Jumat, 15 April 2011

Land Life - cerbung eps.1 part #1

when the bitterness is coming ... 


  Malam yang sepi ketika ia sadari seorang makhluk mulia yang bernama Ibu telah pergi meninggalkannya, meninggalkan untuk selamanya. Terlihat buliran air mata keluar dari pelupuk matanya. "Ibu" gumaman itu terus ia keluarkan. Hampir 5 hari ia mengurung diri di kamar, ia hanya ingin menyendiri, menyelami dunia lain bersama bayangan ibunya. Sampai suatu hari, pintu kamar itu di dobrak dan ia - AYAH - mendapati anaknya lemas tak berdaya. Wajahnya pucat seperti mayat, tubuhnya kurus kering dan ia masih menggumamkan kata "Ibu"
  
***

    "Alena?" panggil seseorang dibelakangnya. Ia menoleh dan tersenyum dan berjalan menghampiri lalu memeluknya "Udah makan?" tanyanya lagi. 
    "Belum yah, Alen nungguin ayah pulang" jawabnya sambil melepaskan pelukannya. 
  Ayahnya tersenyum dan mencium kening anaknya "Yaudah, ayo sekarang makan bareng ayah" ujarnya sambil menuntun anak perempuannya menuju ruang makan "Ayah kira kamu udah makan, oia kakakmu kemana?" tanyanya sambil membalikan piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauk pauk. 
  Alen mengernyitkan dahinya "kak Jo belum pulang kalau engga salah, soalnya dari tadi Alen diem di kamar" jawabnya. 
  Panjang umur, baru aja diomongin orang itu baru masuk ke ruang makan dengan piama hitamnya "Cari aku ya?" tanyanya riang sambil duduk di sebelah Alen "Kakak udah pulang dari tadi koq Al, kakak langsung tidur" sambungnya lagi.
    "Ayah kira kamu belum datang Jo!" gumamnya sambil menatap anak laki-lakinya dengan garang. 
    "Biasa aja dong yah, engga mungkin Jo pulang selarut ini" tukas Jo sambil tertawa "Al, tadi pagi kakak ketemu sama Gera, kamu lagi marahan sama dia?" tanyanya. 
  Ketika ia mendengar itu, ia menatap kakaknya dengan tajam "Ya" jawabnya ketus "Bisa engga kak jangan ngomongin masalah Gera disini?" tanyanya tajam. 
    "Ia ia sorry sorry, gitu aja koq marah sih" tukas Jo sambil melahap makanannya. Alen mengerutkan bibirnya. 
    "Yang bener makannya Al" ujar ayahnya "Makan kalau sambil manyun begitu engga akan jadi daging, kapan badan kamu gede?" tambahnya. 
  Alen hanya menghela nafas dan membawa piringnya ke ruang TV "Alen mau makan sambil nonton TV aja, biar gendut" tukasnya dan berlalu. Ayahnya menggeleng-gelengkan kepala, aneh dengan sikap anak bungsunya.   
    "Engga ngaruh Al" teriak Jo dan kembali melahap makanannya. 
  Alen berjalan dengan gontai ke ruang TV. Ia duduk bersila dan menyalakan TV. Sebenarnya dia engga nafsu lagi buat makan, karna ingat masalahnya dengan Gera -pacarnya- yaah maklumi saja, namanya juga orang pacaran pasti banyak cang cing cong nya, maksudnya masalah. Alen memergoki Gera lagi memeluk seorang perempuan yang ia tau, itu adalah Kesya, MUSUH BEBUYUTANNYA. Coba aja kalian bayangin, pacar kalian selingkuh sama musuh? WOW kebayangkan sakitnya? Nah begitupula dengan Alen. Hampir 2 minggu dia engga marah sama Gera. Sekalipun Gera ngejemput ke rumahnya, nungguin dia di depan kelas, ngikutin dia ke kantin, tetep aja Alen engga ngelirik ke arahnya. Dia sengaja berbuat seperti itu karena ingin memberikan balasan setimpal dari apa yang Gera lakukan, bisa dibilang sih namanya Gantung. Ya, Alen melakukan itu. Sebenarnya, waktu Gera lagi ngejelasin apa yang terjadi hati Alen udah mulai full nice, tapi pas ketika Alen mau bilang "Ya gwe maafin lo" datanglah Keysa dengan wajah centilnya. 
    "Gera, lo apa-apaansih? Bertekuk lutut dihadapan si cungkring itu? Lo kan pacar gwe" ujarnya sambil menarik badan Gera dan memeluknya "Gwe sayang sama lo" tambahnya lagi. 
  Disaat itulah Alen kembali marah sama Gera dan alangkah indahnya untuk siapa saja yang melihat kejadian itu, ALEN MENJAMBAK RAMBUT KEYSA dengan geram, lalu menampar Gera dengan nafsu. Ya sampai saat ini ia masih ingat dengan kejadian itu. Sungguh memalukan, umpatnya dalam hati. 
    "Tuhkan bukannya makan malah bengong!" seru Jo sambil duduk disebelah adiknya "Dasar tukang cari alasan aneh" tambahnya lagi. 
    "Apasih ka? Aku engga nafsu tau engga sih?! Udah sana jangan kesini, aku mau makan!!" sentak Alen sambil menimpuk Jo dengan bantal. 
    "Dih, engga ngaruh Al! Mau makan sih makan aja, sengsara banget kayanya" tandas Jo, membalas timpukan Alen. 
  Alen mendelik dan menyuapkan makanan ke mulutnya dengan penuh amarah, membuat hidungnya kembang kempis dan alhasil menciptakan tawa cekikikan dari pemilik mulut disebelahnya. "Apa ketawa-ketawa? Engga lucu tau!!" sentak Alen, kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
    "Makannya biasa aja kali, hidung kamu kembang kempis tuh! Hahahahaaaa ..." 
    "Kak Jooooo!!" teriak Alen sambil melotot ke arah kakaknya dan mengangkat garpu dihadapan Jo. "Mau aku gigit??" tawarnya. 
  Jo menggeleng sambil menahan tawanya "Engga perlu, nanti kakak rabies lagi!" jawab Jo sambil berlari meninggalkan Alen yang masih menatapnya dengan kesal. 
    "Ada apa ribut-ribut?" tanya ayah ketika ia melihat Alen mengacung-acungkan garpu. 
    "Itutuh kak Jo ngeselin terus yah!" jawab Alen kembali duduk dan menyuapkan makanannya kembali. 
    "Abiis makanannya dari tadi belum abis yaaah!!" teriak Jo dari lantai atas. 
  Ayah melihat ke arah Alen dengan tajam "Kenapa belum abis Al?" tanyanya tajam. Pertanyaan itu membuat Alen tersenyum kecil. Watak ayahnya yang keras beda dengan almarhumah ibunya yang lembut. Akhirnya ia menggeleng dan berjalan ke dapur. 
    "Alen diet!" serunya ketika telah kembali dari dapur lalu memasuki kamar dan mengkuncinya. Disaat itu pula ia menggapai photo ibunya dan menatapnya dengan sedih, dan meluncurlah buliran air mata kehilangan dari pelupuk matanya. Andai ibu masih disini, andai ibu disisiku, andai ibu masih bersamaku, bu Alen kangen sama ibu, kenapa kita harus dipisahkan bu? Alen sayang ibu, engga ada yang bisa gantiin posisi ibu di hati Alen, Alen tetep sayang dan cinta sama ibu. Bu, Ibu tau engga? Alen tuh bener-bener ngebutuhin ibu, disaat Alen lagi nangis engga ada yang duduk di samping Alen dan mengatakan kata-kata menyejukan hati, disaat Alen engga mau makan, engga ada yang mau nyuapin Alen, yang ada Alen malah digodain dan ditanya dengan nada tajam sama ayah! Bu, ibu kapan kita ketemu lagi? Kapan bu? lirihnya dalam hati. 
  Ia membuka pintu kaca dan berjalan ke balkon kamarnya. Photo itu masih ia genggam dan air mata masih meluncur dari matanya. Tatapannya hampa, ia terus mengingat kenangan indah yang terukir bersama ibunya. Ia terus menerus menggumamkan kata "Ibu" dan sesekali mencium photo ibunya. 

*to be continue 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar