!!, serunya dalam hati. Malam itu menjadi sunyi dan sepi, benar-benar senyap, yang terdengar hanyalah tangisan tertahan Alen ...

*to be continue 






Sabtu, 16 April 2011

Land Life - cerbung eps.2 part #1

  Sinar matahari pagi masuk ke setiap celah yang ada dikamarnya. Ia menggeliat dan mengerjapkan matanya. "Huaahhh ... Hatciwhwhhh" kuman-kuman keluar dari lubang hidung dan mulutnya. Ia segera beranjak ke kamar mandi. Matanya masih sedikit sembab, akibat tangisannya sewaktu malam. Ia melangkah masuk ke kamar mandi, mengisi bathtub dengan air dan berendam dan ritual mandi lainnya. Selagi berendam, ia menyalakan music dari iPod dan bergemalah suara Anne Muray menyanyikan lagu That's the way it goes. Ia begitu asyik didalam bathtub nya tanpa menyadari jam telah menunjukan pukul 06.30 (!)
  Hampir 20 menit ia habiskan di kamar mandi bersama bathtub kesayangannya, dan setelah itu, ia kembali menginjakan kakinya di kamar. Ia masih menyenandungkan lirik-lirik music tadi tanpa menyadari hal itu (benda mati berbentuk kepala boneka Mickey Mouse yang menunjukan pukul 06.52). Ia mulai memakai seragam putih abu nya dan mengkuncir rambutnya, dan pada saat itu ... "Duk ... duk ... duk ..!!" pintu kamar di gedor dengan kencang. Ia mengernyitkan dahi dan berjalan dengan kesal, membukakan pintu kamar setengah hati.
    "Apa?!" tanyanya ketus ketika melihat siapa yang menggedor-gedor pintu kamarnya.
  Jo mengetuk-ngetukan tangannya tepat di atas jam tangan Rolex nya. Alen melihatnya tak mengerti, sama sekali tak mengerti dengan isyarat itu "Apaansih?" tanyanya lagi sambil membalikan tubuh hendak mengambil shoulder bag nya.
    "JAM!!" sentak Jo, menghentak-hentakkan kakinya jengkel karena hampir 5 kali menggedor pintu kamar engga ada jawaban sama sekali. Nyaris saja dia mendobrak pintu kamar itu lagi, seperti yang dilakukan ayahnya 6 bulan yang lalu.
    "Jam? Oh jam kakak rusak? Rusak aja koq curhat sih? Tuh kalau mau liat jam!" seru Alen calm sambil menunjuk jam dinding di kamarnya dan beberapa detik kemudian, ia merasakan hal aneh dan kembali melihat jam di dindingnya dan ... "Wwaaaaaaaa!! Jam 7 lebih!!" teriaknya gusar seraya menjinjing sepatu Black Adidas nya "Kenapa ga bilang dari tadi sih?!" sembur Alen, menuruni tangga, menuju meja makan dan mencomot satu roti selai coklat dan menyumpalkannya di mulut.
    "Jorok!!" tukas Jo ketika Alen telah memasuki mobilnya.
  Alen hanya mendelik tak peduli dan segera memakai sepatunya -masih dengan roti yang menyumpal di mulutnya *basah*- Selesai memakai sepatu, ia segera menghabiskan rotinya yang sebagian telah basah dengan air liurnya. Toh dia fikir engga apa-apa, lagian ludah sendiri. Hiyeeek ..
  Didalam mobil BMW itu hanya terdengar suara Celine Dion yang mendayu, merayu-rayu. Namun mereka berdua tak berminat dan tak tertarik, hanya saja suara itu melengkapi kesunyian di dalam mobil. Mereka berdua berkutat dengan fikirannya sendiri. Mungkin salah satu fikiran mereka yang sama adalah bagaimana nasib mereka sampai di sekolah, dan selebihnya Alen memikirkan PR Biology nya yang belum dikerjain dan Jo memikirkan Praktikum Kimia untuk jam pelajaran 1 - 4 "Gara-gara kamu kita jadi telat!" seru Jo tanpa memalingkan pandangannya dari jalan.
    "Kenapa engga ketuk pintu? Kenapa engga ngebangunin aja? Kenapa engga teriak-teriak?" tanya Alen kesal.
    "Hiih! Kamu lupa apa? Pintu kamar kamu kan kedap suara, percuma mau teriak-teriak sampe 30 tahun juga, mau anjing melonglong sampe dia mati juga engga akan kedengeran! Lagian pintu kamarnya di kunci! Gimana mau ngebangunin hah?!" jawab Jo panjang lebar.
  Alen tertegun sejenak, bener juga ya! Pintu kedap suara terus dikunci pula dan intinya sih aku kelamaan di bathtub!, batinnya. "Ya maaf!"
  Jo hanya mendelik kesal dan beberapa saat kemudian mobilnya berhenti tepat di depan gerbang sebuah sekolah SMA bertaraf Internasional. Pa satpam berkumis bajang (tebal dan panjang) menghampiri mobil itu dengan geram "Heh kalian tidak lihat ini jam berapa? Kalian tidak tau sekolah ini masuk jam berapa? Tau peraturan disini kan? Sebagai seorang siswa yang baik kalian harus datang tepat waktu! Seenaknya aja datang ke sekolah!!" serunya berapi-api, membuat kumis itu bergerak-gerak kesana kemari, mengikuti gerakan bibir yang monyong ke arah sana ke arah sini.
    "Sorry deh pa! Ininih adik saya sakit, terus maksa pengen sekolah, jadi aja saya harus nungguin dia! Bapa tau kan ayah saya kaya gimana orangnya? Kalau aja ayah saya engga nyuruh saya nungguin dia, pasti saya juga udah datang tepat waktu pa! Masa bapa engga tau saya? Saya udah sekolah disini hampir 3 taun loh pa! Saya baru ngelanggar sekarang koq!" kilah Jo, tidak kalah berapi-api dan tentunya melayangkan tatapan tajam.
    "Tidak bisa! Sekali kesiangan tetep kesiangan!" sentak Pa Kumis itu.
    "Pa! Coba bapa bayangin, anak bapa jauh-jauh terus berusaha biar engga kesiangan, terus berusaha buat menuruti kemauan orang tuanya dan bersemangat untuk belajar! Dan bapa harus tau, saya ini harus mengikuti praktikum kimia pa! Dari jam ke 1 sampai ke 4! Bapa mau anak bapa juga kaya gitu?!" seru Jo tak sabar, telah tergambar dibenaknya wajah Bu Jena yang siap melontarkan berbagai pertanyaan.
  Pa satpam itu menimbang-nimbang sejenak dan menatap Jo penuh makna "Ya sudah, kalian saya maafkan, lain kali jangan sampai terlambat lagi!!" sengitnya lalu berbalik hendak membukakan pagar.
  Alen terlihat senang, namun beberapa saat kemudian murung kembali ketika ia ingat dengan PR Biologinya untuk jam ke 3 dan 4. Jo langsung menancap gas dan menuju tempat parkir siswa. Sejurus kemudian, Alen berlari-lari sambil menyeret-nyeret shoulder bag nya. Begitupun Jo, ia langsung berlari menuju ruang praktikum.
*** 

    "Selamat Pagi Bu" sapa Alen gugup ketika melihat mata Bu Sonya yang tajam tengah menatap ke arahnya. "Boleh saya masuk bu?" tanya Alen ragu. 
  Bu Sonya melangkah ke pintu dan Braaak!! Pintu ditutup. Teganya ... Ketika Alen hendak berbalik meninggalkan kelas, pintu terbuka dan menyembul kepala guru sejarah itu "Tunggu di luar sampai pelajaran saya selesai! Saya tak mau menerima murid yang kesiangan" tukasnya dan pintu kembali di tutup dengan bantingan yang kuat. Dasar guru ileng (istilah Alen mencela guru yang aneh), gumamnya dalam hati dan segera berjalan gontai ke arah kantin. 
    "Mbok! Jus apa aja satu!" seru Alen sambil membantingkan tas nya di meja. 
    "Njeh non! Kenapa ndak masuk kelas toh?" tanya Mbok Sarinem, penjual makanan di kantin.
  Alen menggeleng pelan "Guru sableng tuh! Padahal masukin aja apa susahnya sih!" tukas Alen, kini ia memilin-milin tisu di hadapannya "Mbok! Kenapa ya guru disini pada garang-garang? Engga ada baiknya gitu?" tanya Alen asal, tak peduli jika ada yang mendengar pendapatnya. 
    "Mbok juga ndak tau non, udah dari sananya begitu mungkin, habis si mbok jarang sekali ketemu guru-guru disini, pan si mbok cuma ketemunya sama non - non cantik dan aden - aden yang ganteng" jawab Mbok Sar sedikit mengencangkan suaranya. 
  Alen tertawa kecil "Coba kalau mbok jadi guru, mbok mau kaya gimana?" tanya Alen lagi, kini hatinya mulai tertata rapih lagi. 
  Mbok Sar membawa jus apa aja (jus melon sih yang dibawain) ke meja Alen dan duduk di hadapannya "Kalau si mbok jadi guru, si mbok engga mau marah-marain anak-anak, terus si mbok ndak bakalan kasih PR yang banyak-banyak, tapi kalo anaknya ngelunjak mau si mbok suruh jadi pelayan dan ngelayanin semua siswa disini" jawabnya bersemangat. 
    "Haha, aku setuju tuh mbok! Kalau gurunya kaya begitu aku betah lama-lama dikelas mbok! Terus kalau si mbok jadi guru mau pakai baju kaya guru-guru disini?" tanya Alen lagi. 
    "Ndak ah non! Si Mbok mau pake kebaya aja, biar keliatan cinta budaya begitu non, habis anak-anak jaman sekarang itu banyak yang ngelupain budaya sendiri non! Itutuh non, anak jaman sekarang itu sukanya pake apa tuh namanya tangtang? eh apa sih non?" tanyanya kebingungan.
    "Tank Top mbok" jawab Alen sambil mengulum senyumnya. 
    "Ia itu non, Tank Top, masya Allah, anak si mbok juga pengen beli yang kaya begituan non, tapi sama si mbok ndak di idzinin, wong ndeso begitu mau pake tank top, masing kalau kulitnya putih, lha ini? item" lanjut Mbok Sar. 
    "Jangan begitu loh mbok, masa sama anak sendiri kaya begitu" ujar Alen sambil meminum jus melon nya.
    "Ia juga sih non, tapi emang kenyataannya kaya begitu koq. Oya non, si mbok boleh nanya sesuatu?" tanyanya. 
  Alen mengangguk mantap dan tersenyum "Non tinggal sama siapa toh dirumah?"
    "Kak Jo dan ayah, memangnya kenapa mbok?" tanya Alen heran. 
    "Ndak, si mbok cuma nanya, memangnya ibu non kemana?" 
  Alen menatap Mbok Sar hampa. Setiap mendengar kata "Ibu" hatinya terasa teriris-iris, perih, sakit, namun ia sadar bukan saatnya meluncurkan buliran air mata, di depannya ada wanita separuh baya yang menanti jawabannya. Ia menghela nafas dan tersenyum tipis "Ibu saya sudah meninggal 6 bulan yang lalu mbok" lirihnya. 
  Mbok Sar nampak kaget dan menyimpang telapak tangannya di mulut "Maafin si mbok yah non, si mbok ndak tau" ujarnya. 
  Alen tersenyum dan menggeleng "Engga apa-apa koq mbok"
    "Ya sudah non, si mbok mau ke belakang lagi, maafin si mbok ya non" pamitnya sambil berjalan kembali ke counter makanannya. Alen kembali tersenyum tipis, menahan perih yang ia rasa. Perih yang hampir setengah tahun belum pernah hilang. 
***

    "Alen! Lo engga salah? Kenapa engga bisa ngerjain PR Biology? Untung aja tadi Bu Jody engga masuk, kalau masuk matilah kau!" seru Hermina. 
    "Aduh Mimin! Gwe kan lupa!" seru Alen sambil menyenggol tangannya "Lagian lo engga usah hebring begitulah, si Asya mana?"
    "Biasa, perpus! Oia, gimana tuh sama si Gera? Udah baikan lagi sama lo?" tanya Hermina sambil mengunyah permen Yuppy. 
  Alen mengangkat bahu seolah tak berminat dan apakah ini kebetulan? Disaat yang bersamaan datanglah Gera bersama sekawanan The Prince lainnya. Rambut mereka tersapu angin, seakan-akan sinetron deh. Alen menatapnya dengan nanar dan membuka snack potato nya. 
    "Alena, lo masih marah sama gwe?" tanya Gera sambil duduk disebelah Alen. 
  Alen bergeser menjauh darinya "Min ke kantin yu, haus nih!" seru Alen sambil beranjak dari tempat duduknya, ketika itu juga Gera menarik tangan Alen "Aduuh ini tangan siapa ya Min?" lanjut Alen sambil melepaskan tangan Gera. 
    "Al, sampe kapan lo terus kaya gini? Gwe udah minta maaf sama lo Al!" seru Gera kembali menggenggam tangan Alena. Sedangkan si mpunya tangan menatap dengan tajam, snack yang dimakannya tadi sengaja ia jatuhkan ke lantai. Membuat Hermina memungutnya.
    "Terus mau lo apa? Mau PUTUS?" tanya Alena tajam "Denger ya Ger! Gwe memang egois, gwe memang manja, gwe memang sensitif, tapi selama ini lo engga pernah ngerti semua itu! Yang lo mau tuh cuma bikin gwe seperti yang lo mau, itukan?! Gwe bukan boneka lo Ger! Kalau si Kesya mungkin mau, tapi gwe engga! Gwe kasian juga sama lo, dan tentunya lebih kasian sama diri gwe, so daripada hubungan kita GANTUNG better enough to get here. Hidup masing-masing aja!" lanjutnya panjang lebar dan melepaskan genggaman Gera dengan kasar dan berlalu meninggalkan Gera.
    "Alena! Gwe minta maaf atas kelakuan gwe sama lo! Gwe tau gwe salah, gwe engga pernah bisa ngertiin lo dan emang sadar engga sadar gwe udah jadiin lo boneka gwe! Gwe minta maaf Al! I still love you, please give me a second chance!" teriak Gera, ia benar-benar tidak memperdulikan sekerumunan fans nya yang memerhatikan ia dengan penuh rasa prihatin.
  Alen membalikan tubuhnya "WILL NEVER!" serunya dan kembali berjalan menyusuri lorong kelas 10 yang sesak dengan sejumlah gender. Ia tau keputusannya ini gegabah, tapi di sisi lain ia telah lelah menjadi boneka untuk Gera. Di hatinya masih membekas rasa sayang terhadap Gera, buliran air mata menggenang di pelupuk matanya. Tahan Al tahan, lo engga boleh nangis disini!, batinnya dalam hati.
  Ketika ia hendak berbelok ke arah kamar mandi, ia bertemu dengan Jo "Kenapa?" tanya Jo sambil mendekati adiknya dengan perasaan yang menerka-nerka "Putus?" tanyanya lagi.
  Alen hanya memandang, namun kini tatapannya bukan tatapan tajam, melainkan tatapan hampa dan rapuh. Ia tak bisa menyembunyikan tatapan itu dan akhirnya mengangguk lemas "Baru aja" lirihnya sambil memeluk Jo dan menumpahkan semua buliran air mata yang sedari tadi di tahannya.
    "Don't cry, what you don't feel ashamed?" tanyanya sambil melepaskan pelukan Alen "Listen to me, cowo di dunia ini ga cuma Gera aja, ok, sekarang kaka tanya siapa yang putusin duluan?"
    "Alen" jawabnya lirih, enggan menatap wajah kakaknya.
  Jo menggelengkan kepalanya "Terus kalau kamu yang putusin kenapa kamu nangis? Fikir 2 kali makanya" tukas Jo sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi adik kesayangannya itu "Ini sekolah, kamu engga usah nangis kaya begini, malu tau! Kalau mau nangis di rumah aja" sambungnya lagi.
  Kini Alen menatap Jo penuh arti dan kembali menunduk "Whether i will regret?" tanyanya lirih, menggigit ujung bibirnya, menahan perih di hati.
    "Don't let happen, because it's your decision" jawab Jo sambil mengacak rambut Alen pelan "Udahlah, jangan hanya karna putus jadi begini, traktir deh sama kakak" lanjut Jo.
  Alen masih menundukan kepalanya, ia tau sebentar lagi dia akan menyesal, tetapi ia mencoba menerimanya karena memang benar apa yang Jo katakan, itu semua keputusan Alen dan jangan sampai menyesalinya. Akhirnya Alen mengikuti Jo ke kantin dengan wajah yang di buat-buat calm, mencoba menyembunyikan kesedihannya.

*to be continue  

Jumat, 15 April 2011

Land Life - cerbung eps.1 part #1

when the bitterness is coming ... 


  Malam yang sepi ketika ia sadari seorang makhluk mulia yang bernama Ibu telah pergi meninggalkannya, meninggalkan untuk selamanya. Terlihat buliran air mata keluar dari pelupuk matanya. "Ibu" gumaman itu terus ia keluarkan. Hampir 5 hari ia mengurung diri di kamar, ia hanya ingin menyendiri, menyelami dunia lain bersama bayangan ibunya. Sampai suatu hari, pintu kamar itu di dobrak dan ia - AYAH - mendapati anaknya lemas tak berdaya. Wajahnya pucat seperti mayat, tubuhnya kurus kering dan ia masih menggumamkan kata "Ibu"
  
***

    "Alena?" panggil seseorang dibelakangnya. Ia menoleh dan tersenyum dan berjalan menghampiri lalu memeluknya "Udah makan?" tanyanya lagi. 
    "Belum yah, Alen nungguin ayah pulang" jawabnya sambil melepaskan pelukannya. 
  Ayahnya tersenyum dan mencium kening anaknya "Yaudah, ayo sekarang makan bareng ayah" ujarnya sambil menuntun anak perempuannya menuju ruang makan "Ayah kira kamu udah makan, oia kakakmu kemana?" tanyanya sambil membalikan piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauk pauk. 
  Alen mengernyitkan dahinya "kak Jo belum pulang kalau engga salah, soalnya dari tadi Alen diem di kamar" jawabnya. 
  Panjang umur, baru aja diomongin orang itu baru masuk ke ruang makan dengan piama hitamnya "Cari aku ya?" tanyanya riang sambil duduk di sebelah Alen "Kakak udah pulang dari tadi koq Al, kakak langsung tidur" sambungnya lagi.
    "Ayah kira kamu belum datang Jo!" gumamnya sambil menatap anak laki-lakinya dengan garang. 
    "Biasa aja dong yah, engga mungkin Jo pulang selarut ini" tukas Jo sambil tertawa "Al, tadi pagi kakak ketemu sama Gera, kamu lagi marahan sama dia?" tanyanya. 
  Ketika ia mendengar itu, ia menatap kakaknya dengan tajam "Ya" jawabnya ketus "Bisa engga kak jangan ngomongin masalah Gera disini?" tanyanya tajam. 
    "Ia ia sorry sorry, gitu aja koq marah sih" tukas Jo sambil melahap makanannya. Alen mengerutkan bibirnya. 
    "Yang bener makannya Al" ujar ayahnya "Makan kalau sambil manyun begitu engga akan jadi daging, kapan badan kamu gede?" tambahnya. 
  Alen hanya menghela nafas dan membawa piringnya ke ruang TV "Alen mau makan sambil nonton TV aja, biar gendut" tukasnya dan berlalu. Ayahnya menggeleng-gelengkan kepala, aneh dengan sikap anak bungsunya.   
    "Engga ngaruh Al" teriak Jo dan kembali melahap makanannya. 
  Alen berjalan dengan gontai ke ruang TV. Ia duduk bersila dan menyalakan TV. Sebenarnya dia engga nafsu lagi buat makan, karna ingat masalahnya dengan Gera -pacarnya- yaah maklumi saja, namanya juga orang pacaran pasti banyak cang cing cong nya, maksudnya masalah. Alen memergoki Gera lagi memeluk seorang perempuan yang ia tau, itu adalah Kesya, MUSUH BEBUYUTANNYA. Coba aja kalian bayangin, pacar kalian selingkuh sama musuh? WOW kebayangkan sakitnya? Nah begitupula dengan Alen. Hampir 2 minggu dia engga marah sama Gera. Sekalipun Gera ngejemput ke rumahnya, nungguin dia di depan kelas, ngikutin dia ke kantin, tetep aja Alen engga ngelirik ke arahnya. Dia sengaja berbuat seperti itu karena ingin memberikan balasan setimpal dari apa yang Gera lakukan, bisa dibilang sih namanya Gantung. Ya, Alen melakukan itu. Sebenarnya, waktu Gera lagi ngejelasin apa yang terjadi hati Alen udah mulai full nice, tapi pas ketika Alen mau bilang "Ya gwe maafin lo" datanglah Keysa dengan wajah centilnya. 
