Sabtu, 16 April 2011

Land Life - cerbung eps.2 part #1

  Sinar matahari pagi masuk ke setiap celah yang ada dikamarnya. Ia menggeliat dan mengerjapkan matanya. "Huaahhh ... Hatciwhwhhh" kuman-kuman keluar dari lubang hidung dan mulutnya. Ia segera beranjak ke kamar mandi. Matanya masih sedikit sembab, akibat tangisannya sewaktu malam. Ia melangkah masuk ke kamar mandi, mengisi bathtub dengan air dan berendam dan ritual mandi lainnya. Selagi berendam, ia menyalakan music dari iPod dan bergemalah suara Anne Muray menyanyikan lagu That's the way it goes. Ia begitu asyik didalam bathtub nya tanpa menyadari jam telah menunjukan pukul 06.30 (!)
  Hampir 20 menit ia habiskan di kamar mandi bersama bathtub kesayangannya, dan setelah itu, ia kembali menginjakan kakinya di kamar. Ia masih menyenandungkan lirik-lirik music tadi tanpa menyadari hal itu (benda mati berbentuk kepala boneka Mickey Mouse yang menunjukan pukul 06.52). Ia mulai memakai seragam putih abu nya dan mengkuncir rambutnya, dan pada saat itu ... "Duk ... duk ... duk ..!!" pintu kamar di gedor dengan kencang. Ia mengernyitkan dahi dan berjalan dengan kesal, membukakan pintu kamar setengah hati.
    "Apa?!" tanyanya ketus ketika melihat siapa yang menggedor-gedor pintu kamarnya.
  Jo mengetuk-ngetukan tangannya tepat di atas jam tangan Rolex nya. Alen melihatnya tak mengerti, sama sekali tak mengerti dengan isyarat itu "Apaansih?" tanyanya lagi sambil membalikan tubuh hendak mengambil shoulder bag nya.
    "JAM!!" sentak Jo, menghentak-hentakkan kakinya jengkel karena hampir 5 kali menggedor pintu kamar engga ada jawaban sama sekali. Nyaris saja dia mendobrak pintu kamar itu lagi, seperti yang dilakukan ayahnya 6 bulan yang lalu.
    "Jam? Oh jam kakak rusak? Rusak aja koq curhat sih? Tuh kalau mau liat jam!" seru Alen calm sambil menunjuk jam dinding di kamarnya dan beberapa detik kemudian, ia merasakan hal aneh dan kembali melihat jam di dindingnya dan ... "Wwaaaaaaaa!! Jam 7 lebih!!" teriaknya gusar seraya menjinjing sepatu Black Adidas nya "Kenapa ga bilang dari tadi sih?!" sembur Alen, menuruni tangga, menuju meja makan dan mencomot satu roti selai coklat dan menyumpalkannya di mulut.
    "Jorok!!" tukas Jo ketika Alen telah memasuki mobilnya.
  Alen hanya mendelik tak peduli dan segera memakai sepatunya -masih dengan roti yang menyumpal di mulutnya *basah*- Selesai memakai sepatu, ia segera menghabiskan rotinya yang sebagian telah basah dengan air liurnya. Toh dia fikir engga apa-apa, lagian ludah sendiri. Hiyeeek ..
  Didalam mobil BMW itu hanya terdengar suara Celine Dion yang mendayu, merayu-rayu. Namun mereka berdua tak berminat dan tak tertarik, hanya saja suara itu melengkapi kesunyian di dalam mobil. Mereka berdua berkutat dengan fikirannya sendiri. Mungkin salah satu fikiran mereka yang sama adalah bagaimana nasib mereka sampai di sekolah, dan selebihnya Alen memikirkan PR Biology nya yang belum dikerjain dan Jo memikirkan Praktikum Kimia untuk jam pelajaran 1 - 4 "Gara-gara kamu kita jadi telat!" seru Jo tanpa memalingkan pandangannya dari jalan.
    "Kenapa engga ketuk pintu? Kenapa engga ngebangunin aja? Kenapa engga teriak-teriak?" tanya Alen kesal.
    "Hiih! Kamu lupa apa? Pintu kamar kamu kan kedap suara, percuma mau teriak-teriak sampe 30 tahun juga, mau anjing melonglong sampe dia mati juga engga akan kedengeran! Lagian pintu kamarnya di kunci! Gimana mau ngebangunin hah?!" jawab Jo panjang lebar.
  Alen tertegun sejenak, bener juga ya! Pintu kedap suara terus dikunci pula dan intinya sih aku kelamaan di bathtub!, batinnya. "Ya maaf!"
  Jo hanya mendelik kesal dan beberapa saat kemudian mobilnya berhenti tepat di depan gerbang sebuah sekolah SMA bertaraf Internasional. Pa satpam berkumis bajang (tebal dan panjang) menghampiri mobil itu dengan geram "Heh kalian tidak lihat ini jam berapa? Kalian tidak tau sekolah ini masuk jam berapa? Tau peraturan disini kan? Sebagai seorang siswa yang baik kalian harus datang tepat waktu! Seenaknya aja datang ke sekolah!!" serunya berapi-api, membuat kumis itu bergerak-gerak kesana kemari, mengikuti gerakan bibir yang monyong ke arah sana ke arah sini.
    "Sorry deh pa! Ininih adik saya sakit, terus maksa pengen sekolah, jadi aja saya harus nungguin dia! Bapa tau kan ayah saya kaya gimana orangnya? Kalau aja ayah saya engga nyuruh saya nungguin dia, pasti saya juga udah datang tepat waktu pa! Masa bapa engga tau saya? Saya udah sekolah disini hampir 3 taun loh pa! Saya baru ngelanggar sekarang koq!" kilah Jo, tidak kalah berapi-api dan tentunya melayangkan tatapan tajam.
    "Tidak bisa! Sekali kesiangan tetep kesiangan!" sentak Pa Kumis itu.
    "Pa! Coba bapa bayangin, anak bapa jauh-jauh terus berusaha biar engga kesiangan, terus berusaha buat menuruti kemauan orang tuanya dan bersemangat untuk belajar! Dan bapa harus tau, saya ini harus mengikuti praktikum kimia pa! Dari jam ke 1 sampai ke 4! Bapa mau anak bapa juga kaya gitu?!" seru Jo tak sabar, telah tergambar dibenaknya wajah Bu Jena yang siap melontarkan berbagai pertanyaan.
  Pa satpam itu menimbang-nimbang sejenak dan menatap Jo penuh makna "Ya sudah, kalian saya maafkan, lain kali jangan sampai terlambat lagi!!" sengitnya lalu berbalik hendak membukakan pagar.
  Alen terlihat senang, namun beberapa saat kemudian murung kembali ketika ia ingat dengan PR Biologinya untuk jam ke 3 dan 4. Jo langsung menancap gas dan menuju tempat parkir siswa. Sejurus kemudian, Alen berlari-lari sambil menyeret-nyeret shoulder bag nya. Begitupun Jo, ia langsung berlari menuju ruang praktikum.
*** 

    "Selamat Pagi Bu" sapa Alen gugup ketika melihat mata Bu Sonya yang tajam tengah menatap ke arahnya. "Boleh saya masuk bu?" tanya Alen ragu. 
  Bu Sonya melangkah ke pintu dan Braaak!! Pintu ditutup. Teganya ... Ketika Alen hendak berbalik meninggalkan kelas, pintu terbuka dan menyembul kepala guru sejarah itu "Tunggu di luar sampai pelajaran saya selesai! Saya tak mau menerima murid yang kesiangan" tukasnya dan pintu kembali di tutup dengan bantingan yang kuat. Dasar guru ileng (istilah Alen mencela guru yang aneh), gumamnya dalam hati dan segera berjalan gontai ke arah kantin. 
    "Mbok! Jus apa aja satu!" seru Alen sambil membantingkan tas nya di meja. 
    "Njeh non! Kenapa ndak masuk kelas toh?" tanya Mbok Sarinem, penjual makanan di kantin.
  Alen menggeleng pelan "Guru sableng tuh! Padahal masukin aja apa susahnya sih!" tukas Alen, kini ia memilin-milin tisu di hadapannya "Mbok! Kenapa ya guru disini pada garang-garang? Engga ada baiknya gitu?" tanya Alen asal, tak peduli jika ada yang mendengar pendapatnya. 
    "Mbok juga ndak tau non, udah dari sananya begitu mungkin, habis si mbok jarang sekali ketemu guru-guru disini, pan si mbok cuma ketemunya sama non - non cantik dan aden - aden yang ganteng" jawab Mbok Sar sedikit mengencangkan suaranya. 
  Alen tertawa kecil "Coba kalau mbok jadi guru, mbok mau kaya gimana?" tanya Alen lagi, kini hatinya mulai tertata rapih lagi. 
  Mbok Sar membawa jus apa aja (jus melon sih yang dibawain) ke meja Alen dan duduk di hadapannya "Kalau si mbok jadi guru, si mbok engga mau marah-marain anak-anak, terus si mbok ndak bakalan kasih PR yang banyak-banyak, tapi kalo anaknya ngelunjak mau si mbok suruh jadi pelayan dan ngelayanin semua siswa disini" jawabnya bersemangat. 
    "Haha, aku setuju tuh mbok! Kalau gurunya kaya begitu aku betah lama-lama dikelas mbok! Terus kalau si mbok jadi guru mau pakai baju kaya guru-guru disini?" tanya Alen lagi. 
    "Ndak ah non! Si Mbok mau pake kebaya aja, biar keliatan cinta budaya begitu non, habis anak-anak jaman sekarang itu banyak yang ngelupain budaya sendiri non! Itutuh non, anak jaman sekarang itu sukanya pake apa tuh namanya tangtang? eh apa sih non?" tanyanya kebingungan.
    "Tank Top mbok" jawab Alen sambil mengulum senyumnya. 
    "Ia itu non, Tank Top, masya Allah, anak si mbok juga pengen beli yang kaya begituan non, tapi sama si mbok ndak di idzinin, wong ndeso begitu mau pake tank top, masing kalau kulitnya putih, lha ini? item" lanjut Mbok Sar. 
    "Jangan begitu loh mbok, masa sama anak sendiri kaya begitu" ujar Alen sambil meminum jus melon nya.
    "Ia juga sih non, tapi emang kenyataannya kaya begitu koq. Oya non, si mbok boleh nanya sesuatu?" tanyanya. 
  Alen mengangguk mantap dan tersenyum "Non tinggal sama siapa toh dirumah?"
    "Kak Jo dan ayah, memangnya kenapa mbok?" tanya Alen heran. 
    "Ndak, si mbok cuma nanya, memangnya ibu non kemana?" 
  Alen menatap Mbok Sar hampa. Setiap mendengar kata "Ibu" hatinya terasa teriris-iris, perih, sakit, namun ia sadar bukan saatnya meluncurkan buliran air mata, di depannya ada wanita separuh baya yang menanti jawabannya. Ia menghela nafas dan tersenyum tipis "Ibu saya sudah meninggal 6 bulan yang lalu mbok" lirihnya. 
  Mbok Sar nampak kaget dan menyimpang telapak tangannya di mulut "Maafin si mbok yah non, si mbok ndak tau" ujarnya. 
  Alen tersenyum dan menggeleng "Engga apa-apa koq mbok"
    "Ya sudah non, si mbok mau ke belakang lagi, maafin si mbok ya non" pamitnya sambil berjalan kembali ke counter makanannya. Alen kembali tersenyum tipis, menahan perih yang ia rasa. Perih yang hampir setengah tahun belum pernah hilang. 
***

    "Alen! Lo engga salah? Kenapa engga bisa ngerjain PR Biology? Untung aja tadi Bu Jody engga masuk, kalau masuk matilah kau!" seru Hermina. 
    "Aduh Mimin! Gwe kan lupa!" seru Alen sambil menyenggol tangannya "Lagian lo engga usah hebring begitulah, si Asya mana?"
    "Biasa, perpus! Oia, gimana tuh sama si Gera? Udah baikan lagi sama lo?" tanya Hermina sambil mengunyah permen Yuppy. 
  Alen mengangkat bahu seolah tak berminat dan apakah ini kebetulan? Disaat yang bersamaan datanglah Gera bersama sekawanan The Prince lainnya. Rambut mereka tersapu angin, seakan-akan sinetron deh. Alen menatapnya dengan nanar dan membuka snack potato nya. 
    "Alena, lo masih marah sama gwe?" tanya Gera sambil duduk disebelah Alen. 
