Selasa, 10 Juli 2012

(ʃ⌣ƪ) dengerin aku

hari ini aku lagi engga ada kerjaan, yaa iseng-iseng aja nulis, bacaaa yaa :)

  Sampai saat ini aku masih merasa engga percaya kalau aku ini sanriwati, mungkin mama papa dan yang lainnya bangga, aku juga, tapi Allah tau di hati ini, tak perlu aku ucapkan, hanya akan membuat miris. Hari-hari ku lewati bersama teman-teman disana, suka, sedih, senang kami rasakan bersama, tapi selalu terbersit difikiran dan hatiku "sedang apa kalian? andai aku dapat berbagi kebahagiaan dan kesedihan ini bersama kalian" ucapku dalam hati, angin malam berhembus bersama harapan-harapan kosong, harapan yang tak mungkin terjadi, harapan yang hanya sekedar harapan. kalian tau? ketika aku menangis, siapa yang pertama kali aku ingat? KALIAN. Kalian tau, sekelebat memori begitu sering melintas di otakku, saat itu, saat bersama kalian, hatiku ragu akankah kita bisa mengulanginya kembali. Rasanya rindu ketika membaca deretan nama kalian dibuku harianku, ingin sekali pulang, mengulang semua yang telah terjadi :')
  Sampai saatnya datang, saat yang aku nanti-nanti kan, liburan 50 hari yang aku tunggu, dengan semangat aku jalani ujian di Gontor sana, ujian sebelum perpulangan, motivasi belajarku adalah orang tuaku dan juga KALIAN. Disana, ketika aku berkumpul bersama teman-teman, aku ceritakan semua cerita tentang kita, kejadian yang tak akan pernah bisa aku lupakan, begitupula aku ucapkan keinginanku untuk bertemu dengan kalian, bercengkrama dengan kalian, tapi aku terdiam, ketika aku berkumpul dengan kalian nanti, aku hanya akan jadi pendengar setia kisah kalian selama di SMA, asal kalian tau sebenarnya itu menusuk hati, tapi tidak apa kalian bahagia aku pun bahagia, tidak apa aku hanya mendengar, aku akan menjadi pendengar yang setia, aku tau kalian tidak bermaksud untuk menyakiti hatiku dengan kisah yang akan membuatku iri, tapi tidak apa, kalian tetaplah orang yang berharga dihidupku.
  Ketika kalian datang ke rumahku dengan menggunaka seragam yang telah aku impikan sejak Sekolah Dasar, kalian datang bersama keluh kesah kalian, kalian datang dengan senyuman lebar dan rasa rindu yang mendalam. Senyum akan selalu aku lontarkan untuk kalian, senyum yang tulus, tapi tidak aku dustai perasaan yang mengganjal didalam hati "Harusnya aku juga seperti mereka" kata-kata itu selalu muncul ketika rasa bangga menjadi santriwati. Aku cukup pecundang untuk menangis didepan kalian, aku tidak berani, aku takut kalian menganggapku terpaksa menjalani hidup disana, aku tak mau kalian menyangka seperti itu, aku tau ini jalan hidupku, setelah 3 tahun kita bersama, akhirnya aku pilih jalan yang berbeda daripada kalian. Aku tau kalian bangga padaku, aku juga bangga pada kalian, prestasi kalian. Kalian tau? Ketika aku disudutkan teman-teman disana karna kebodohanku, rasanya hidupku sempit, ingin sekali kalian hadir disisiku, ingin sekali aku berteriak "Tolong Aku!" namun teriakan itu tak terlontar, hanya sebatas teriakan hati. Aku tau aku ini memang cengeng, manja, kalian tau itu kan? Tapi teman-teman ku disana? Mereka tak peduli dengan tetesan air mata yang jatuh dari kedua mataku, menghapus pun tidak. Berat rasanya kuhadapi semua itu, tapi aku harus kuat, karna apabila nanti aku pulang ke rumah bertemu kalian, kalian tidak akan mengganggapku cengeng dan manja lagi. Aku ingin dewasa.
  Kalian tau, setiap kali aku belajar di lantai 3 Al-Azhar, tempat dimana angin malam menghembus, tempat dimana aku bisa melihat bintang-bintang dengan jelas, aku termenung, apakah kalian juga sedang belajar? apakah kalian juga tengah menatap bintang-bintang sepertiku? tanpa disadari air mata selalu mendarat di pipiku ini, sekali lagi aku teriak didalam hati bahwa aku harus menerimanya. Selama ini aku selalu mengingat kalian. Di sepertiga malam, ku kenakan mukena dan segera berjalan menuju kamar mandi, ku gelarkan sajadahku dan ku berdo'a agar kalian selalu mengingatku dan kalian akan selalu bersama dalam kebahagiaan dan juga tali kasih yang erat. Aku bertanya "Apakah kalian sudah bangun?" namun lagi-lagi pertanyaan itu hanya dibawa oleh hembusnya angin.
  Taukah kalian? Rasanya ingin menangis ketika kalian tidak menghiraukanku, tidak peduli denganku lagi, taukah kalian itu membuat semua anggota badanku melemah, apalagi ketika aku pulang, rasanya ingin sekali bertemu dengan kalian, tapi sekarang kalian sibuk dengan kegiatan kalian masing-masing, rasanya aku tak punya teman, begitupula ketika aku berkunjung ke teman kecilku dirumah, sampai disana, ternyata dia akan pergi bersama temannya, akupun tersenyum dan segera berlalu pergi dan berjalan menuju pesantren, sampai disana, ternyata teman-teman pesantren didekat rumahku telah pulang ke rumahnya masing-masing, yang tersisa hanya santriwati baru yang menurutku begitu asing, dengan kecewa aku pulang ke rumah, berharap ada pesan di handphoneku, pesan dari teman-teman lamaku yang hanya sekedar ingin tau kabarku, itu membuatku senang, karna ternyata kalian masih mengingatku.
  Teman, sebatas permintaanku, terimalah aku apa adanya, kalian begitu berharga untukku, walau hanya senyum yang kalian beri, itu cukup, karna ternyata kalian masih mengenalku. Teman, jalan kita memang berbeda, tapi tolong jangan bedakan aku ketika kalian berkumpul, aku juga sama seperti kalian, sama-sama mencari ilmu, tapi tolong janganlah kalian membuat aku menjatuhkan air mata lagi, sudah cukup air mata ini terjatuh ketika disana, ketika aku tersudutkan diantara orang-orang yang pintar, kalian adalah senyumku yang tertimbun jauh didasar hati, ayo kita tertawa bersama lagi.
  Teman dengarkan aku, AKU RINDU ..


- aku, teman lamamu -


Tidak ada komentar:

Posting Komentar