    "Gera, lo apa-apaansih? Bertekuk lutut dihadapan si cungkring itu? Lo kan pacar gwe" ujarnya sambil menarik badan Gera dan memeluknya "Gwe sayang sama lo" tambahnya lagi. 
  Disaat itulah Alen kembali marah sama Gera dan alangkah indahnya untuk siapa saja yang melihat kejadian itu, ALEN MENJAMBAK RAMBUT KEYSA dengan geram, lalu menampar Gera dengan nafsu. Ya sampai saat ini ia masih ingat dengan kejadian itu. Sungguh memalukan, umpatnya dalam hati. 
    "Tuhkan bukannya makan malah bengong!" seru Jo sambil duduk disebelah adiknya "Dasar tukang cari alasan aneh" tambahnya lagi. 
    "Apasih ka? Aku engga nafsu tau engga sih?! Udah sana jangan kesini, aku mau makan!!" sentak Alen sambil menimpuk Jo dengan bantal. 
    "Dih, engga ngaruh Al! Mau makan sih makan aja, sengsara banget kayanya" tandas Jo, membalas timpukan Alen. 
  Alen mendelik dan menyuapkan makanan ke mulutnya dengan penuh amarah, membuat hidungnya kembang kempis dan alhasil menciptakan tawa cekikikan dari pemilik mulut disebelahnya. "Apa ketawa-ketawa? Engga lucu tau!!" sentak Alen, kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
    "Makannya biasa aja kali, hidung kamu kembang kempis tuh! Hahahahaaaa ..." 
    "Kak Jooooo!!" teriak Alen sambil melotot ke arah kakaknya dan mengangkat garpu dihadapan Jo. "Mau aku gigit??" tawarnya. 
  Jo menggeleng sambil menahan tawanya "Engga perlu, nanti kakak rabies lagi!" jawab Jo sambil berlari meninggalkan Alen yang masih menatapnya dengan kesal. 
    "Ada apa ribut-ribut?" tanya ayah ketika ia melihat Alen mengacung-acungkan garpu. 
    "Itutuh kak Jo ngeselin terus yah!" jawab Alen kembali duduk dan menyuapkan makanannya kembali. 
    "Abiis makanannya dari tadi belum abis yaaah!!" teriak Jo dari lantai atas. 
  Ayah melihat ke arah Alen dengan tajam "Kenapa belum abis Al?" tanyanya tajam. Pertanyaan itu membuat Alen tersenyum kecil. Watak ayahnya yang keras beda dengan almarhumah ibunya yang lembut. Akhirnya ia menggeleng dan berjalan ke dapur. 
    "Alen diet!" serunya ketika telah kembali dari dapur lalu memasuki kamar dan mengkuncinya. Disaat itu pula ia menggapai photo ibunya dan menatapnya dengan sedih, dan meluncurlah buliran air mata kehilangan dari pelupuk matanya. Andai ibu masih disini, andai ibu disisiku, andai ibu masih bersamaku, bu Alen kangen sama ibu, kenapa kita harus dipisahkan bu? Alen sayang ibu, engga ada yang bisa gantiin posisi ibu di hati Alen, Alen tetep sayang dan cinta sama ibu. Bu, Ibu tau engga? Alen tuh bener-bener ngebutuhin ibu, disaat Alen lagi nangis engga ada yang duduk di samping Alen dan mengatakan kata-kata menyejukan hati, disaat Alen engga mau makan, engga ada yang mau nyuapin Alen, yang ada Alen malah digodain dan ditanya dengan nada tajam sama ayah! Bu, ibu kapan kita ketemu lagi? Kapan bu? lirihnya dalam hati. 
  Ia membuka pintu kaca dan berjalan ke balkon kamarnya. Photo itu masih ia genggam dan air mata masih meluncur dari matanya. Tatapannya hampa, ia terus mengingat kenangan indah yang terukir bersama ibunya. Ia terus menerus menggumamkan kata "Ibu" dan sesekali mencium photo ibunya. 

*to be continue