  Alen bergeser menjauh darinya "Min ke kantin yu, haus nih!" seru Alen sambil beranjak dari tempat duduknya, ketika itu juga Gera menarik tangan Alen "Aduuh ini tangan siapa ya Min?" lanjut Alen sambil melepaskan tangan Gera. 
    "Al, sampe kapan lo terus kaya gini? Gwe udah minta maaf sama lo Al!" seru Gera kembali menggenggam tangan Alena. Sedangkan si mpunya tangan menatap dengan tajam, snack yang dimakannya tadi sengaja ia jatuhkan ke lantai. Membuat Hermina memungutnya.
    "Terus mau lo apa? Mau PUTUS?" tanya Alena tajam "Denger ya Ger! Gwe memang egois, gwe memang manja, gwe memang sensitif, tapi selama ini lo engga pernah ngerti semua itu! Yang lo mau tuh cuma bikin gwe seperti yang lo mau, itukan?! Gwe bukan boneka lo Ger! Kalau si Kesya mungkin mau, tapi gwe engga! Gwe kasian juga sama lo, dan tentunya lebih kasian sama diri gwe, so daripada hubungan kita GANTUNG better enough to get here. Hidup masing-masing aja!" lanjutnya panjang lebar dan melepaskan genggaman Gera dengan kasar dan berlalu meninggalkan Gera.
    "Alena! Gwe minta maaf atas kelakuan gwe sama lo! Gwe tau gwe salah, gwe engga pernah bisa ngertiin lo dan emang sadar engga sadar gwe udah jadiin lo boneka gwe! Gwe minta maaf Al! I still love you, please give me a second chance!" teriak Gera, ia benar-benar tidak memperdulikan sekerumunan fans nya yang memerhatikan ia dengan penuh rasa prihatin.
  Alen membalikan tubuhnya "WILL NEVER!" serunya dan kembali berjalan menyusuri lorong kelas 10 yang sesak dengan sejumlah gender. Ia tau keputusannya ini gegabah, tapi di sisi lain ia telah lelah menjadi boneka untuk Gera. Di hatinya masih membekas rasa sayang terhadap Gera, buliran air mata menggenang di pelupuk matanya. Tahan Al tahan, lo engga boleh nangis disini!, batinnya dalam hati.
  Ketika ia hendak berbelok ke arah kamar mandi, ia bertemu dengan Jo "Kenapa?" tanya Jo sambil mendekati adiknya dengan perasaan yang menerka-nerka "Putus?" tanyanya lagi.
  Alen hanya memandang, namun kini tatapannya bukan tatapan tajam, melainkan tatapan hampa dan rapuh. Ia tak bisa menyembunyikan tatapan itu dan akhirnya mengangguk lemas "Baru aja" lirihnya sambil memeluk Jo dan menumpahkan semua buliran air mata yang sedari tadi di tahannya.
    "Don't cry, what you don't feel ashamed?" tanyanya sambil melepaskan pelukan Alen "Listen to me, cowo di dunia ini ga cuma Gera aja, ok, sekarang kaka tanya siapa yang putusin duluan?"
    "Alen" jawabnya lirih, enggan menatap wajah kakaknya.
  Jo menggelengkan kepalanya "Terus kalau kamu yang putusin kenapa kamu nangis? Fikir 2 kali makanya" tukas Jo sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi adik kesayangannya itu "Ini sekolah, kamu engga usah nangis kaya begini, malu tau! Kalau mau nangis di rumah aja" sambungnya lagi.
  Kini Alen menatap Jo penuh arti dan kembali menunduk "Whether i will regret?" tanyanya lirih, menggigit ujung bibirnya, menahan perih di hati.
    "Don't let happen, because it's your decision" jawab Jo sambil mengacak rambut Alen pelan "Udahlah, jangan hanya karna putus jadi begini, traktir deh sama kakak" lanjut Jo.
  Alen masih menundukan kepalanya, ia tau sebentar lagi dia akan menyesal, tetapi ia mencoba menerimanya karena memang benar apa yang Jo katakan, itu semua keputusan Alen dan jangan sampai menyesalinya. Akhirnya Alen mengikuti Jo ke kantin dengan wajah yang di buat-buat calm, mencoba menyembunyikan kesedihannya.

*to be continue  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar